Setelah Agala menembak Arkana di tangga menuju kelas XII pagi itu, kini mereka berudua tampak sedikit dekat di depan teman teman mereka, membuat teman-teman Agala itu tampak bingung.
"Wihhh, ada apa gerangan ini teh? Kok dedek Kana terus duduk di samping si Gala?" Tanya Reygan sambil duduk mengangkat sebelah kakinya di atas kursi kayu kantin sambil menatap adik dari sahabatnya, Arkana dan si anak baru yang cuek, Agala itu.
Mendengar pertanyaan itu, Gala lantas mengangkat bahunya acuh, "kepo!" Katanya membuat Veroz yang sedang menyeruput secangkir teh hangat di samping Reygan langsung terbatuk batuk di buatnya.
"Uhuk, uhuk, anjir lah! Sakit Cok!" Umpatnya lalu menyambar es teh dingin milik Reyhan di sampingnya. "Chks, jir, punya gue!" Teriak kesal Reygan sambil kembali meraih es teh nya yang sudah tinggal setengah. "Ish, abis kan!" Ucapnya kesal.
Mendengar perkataan kesal dari mulut Reygan membuat Veroz merogoh kantong bajunya, dan memberikan selembar uang dua puluh ribu kepada Reygan. "Yaelah...nih beli lagi sana! Ribet amat pake teriak." Ucapnya lalu memberikan uang itu yang langsung di sambut senang oleh Reygan, setelah itu cowok itupun berlari meninggalkan mereka.
"Hahaha, liat deh, dia ude kayak orang miskin!" Timpal Ali Lalu menyeruput kembali mie gelas yang dia makan.
Gala yang melihat itu, hanya menggelengkan kepalanya begitu juga Kana yang langsung terkekeh. "Kalo iya, emangnya kenapa?" Balas kana membuat atensi teman temannya kakaknya itu otomatis mengarah padanya.
"Serius Lo? Lo berdua pacaran?" Agha yang tadi sempat penasaran saat mendengar pertanyaan Reygan tadi. Lalu tanpa ragu, Kana mengangguk mantap, gadis itu juga mengarahkan pandangannya kepada Agala yang juga tersenyum lembut kearahnya.
Sontak hal itu membuat mereka yang ada di sana langsung memekik heboh, bahkan Reygan yang sedang membeli es teh nya langsung berlari kearah meja yang di penuhi teriakan gaduh dari teman temannya. "Apa apa?! Kenapa?" Tanyanya yang juga ikut heboh.
"Anjir, beneran Cok, kok bisa Gala yang sedingin es batu yang baru keluar kulkas ini, menembak Arkana yang setipis tisu basah ini hatinya?" Tanya Veroz tak kalah heboh, ucapakan nya pun terdengar oleh beberapa siswa maupun siswi yang duduk tak jauh dari meja mereka.
Mendengar itu Gala langsung menepuk jidatnya lelah, "gak usah teriak teriak, kuping gue masih berfungsi normal." Sahutnya membuat Veroz kicep.
Dovon, Algha dan Ali yang melihat wajah Veroz yang tadinya bertanya tanya dengan wajah penasaran nya langsung terdiam tak bergeming di tempatnya membuat mereka langsung tertawa terbahak sambil sesekali memukul meja membuat suasana semakin gaduh.
Jangan tanyakan dimana Arnaka, sebab kakak dari Arkana itu sedang banyak urusan menyangkut perlombaan yang akan di laksanakan oleh SMA Tunas Harapan Minggu depan, dengan i SMA Tunas Harapan sebagai tuan rumah.
Veroz mendengus mendengar ketiga temannya yang tertawa melihat wajahnya yang berubah totol, dirinya juga menyadari, tapi setidaknya tidak usah tertawa. Kan jadi malu. "Diem jir, dah lah, ngambek aing!" Ucapnya lalu pergi sambil merebut kembali es teh milik Reygan yang baru cowok itu pesan tadi.
Melihat itu, Reygan langsung mengumpati Veroz yang sudah pergi meninggalkan kantin dengan es teh milik Reygan di tangannya , "si bangsat!"
Setelah berucap seperti itu, Arkana dan Agala juga ikut berdiri dan hendak meninggalkan semua teman temannya, mereka juga tidak menghiraukan panggilan Reygan dari belakang.
Sembari berjalan, Arkana menatap wajah tampan Agala di sampingnya, "makasih ya, udah mau jadiin aku dan percayain aku jadi pacar kamu." Ucap Kana tulus membuat sang pemilik mata hitam dengan alis tebal itu menoleh. "Sama sama..." Balasnya sambil tersenyum hangat dengan satu tangannya yang menggenggam lengan halus Arkana di sisi tubuhnya.
๑๑
Disaat tengah berjalan sambil berpegangan tangan, tiba tiba seorang siswi berjalan melewati mereka dan dengan sengaja menyenggol Kana lumayan kuat hingga Kana sempat terhuyung kesamping, untung Gala dengan sigap menangkap Kana.
