34 : Permintaan Maaf

186 30 4
                                        

ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.

ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨

ー Happy enjoy it!

◥◤◥◤◥◤

Pelajaran telah berakhir sejak sepuluh menit yang lalu. Sedari tadi kedua mata Al sibuk mencari keberadaan seseorang.

"Dia kemana, sih?" gumamnya.

Tepat setelah bergumam, dari arah keramaian siswa muncul sosok yang sedari tadi dia tunggu.

"Itu dia!" Al turun dari atas motornya, berjalan menghampiri seseorang tersebut.

"Naren," panggil Al.

Naren yang saat itu sedang mengobrol bersama Idan pun langsung menoleh ke sumber suara. Ia sedikit terkejut melihat keberadaan Al di sampingnya.

Naren mendadak gugup, jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang tak beraturan. Isi kepalanya mulai menerka-nerka hal buruk apa yang akan dilakukan oleh Al?

"Boleh bicara sebentar?" Al bertanya.

Naren mengerutkan keningnya, bingung dengan nada bicara Al yang terdengar santai tanpa emosi. Naren hendak menjawab, namun suaranya kalah cepat oleh Idan.

"Bang Al, jangan bully Naren lagi! Kalian belum puas apa?" kata Idan. Bocah itu langsung memasang badan di hadapan Naren, berniat menjadi pelindung bagi sahabatnya.

"Gue gak akan bully dia lagi. Gue cuman minta waktu dia sebentar," balas Al.

Mendengar itu Idan langsung melirik Naren. Namun, bukannya penolakan, Naren malah mengangguk setuju. Hal ini membuat Idan melotot tak percaya.

"Naren, kamu jangan ikut dia. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Dia kan temennya Bang Harsa!" bisik Idan.

Naren menepuk pundak Idan dengan pelan. "Enggak apa-apa, di sini ada banyak orang, gak mungkin mereka terang-terangan bully aku."

Idan tak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan Naren, maka ia membiarkan Naren pergi mengikuti Al. Meski begitu, sorot mata Idan tak lepas dari gerak-gerik dari kedua orang tersebut.

"Ren, gue cuma mau bilang maaf. Selama ini gue salah, perlakuan gue ke lo emang diluar batas. Gue gak akan maksa lo buat maafin gue, tapi dengan gue ngomong kayak gini, gue harap gak ada lagi permasalahan diantara kita. Dan mulai saat ini gue gak akan ganggu lo lagi."

Setelah berucap demikian, Al pergi tanpa sepatah kata apapun lagi. Ia meninggal Naren yang terdiam sendiri. Sementara Naren, bocah itu sedang mencerna kata-kata Al.

"Dia bilang minta maaf?" gumam Naren.

ー 🐬 ー

Beberapa hari yang lalu.

"Mana, sih, chargernya? Katanya di atas meja kerja, tapi gak ada tuh gue lihat-lihat." Al menggerutu. Raut wajahnya terlihat kesal karena benda yang ia cari tak kunjung temu.

Tangan Al bergerak ke arah laci di bawah meja kerja Kalandra. Terlihat ada banyak berkas-berkas di sana, namun ia sama sekali tak menghiraukannya, fokusnya hanya pada charger milik Kalandra.

Ketika Al hendak memindahkan kumpulan berkas tersebut, matanya tak sengaja melihat ke arah tulisan di salah satu berkas itu.

RIWAYAT DAN BIODATA NARENDRA AFTAKALA RAZI

Tulisan itu bercetak tebal. Rasa penasaran muncul dalam benak Al, tapi ia juga ingat beberapa hari yang lalu dia dihukum karena terlalu penasaran dengan riwayat penyakit Naren.

"Baca gak, ya?" Hatinya bimbang. Namun, beberapa saat kemudian Al membuka berkas itu. "Toh, gue juga gak bakal cepu ke Harsa," ucapnya.

Mata Al mulai melihat isi berkas itu, beberapa detik terasa biasa saja, tapi ketika matanya beralih pada lembar selanjutnya, Al mulai shock. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.

"Jadi selama ini dia ... punya penyakit mental?" Al buru-buru kembali memasukan berkas tersebut ke dalam laci. Laki-laki itu berusaha agar terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Bodoh! Gue bener-bener bodoh! Harusnya gue cegah ide Harsa. Bang Alan pasti bakal marah banget sama gue kalau tahu kelakuan gue selama ini ke Naren." Al merutuki dirinya sendiri.

Hal ini membuat hati Al terketuk untuk meminta maaf pada Naren. Sebab, ia tahu seperti apa rasanya mempunyai penyakit mental, karena dia sendiri pun pernah merasakannya.

ー 🐬 ー

Naren duduk di bangku taman kota untuk sekadar menikmati pemandangan hijau yang menyejukkan hati. Naren mendongakkan kepalanya ke atasーmenatap hamparan langit biru yang perlahan mulai berubah ke jingga, sudut bibirnya terangkat, lalu mulutnya mulai bergumam sesuatu.

"Bunda apa kabar di sana?"

Naren memejamkan mata, membiarkan angin sore membelai wajahnya yang halus, sampai tak terasa sudut mata Naren berair.

Dua tepukan pelan mendarat di bahu kiri Naren, hal itu membuat Naren tersadar kembali dan membuka mata dan menengok ke samping.

Di sana sudah ada Rama yang tersenyum manis.

"Haloo ... kita ketemu lagi, ya?" kata Rama.

"Bang Rama? Kok bisa ada di sini?" tanya Naren.

"Enggak tahu. Mungkin udah takdir kali," celetuk Rama, sedikit di iringi tawa ringan. "Kamu kenapa ada di sini? Lagi sedih ya? Ada yang ganggu kamu?" tanya Rama.

Naren menggelengkan kepala. "Enggak, kok."

Mendengar itu Rama memicingkan mata, kemudian tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata dari sudut mata Naren. "Ini buktinya."

"Beneran gak ada, Bang. Aku cuman lagi kangen sama Bunda aja."

Rama menganggukkan kepala. "Oh, kirain ada yang ganggu kamu. Kalau lagi kangen Bunda aku gak mau ganggu deh, tapi kalau ada yang ganggu kamu, bilang aja sama aku, nanti ku hajar dia!" kata Rama, sembari mengenalkan tangannya.

Naren sedikit tertawa. "Bener ya, Bang? Abang harus belain aku!"

"Iya bener."










ー TBC ー







ー Yuhuuuu.... Absen lagi yang kangen sama Naren, atau kangen sama aku? Hehe... ( ꜆⌯' '⌯)꜆ 💛










©hwanaa / yellowna_ | Part 34 | Published, 26 Feb 2026| Silakan vote dan follow jika kalian menyukai cerita ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 26 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Why Me? || Zhong ChenleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang