Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah satu minggu sejak Kana dan teman-temannya mengalami kecelakaan. Kini, dokter mengizinkan Kana pulang. Selama seminggu itu, Kana terus terdiam. Tak ada nafsu makan, bahkan sesekali menangis saat mengenang Dina, temannya yang menjadi korban dalam kecelakaan besar itu.
Naka yang melihat Kana termenung di ranjang rumah sakit hanya bisa menghela napas. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Kayla, yang mendengar jawaban itu, langsung berjalan memasuki ruangan tempat Kana berada. Ia membawa tongkat yang digenggam dengan tangan kanan.
Kayla tersenyum saat melihat Kana menatapnya. "Hai."
Kana membalas dengan senyum tipis, namun tak menjawab sapaan Kayla.
Kayla duduk di samping Kana, mengusap lengan Kana dengan lembut. "Udah, deh. Gue sedih liat lo kayak gini," ucap Kayla dengan suara lemas.
Kana mendongak dan menatap wajah sedih Kayla. "Gak... Gue gak papa, Kay," jawab Kana, tersenyum lagi, walaupun senyumnya tampak dipaksakan.
Kayla mengangguk pelan. "Really? You are okay?"
Kana menghela napas, lalu tersenyum lemah. "Iya... Gue baik-baik aja."
"Yaudah, kalau gitu, gue bantuin lo beres-beres, ya. Kan hari ini kita pulang dari sini." Ucap Kayla sambil berdiri dan mengusap lengan Kana sekali lagi.
Akhirnya Kana membereskan barang-barangnya dengan bantuan Kayla dan Naka.
Setelah itu, Kana dan Kayla pulang, dengan Naka yang mengantar mereka. Orang tua Kana yang meminta Naka menjemput Kana karena mereka ada urusan mendadak.
Sebelum kembali ke rumah, mereka mengantar Kayla terlebih dahulu ke rumahnya, kemudian baru melanjutkan perjalanan pulang.
"Mm... Kak, kita ke makam Dina dulu, boleh gak?" Tanya Kana kepada Naka, yang hanya mengangguk sebagai jawaban.
Naka pun membelokkan mobil ke arah pemakaman di pusat kota.
Sesampainya di sana, Naka membantu Kana turun dari mobil dan memapahnya menuju makam Dina.
"Hai, Din, gue datang." Sapa Kana ke arah makam temannya.