Lalu Gala menatap siswi yang tadi menabrak Kana lalu memanggilnya, "ada apa kak?" Tanya siswi itu sambil tersenyum manis di hadapan Gala yang membuat Kana melongo. Bukan cemburu, tapi-bisa bisanya gadis itu tersenyum tanpa dosa setelah menabrak dirinya.
Gala yang melihat gadis yang tersenyum kepadanya langsung mengeraskan rahangnya, "orang kalau tau etika, pasti langsung minta maaf." Ucap Gala dingin.
Hal itu juga di saksikan oleh beberapa siswa siswi yang sedang berdiri di depan kelas milik kelas sepuluh itu. Dengan pandangan yang memandang Arkana remeh, gadis itu menatapnya dan tersenyum. "Ups! Sorry, gue gak sengaja." Katanya di hadapan Kana.
Sontak keberanian gedis itu membuat beberapa orang berbisik. "Gila, berani banget dia sama Kana." Ucap salah satu dari murid yang menonton.
Sontak perkataan itu membuat gadis yang tidak tau diri tadi menoleh lalu berteriak memaki orang itu, "diem Lo!" Katanya, membuat semua orang langsung terkejut, begitu juga Kana semetara Gala memandang gadis itu jengah, lalu menarik lengan Kana untuk segera pergi dari sana tanpa memperdulikan cewek bermake-up tebal itu memanggil manggilnamanya.
"Kak Gala, tunggu!" Panggil gadis itu tapi tidak di hiraukan oelh Gala yang sudah berjalan cepat menarik Kana dari area kelas sepuluh dengan rasa amarah yang membuatnya hampir kehilangan akal ingin berkata kasar mengumpati gadis itu.
Kana yang tau bahwa Gala sedang kesal hanya diam sambil mengikuti arah tarik Gala yang ternyata mengarah ke Taman belakang.
Gala menyuruh Kana duduk di kursi yang tepat berada di depannya, lalu Gala mengusap bahu kana yang tadi di senggol lumayan kuat oleh gadis yang tidak tau siapa itu. "Sakit gak?" Tanyanya.
Kana menggeleng sambil merekah senyum tipis melihat perhatian kecil dari Gala, padahal kalau di rasa, dirinya tidak terlalu sama sekali meski awalnya terasa linu sebab tulang lengan gadis yang tadi menabraknya, cukup terasa di bahunya.
"Gak papa. Gak sakit kok.." ucap Kana lalu menepuk kursi yang kosong di sebelahnya. "Duduk..." Pintanya.
Gala menurut, lalu segera mendudukkan dirinya di samping kana. "Cewek itu gak ngerasa bersalah banget muka nya." Ungkap Gala membuat Kana terkekeh. "Mungkin malu, udah. Gak usah di tanggapin, gue gak papa." Ujar Kana menenangkan Gala yang ekspresi wajah terlihat masih kesal.
"Hm," balas Gala setelahnya.
"Yaudah, masuk kelas yuk, nanti telat masuk." Ajak Kana, Gala menoleh dan mengangguk kemudian, "yuk!" Ajak Gala sambil tersenyum simpul pada Kana.
Mereka kembali ke kelas dan duduk di bangku Masing masing, di sana sudah terlihat Naka yang sedari tadi tidak terlihat, bersama Kayla yang juga sudah duduk di bangku samping kana.
Melihat Kana yang memasuki kelas, Kayla langsung berdiri dan bertanya dengan suara memekik kencang. "Na! Tadi Lo di apain sama cewek itu? Lo gak kenapa Napa kan? Tadi gue denger dari orang orang, pada ngomongi Lo!" Ucapnya.
Sontak, Naka yang semula duduk, langsung menatap adiknya. "Sama siapa?" Tanyanya to the point membuat Kana berdecak kesal. Seharusnya Kayla tidak berucap di depan Naka, bagaimana menjelaskannya, Naka itu adalah kakaknya yang sangat protektif hingga dia akan bertanya dari awal hingga akhir saat Kana yang terkena sesuatu yang menimpanya, padahal hal ini bukan masalah besar.
Kana mendudukkan dirinya terlebih dahulu di samping Kayla dan menatap Kayla judes, lalu menatap Naka setelahnya. "Hehe, ngak...ngak ada apa apa kok." Balas Kana cengengesan.
Gala yang juga menyaksikan itu, langsung menyela. "Cuman masalah kecil, gak usah khawatir." Selanya membuat Naka lantas berbalik menatap Gala di sampingnya. "Tadi Kana sama Lo?" Tanyanya membuat Gala mengangguk.
"Ceritain sama gue!" Pintanya, memaksa.
Sama seperti Kana, Gala juga berdecak, malas sekali rasanya menjelaskan, apalagi dirinya masih hutang penjelasan pada Naka karena masalah tadi malam saat Kana tertidur di pelukannya. "Cks! Nanti aja." Ucapnya singkat lalu menangkup wajah di atas meja, menghiraukan Naka yang menepuk pundaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AGALA SABUMI
Ficção Adolescente⚠️FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA⚠️ Agala Sabumi dan Arkana Putri Wijaya High rank: #4 telah #20 acident #24 kisahku #21 yang
