(BROTHERSHIP + FAMILY)
Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran?
Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan s...
Mara yang baru menyadari kedatangan Naren pun langsung menghentikan aktivitasnya. "Idan belum datang, izin telat katanya. Gimana kalau kita berdua aja yang main duluan? Abang bosan banget, nih," jawabnya.
"Oke, ayo Bang!"
Lalu, keduanya langsung berjalan ke dalam lapangan basket. Suasana yang sepi serta hari yang cerah membuat mood Naren semakin meningkat. Mara memberikan kesempatan untuk Naren yang memulai permainan lebih dulu. Naren setuju, bocah itu langsung melakukan dribbling.
Mara mencoba merebut bola tersebut dari tangan Naren, namun, tak semudah itu untuk merebutnya, sebab, Mara sedikit kesusahan karena gerakan Naren yang begitu lincah.
"Harga diri Abang sebagai kapten basket sedang dipertaruhkan," cetus Mara.
Naren sedikit tertawa. "Coba rebut bolanya, Bang ... tapi kalau bisa, sih." Naren sedikit menggoda Mara.
"Waah ... Abang baru tahu sisi lain kamu, Ren." Mara mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Sayangkan kalau tantangan gak diterima."
Kemudian, Mara kembali mencoba merebut bola basket dari Naren, beruntungnya kali ini bola itu berhasil ia dapatkan. Mara bersorak dalam hati. Laki-laki itu langsung memasukkan bola tersebut ke dalam jaring.
Satu point tercetak untuk Mara.
"Gimana? Udah panas belum, Ren?" Mara menaik turunkan alisnya.
"Ya, sedikit Bang," balasnya, diselipi tawa pelan.
Permainan kembali berlanjut, hingga skor point keduanya mencapai sepuluh sama. Saat Naren hendak mencetak point lagi, suara Idan yang berteriak menghentikan aktivitas Naren. Kedua orang itu sama-sama menoleh ke luar lapangan.