Gala sampai rumah jam 12 malam, saat memasuki rumah, yang pertama kali gala dengar dan lihat adalah rumah yang sudah berantakan dengan adiknya yang tersudut di pinggir ruangan, sambil menangis.
Gala langsung berlari masuk dan memeluk adiknya itu dengan erat. Terdengar suara isak tangis tertahan adiknya yang mulai bergetar di pelukan gala. "Ta-kut, kak." Ucap lirih leskara di dalam dekapan hangat gala, membuat cowok itu mengerang dalam hati.
Gala sudah mengetahui apa yang terjadi jika seperti ini. Dan gala sangat marah sekarang, tapi marah juga tidak berguna, lantas gala mulai mengelus tubuh belakang leskara dengan lembut hingga terdengar dengkuran halus dari adiknya.
Setelah di rasa leskara sudah tenang, gala segera menggendongnya menuju kamar yang berada di lantai dua rumah itu dan membaringkannya di atas tempat tidur. Lalu agala kembali ke lantai bawah saat mendengar sayup sayup suara orang yang masuk.
Saat mata gala melihat kebawah, atensinya tertuju pada wanita yang berpakaian mewah layaknya wanita kaya raya yang mempunyai kekayaan fantastik. Wanita itu adalah ibu dari agala dan leskara, wanita itu sudah memasuki rumah dengan jalan yang sempoyongan.
Gala berjalan menghampiri ibu nya dan langsung di sambut tatapan menilai dari sang ibu. "Hmh, anak kurang ajar ini sudah pulang ternyata." Ucap sang ibu remeh menatapnya.
"Beresin ini semua." Ujar gala dengan nada dingin menatap ibunya yang kemudian mengangkat alisnya, "kenapa saya," balas ibunya yang bernama alexandra itu.
Gala masih menatap ibunya jengah, lalu berjalan satu langkah di depan ibunya. "Kalau mamah masih kayak gini terus, apa papah bahagia? Apa mamah gak merasa bersalah memperlakukan kara sekejam itu mah?!" Ucap gala marah. Tapi alexandra malah tertawa melihatnya.
Alexandra mengangkat tangannya, lalu dirinya menoyor kepala gala sambil berkata, "saya tidak perduli, yang saya perdulikan hanyalah uang dan uang. Harusnya kalian berdua juga pergi dari hidup saya, kalian harusnya ikut papah kalian itu, meninggal."
Ucapan Alexandra membuat hati gala terasa nyeri dan sesak, tapi gala masih enggan membalas perkataan ibunya itu, gala sudah capek, bahkan toyoran di kepalanya hanya di sambut tatapan dingin olehnya. "Aku masih hormatin mamah, jadi tolong mah. Tolong jangan buat suasana hidup kita yang dulunya tenang, malah berubah jadi suram." Ucap gala.
Alexandra tersenyum sinis menatap gala dengan remeh, "mamang itu yang saya mau, kamu dan adikmu itu menjadi seperti ini."
"Papah kamu, tidak sebaik yang kalian pikirkan, dia pria jahat, pria brengsek dan kamu juga, saya muak melihat muka kamu itu, terlihat mirip seperti bajingan itu." Ucap tenang Alexandra tapi ada penekanan pada kata katanya.
Gala masih diam, cowok itu tidak ingin berbicara lagi. Jika tidak, emosinya akan meledak saat itu juga, tapi gala menahannya. Gala tidak ingin membuat perselisihan dan pertengkaran lagi hari ini.
Tanpa pikir panjang, gala berjalan meninggalkan Alexandra yang juga masih diam setelah menyelesaikan ucapannya tadi.
"Saya tidak akan berubah menjadi ibumu yang baik seperti dulu, ingat itu." Ucapnya membuat gala yang sedang berjalan menghentikan langkahnya, jujur perasaan batin yang di torehkan Alexandra sudah cukup membuat mental gala down, hanya saja gala masih mau bertahan demi adiknya, leskara.
Jika gala tidak ada, siapa yang menjadi sandaran bagi adiknya itu? Gala masih bisa tahan, dan masih bisa memendam masalah ini, sendirian."
๑๑
Keesokan harinya, Kana sudah sampai di sekolah seperti biasa. Kana yang biasanya telat sampai, kini sudah mulai mendahului Naka yang noteben paling rajin darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AGALA SABUMI
Teen Fiction⚠️FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA⚠️ Agala Sabumi dan Arkana Putri Wijaya High rank: #4 telah #20 acident #24 kisahku #21 yang
