ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.
ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨
ー Happy enjoy it!
◥◤◥◤◥◤
Saat ini, Harsa sudah berada di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Al.
Al mendengus kesal. "Kenapa lo harus ke sini, sih?"
"Ya, suka-suka gue, lah! Emangnya gak boleh jengukin temen sendiri?" kata Harsa, yang saat itu sudah duduk di samping brankar Al. "Lo kenapa bisa masuk rumah sakit?" Harsa bertanya.
"Biasa." Al menjawab dengan nada acuh, laki-laki itu seperti tak mau membahas kejadian kemarin.
"Makanya, gue bilang juga apa! Lo jangan belagu pulang ke rumah deh, udah bener tinggal sama Bang Alan." Harsa mengoceh.
"Siapa juga yang mau pulang ke rumah!" Nada bicara Al terdengar ketus, ia juga merotasikan bola matanya.
"Iya deh ... eh, ngomong-ngomong lo tahu gak Naren konsul tentang apa?" Harsa kembali bertanya.
"Gak tahu. Gue cuma lihat waktu dia keluar dari ruangan Bang Alan aja," jawab Al.
Harsa sedikit berpikir, tiga detik kemudian laki-laki itu kembali bersuara. "Lo bisa ngambil data informasi di ruang kerjanya Bang Alan gak, Al?"
"Bisa aja, tapi kalau sampai ketahuan bisa-bisa gue didepak dari rumah dia! Tahu sendiri Bang Alan itu orangnya gak main-main."
Harsa menepuk pundak Al sebanyak dua kali. "Tenang aja, kalau lo didepak, gue bisa tampung! Asalkan lo mau bantu gue. Masa lo gak mau bantu teman sendiri, sih?"
"Iya, iya! Tapi gue gak janji."
"Oke, siap!"
Beralih ke Naren, bocah itu baru selesai bermain basket bersama Mara dan Idan.
"Yah ... kamu payah banget, Dan. Baru main bentar aja udah ngos-ngosan gitu, padahal kamu, kan, setim sama Naren, sementara Abang cuma sendiri," kata Mara.
"Bang Mara, kan, udah biasa main basket, jadi wajarlah! Kalau Naren, dia itu emang suka banget sama basket. Beda sama aku yang gak hobi dan gak sesuka itu." Idan berkata sembari mengambil minuman yang diberi oleh Naren.
"Kamu kayaknya harus banyak-banyak olahraga deh, Dan," cetus Naren.
"Haah ... rasanya gak ada hal yang bisa aku kuasai. Aku kagum sama Bang Mara yang jago main basket, aku juga kagum sama Naren yang pinter disemua mata pelajaran, andai aja ada satu bidang yang bisa aku kuasai." Idan tersenyum getir, tangannya terangkat untuk mengelus sudut bibirnya yang terluka.
"Jangan iri gitu, setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, Idan." Mara menyahut.
Sahutan Mara diangguki Naren."Itu bener. Aku juga kagum sama skill menggambar kamu, Dan. Apalagi imajinasi kamu itu yang ngebuat hasil gambar kamu bener-bener menarik."
Idan menghela napas. "Apa gunanya skill menggambar? Toh, itu sama sekali gak bisa buat Kakek bangga." Idan bergumam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Me? || Zhong Chenle
Teen Fiction(BROTHERSHIP + FAMILY) Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran? Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan s...
