Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
๑๑
Pagi harinya, saat sekolah masih di liburkan, Gala bersiap untuk menemui dokter yang sudah dia ajak janji temu tadi malam, dengan menggunakan kemeja hitam dan celana jeans hitam pula, Gala tampak segar.
Karena hari ini Gala ingin memakai motor untuk ke rumah sakit jadi penampilannya tampak santai kali ini. Leskara yang sudah pergi sekolah juga tidak perlu di khawatirkan Gala saat dirinya tidak di rumah. "Mau kemana?" Tanya Alexandra saat melihat Gala memundurkan motornya dari garasi. Gala melihatnya sekilas. "Pergi." Jawabnya asal.
"Iya maksud saya, pergi kemana?" Ulang Alexandra sambil bersandar pada pintu rumah. "Jawab itu yang sopan, jangan jawab sambil gak lihat muka saya." Ucapnya lagi.
Gala hanya diam, lalu cowok itu menatap mamanya. "Mau ke— main sama temen." Jawabnya. Awalnya Gala ingin memberi tahu Alexandra kalau dirinya ingin kerumah sakit, tapi dia urungkan.
Alexandra mengangguk. "Oh," lalu pergi.
๑๑
Di satu ruangan dengan bau obatan, Gala berbaring di atas brankar sambil memperhatikan dokter yang menyiapkan alat tes darah. Perasaan cowok itu saat ini campur aduk, takut, dan cemas akan hasil yang di terimanya nanti.
"Semoga gue baik baik aja." Batinnya.
Hari ini Gala menjalani pemeriksaan fisik di mulai dari pengecekan kesehatan, tes darah dan CT scan. Lu di lanjut dengan pemeriksaan urine. Cowok itu menjalaninya seorang diri, tanpa ada yang menemani, termasuk Arkana yang memang sengaja tidak ia beritahu.
Proses itu selesai sampai siang hari, Gala yang awalnya sudah meminta dokter itu menangani dengan cepat membuatnya tidak terlalu pusing karena harus tertunda pengecekannya.
Disinilah Gala berada. Ruangan dokter dengan papan nama bertulis Dr. Radja. Sp.
Dokter itu menyuruh Gala duduk di kursi depan mejanya, kemudian dokter Radja mengeluarkan satu map berwarna coklat dan di berikan kepada Gala.
Remaja itu menerimanya ragu, kemudian membuka dan membaca satu persatu tulisan yang berderet rapih di kertas berstempel resmi itu. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri membaca tulisan, jantung Gala berpacu sangat cepat saat satu kata bercetak tebal telah di bacanya.
Pandangan Gala terarah pelan menatap dokter Radja. "I-ini gak salah dok?"
Sunggu, setelah berjam-jam menjalani pemeriksaan, hasilnya malah seperti ini? Tidak Gala tidak boleh panik.
Dokter bernama Radja, dokter yang sudah sedikit tua dengan rambut yang sedikit putih itu menatap anak muda di depannya dengan wajah serius, tidak tega, tapi ia mengangguk. "Benar, nak Gala harus memberitahu ini kepada orang tua, agar proses pengobatan bisa cepat di lakukan." Ucapnya.
Deg!
Tangan Gala gemetar, nafasnya tercekat tidak bisa berkata lagi. Pandangannya menunduk. "Gue gak akan mati kan?" Ucapnya tanpa sadar.
Dokter Radja yang mendengar itu menghela nafasnya. "Segera hubungi orang tua kamu, nak. Maka kamu tidak akan mati. Jangan berbuat gegabah jika tidak ingin menyesal."
"Tapi saya selalu hidup sehat, kenapa bisa kena? Apa penyebabnya?" Tanya Gala masih tidak mengerti.
"Umumnya penyakit ini tidak terjadi karena pola hidup tidak sehat, tapi bisa jadi seperti itu. Atau kamu punya keluarga yang pernah sakit ini? Itu bisa jadi faktor keturunan," ucap dokter itu menjelaskan. Gala mengerutkan keningnya, kalau bukan karena sakit, berarti keturunan?
Lama terdiam, membuat dokter menepuk lengan Gala pelan, "ada?" Tanyanya lagi. Gala terdiam, setaun tidak ada, atau mama nya ada? Atau kah papa nya yang telah lama meninggal?
Gala menatapnya dokter, "papa saya meninggal," ucapanya pelan.
"Hm?"
"Papa saya meninggal beberapa tahun lalu, apa mungkin karena penyakit yang sama?" Sambung Gala.
Dokter yang mengerti sedikit mengangguk. "Tanyakan yang jelas pada orang tuamu, lalu datang lagi ke sini untuk proses pengobatan." Ucapnya.
Setelah keluar dari ruangan dokter Radja dengan satu amplop coklat di tangannya, Gala berlari kencang ke parkiran, menyimpan amplop itu di jok mobil dan tancap gas pulang ke rumah. Jujur, Gala sangat cemas saat ini, bagaimana kalau bener? Bagaimana dirinya harus menceritakan ini dengan Alexandra, pasti wanita itu akan marah. Gala tidak mau itu terjadi.
Tbc.
Komen dong gayss.... Please, Give me your comments....
Jangan buat aku kecewa karena gak ada vote and Komen 🥲