29 : Titik Awal Masalah

372 38 7
                                        

ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.

ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨

ー Happy enjoy it!




◥◤◥◤◥◤



Di perjalanannya kembali ke rumah, Naren mendapat satu notif pesan dari Idan. Segera ia membuka room chatnya dengan Idan.

Chat itu terus berlanjut, hingga seperkian detik kemudian, Naren menutup obrolannya dengan Idan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chat itu terus berlanjut, hingga seperkian detik kemudian, Naren menutup obrolannya dengan Idan.

"Pak, ubah arah tujuan, ya? Ke alun-alun aja." Naren berucap pada supir taxi. Sang supir meresponnya dengan anggukkan kepala.

Hingga ketika Naren tiba di tempat tujuan, sudah ada Mara yang tengah duduk di kursi penonton basket, laki-laki itu rupanya sedang bermain game.

"Bang Mara, Idan mana?" tanya Naren, sembari mendudukkan tubuhnya di samping Mara.

Mara yang baru menyadari kedatangan Naren pun langsung menghentikan aktivitasnya. "Idan belum datang, izin telat katanya. Gimana kalau kita berdua aja yang main duluan? Abang bosan banget, nih," jawabnya.

"Oke, ayo Bang!"

Lalu, keduanya langsung berjalan ke dalam lapangan basket. Suasana yang sepi serta hari yang cerah membuat mood Naren semakin meningkat. Mara memberikan kesempatan untuk Naren yang memulai permainan lebih dulu. Naren setuju, bocah itu langsung melakukan dribbling.

Mara mencoba merebut bola tersebut dari tangan Naren, namun, tak semudah itu untuk merebutnya, sebab, Mara sedikit kesusahan karena gerakan Naren yang begitu lincah.

"Harga diri Abang sebagai kapten basket sedang dipertaruhkan," cetus Mara.

Naren sedikit tertawa. "Coba rebut bolanya, Bang ... tapi kalau bisa, sih." Naren sedikit menggoda Mara.

"Waah ... Abang baru tahu sisi lain kamu, Ren." Mara mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Sayangkan kalau tantangan gak diterima."

Kemudian, Mara kembali mencoba merebut bola basket dari Naren, beruntungnya kali ini bola itu berhasil ia dapatkan. Mara bersorak dalam hati. Laki-laki itu langsung memasukkan bola tersebut ke dalam jaring.

Satu point tercetak untuk Mara.

"Gimana? Udah panas belum, Ren?" Mara menaik turunkan alisnya.

"Ya, sedikit Bang," balasnya, diselipi tawa pelan.

Permainan kembali berlanjut, hingga skor point keduanya mencapai sepuluh sama. Saat Naren hendak mencetak point lagi, suara Idan yang berteriak menghentikan aktivitas Naren. Kedua orang itu sama-sama menoleh ke luar lapangan.

Why Me? || Zhong ChenleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang