Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
๑๑
Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Hubungan Gala dan Kana juga sudah lebih baik dari sebelumnya. Kedekatan Kana dengan Alexandra juga lebih dari sebelumnya, bahkan wanita itu sudah jarang bersikap tidak mengenakan di depan Gala ataupun Kara.
SMA Tunas Harapan juga saat ini sudah lebih banyak kegiatan, seperti sekarang, anak kelas dua belas sudah mulai di liburkan karena adik kelas mereka tengah menjalani ujian sekolah. Setelahnya di susul kelas dua belas.
Gala sedang duduk di meja belajar di dalam kamarnya. Buku-buku dan alat tulis berserakan di atas meja. Di sana juga banyak sekali tisu dengan bekas darah.
Tes!
Satu tetes darah menetes dari hidung Gala. Cowok itu menghela nafasnya. Sedari tadi hidungnya terus mengeluarkan darah walaupun tidak terlalu banyak, tapi itu membuat bukunya kotor.
"Hah..."
Gala meraih tisu di sampingnya dan mengelap kasar hidungnya. "Gue kecapean ya?" Gumamnya menatap tisu dengan bekas darah itu.
Cklek!
Pintu kamar Gala terbuka, membuat cowok itu menatap ke arah pintu. Di sana terlihat Leskara menatapnya dengan tatapan terkejut.
Dengan cepat, Leskara menghampiri Gala yang masih mengusap hidungnya dengan tisu. "Kak, lo kenapa? Kok banyak banget bekas darah?"
Leskara menatap Gala. "Lo mimisan kak, kenapa nggak bilang sama gue!"
Mendengar ucapan Leskara yang terdengar khawatir, membuat Gala terkekeh pelan. "Gak papa, kakak kecapean ini, dari tadi belajar, belum makan juga." Ucapnya santai.
Leskara menggelengkan kepalanya. "Nggak kak, gue punya temen yang sering mimisan kayak Lo, dia sakit kak, gue takut." Ucap gadis itu berkaca-kaca. Tangannya membantu Gala meredakan darah yang keluar dari hidungnya.
Gala menatap manik berkaca-kaca Leskara. Cowok itu diam merasakan gerakan tangan Leskara yang mengusap usap hidungnya.
Setelah selesai. Gala mengusap kepala adiknya dengan pelan. "Kakak baik-baik aja. Ini cuman kecapean aja." Ucapnya dengan senyum.
"Dia sering, kakak kan nggak sering. Ini cuman hari ini aja." Ucap Gala lagi.
Leskara menatap Gala, gadis itu menatap wajah kakaknya. Hidung Gala terlihat memerah, mungkin karena terlalu sering di usap oleh Gala tadi. Leskara menggeser pandangan menatap tisu dengan bekas darah di atas meja.
Melihat arah pandang Leskara, Gala ikut menatap meja. "Udah, kakak nggak papa, tenang aja." Ucapnya menenangkan.
"Tapi sebanyak itu kak,"
"Nggak, ini yang terakhir. Nanti kakak bilang sama kamu kalau darahnya nggak berhenti, ya?" Gala mengusap lengan Leskara, membuat Leskara mengangguk, walaupun hatinya sedikit merasakan kekhawatiran. "Nanti bilang ya?" Leskara menatap Gala.
Gala mengangguk. "Siap, tuan putri!"
Setelah itu, Leskara mengajak Gala untuk makan terlebih dahulu, setelah itu Gala kembali ke kamarnya untuk melanjutkan belajar yang sempat tertunda. Sebelum itu Gala membersihkan meja lalu membuang tisu-tisu ke dalam tong sampah.
๑๑
Jika Agala belajar seharian di kamarnya, tidak berbeda juga dengan Arkana. Gadis itu juga sedang belajar sendirian di ruang tamu. Karena ujian nanti banyak melibatkan pelajaran biologi, alhasil buku-buku yang ada hanya buku pelajaran tersebut.
Soal-soal latihan banyak Kana kerjakan. Hingga hari mulai sore barulah Kana membereskan kembali bukunya dan masuk ke dalam kamar.
Kana berjalan menuju kasur, gadis itu meraih ponselnya yang belum sama sekali di sentuh sejak tadi pagi.
Berjalan menuju balkon kamar, Kana menekan tombol panggil pada nomor Gala.
Kembali ke kamar Gala. Cowok dengan kaos hitam dan celana pendek itu tengah berjalan ke kamar mandi. Handuk telah terselempang di bahunya. Saat hendak melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Derrttt...
Derrttt...
Gala menatap ponselnya di atas nakas. "Siapa?" Monolognya sambil berjalan menghampiri.
Satu nama yang muncul pada layar ponsel membuat Gala yang sedang bingung itu langsung tersenyum. Sungguh, Gala sempat lupa bahwa dirinya belum bertukar pesan atau berkabar dengan gadisnya, rasanya rindu sekali.
Tanpa pikir panjang Gala menekan tombol hijau ke atas. "Maaf, anda siapa?" Tanya Gala jahil membuat Kana yang sedang tersenyum di sebrang sana sedikit cemberut.
"Ihhh... Malah bercanda,"
"Hahaha," Gala tertawa mendengarnya gerutuan Kana di sebrang sana. Cowok itu meletakkan handuknya di atas kasur, menekan panggilan vidio.
Wajah Kana terlihat jelas di ponselnya membuat Gala tersenyum. "Ohh, ini mbak Arkana... Maaf ya mbak, saya baru sadar..." Ucap Gala.
Kana menggeleng melihat kelakuan Gala. Gadis itu tertawa melihat wajah kekasihnya yang memerah karena tertawa, tapi masih terlihat tampan seperti biasanya.
"Udah selesai belajarnya?" Tanya Gala setelah menetralkan kembali wajahnya.
"Udah, baru selesai sih, kamu udah mandi? Udah istirahat?" Tanya Kana membuat Gala mengangguk. "Udah istirahat, tapi belum mandi. Nih, baru mau mandi." Gala menunjukkan handuk yang tergeletak di atas kasurnya, membuat Kana tertawa.
"Hahaha, yaudah mandi dulu, nanti aku telepon lagi. Kamu bau!" Ucap Kana sambil menutup hidungnya.
Melihat Kana tertawa, membuat Gala tersenyum. "Hm, iya. Nanti malam aku jemput ya, aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Ucap Gala. "Kemana? Ke pantai?" Tanya Kana membuat Gala menggeleng. "Bukan, pokonya nanti pakai baju tebel. Biar gak dingin, oke?"
"Oke, mas pacar..." Jawab Kana dengan senyum, lesung pipi dan gigi gingsulnya tampak manis saat di lihat, keduanya menjadi khas tersendiri bagi Kana, dan itu tanpak cantik di mata Gala.
Setelah keduanya selesai berbicara, Gala mematikan sambungan, lalu meletakkan ponselnya kembali ke nakas. Cowok itu berjalan masuk ke kamar mandi, tak lupa membawa handuk di tangannya.
Keran air di nyalakan hingga air di dalam bak terisi penuh. Saat Gala hendak membasahi rambutnya dengan shower, Gala terkejut saat melihat ke arah lantai, di sana sudah banyak bercak darah yang menetes.
Gala meraba reflek hidungnya, nafasnya terdengar berat saat kembali mengetahui bahwa hidungnya kembali mengeluarkan darah.
Dengan pelan, Gala membersihkan hidungnya, lemas kaki Gala melihat darahnya yang masih terus mengalir. Cowok itu mulai merasakan nafasnya memburu hingga tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Dengan pelan Gala duduk di lantai. Pandangan cowok itu mengarah ke pintu kamar mandi yang tertutup.
Hatinya berkata bahwa dirinya mungkin terlalu kelelahan, tapi otaknya terus memutar ucapan Leskara tadi siang. "Gue sehat, gue gak mungkin sakit."
Sekarang, yang perlu Gala yakini adalah kesehatan yang baik-baik saja, sebab terlalu banyak berfikir membuat pikirannya terganggu. Gala akan memeriksakan kesehatannya setelah ini. Semoga kekhawatiran Leskara tidak terjadi padanya.