23 : Kue Kering

325 33 4
                                        

ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.

ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨

ー  Happy enjoy it!











◥◤◥◤◥◤











Naren kini tengah berada di dalam mobil Kalandra. Sejak tadi Naren hanya memperhatikan jalanan dari balik kaca mobil dengan isi kepala yang kusut.

"Ren, ponsel kamu bunyi," ucap Kalandra sembari melirik bocah itu sekilas karena sedang menyetir.

Naren langsung tergerak mengambil ponsel. Saat layar itu terbuka, satu pesan muncul dari aplikasi hijau, lalu dengan gerakan lihai jarinya membuka pesan tersebut untuk ia balas.

"Papa kamu, ya?" tanya Kalandra.

Naren menggelengkan kepalanya. "Bukan, Bang. Ini teman aku," jawabnya. "Oh ya, Bang Alan tadi udah bilang belum sama Bang Rama kalau aku pulang duluan?" Naren berbalik tanya.

"Rama? Siapa dia?" Kalandra merasakan buat bingung.

"Dia orang yang masuk ke ruang rawat aku, Bang. Bukannya Bang Alan ketemu sama dia, ya, waktu nolongin aku pingsan? Aku gak sempat pamitan sama dia, takutnya Bang Rama nanti kebingungan karena nyariin aku."

"Ren, waktu kamu pingsan gak ada orang lain selain saya," kata Kalandra.

"Mungkin Bang Alan gak lihat dia waktu di halte, kata Bang Rama juga Bang Alan buru-buru bawa aku ke mobil," balas Naren.

"Iya mungkin... Kalau gitu setelah ngantar kamu sampai rumah, biar saya yang nyampain ke dia kalau kamu udah pulang dulu."

"Iya. Makasih, ya, Bang."

Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Kalandra telah sampai di depan gerbang rumah Naren. Segera Naren turun dari dalam mobil setelah berpamitan pada Kalandra.

Rumah sederhana itu tampak terang dengan lampu di luar yang sudah menyala. Naren mengernyitkan dahinya, pikir Naren mungkin Pradipta sudah pulang. Maka dengan jantung yang berdegup kencang, Naren masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.

Saat masuk ke dalam rumah, tatapan mata Naren langsung tertuju pada ruang tamu, di sofa ruang tamu tersebut ada papanya bersama dengan seorang wanita setengah baya sedang asyik tertawa, juga di sebelah papanya ada seorang laki-laki yang sangat Naren kenali tengah duduk sambil memakan kue kering.

Mereka bertiga terlihat sangat serasi layaknya keluarga yang hidup bahagia tanpa ada kekurangan sedikit pun, seakan tak membiarkan celah untuk seseorang masuk; menerobos ke dalam keluarga mereka.

"Papa, Naren pulang..." ucap Naren, sambil berjalan ke arah mereka bertiga.

Atmosfer yang semula cerah disertai tawa yang menggema seketika canggung dan hening, hal itu membuat Naren menjadi gugup. Raut wajah Pradipta terlihat sangat serius, ada kilatan amarah yang terpantul dari netra pria itu.

"Naren udah pulang, ya ... sini ikut gabung, kita lagi berbagi cerita lucu nih." Linda mencoba mencairkan suasana. Wanita itu berjalan mendekati Naren, dengan lembut ia memeluk Naren dan menuntun bocah itu untuk duduk di samping dirinya.

Why Me? || Zhong ChenleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang