Agala sabumi

12 2 0
                                        

๑๑

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

๑๑

"Ternyata sederhana itu menyenangkan, ya."
-Arkana Putri Wijaya-
๑๑

Matahari yang cerah kini bergantian dengan bulan, sang rembulan malam yang indah menyinari bumi dikala dunia benar-benar gelap.

Gala melajukan motornya di Jalan Raya yang ramai, di seluruh jalan yang terdapat gedung gedung sederhana dengan berbagai bentuk membuat gadis yang duduk di jok belakangnya tampak tersenyum. Matanya menatap terpukau suasana malam dengan lampu-lampu jalan yang sudah di rancang warna warni di pepohonan.

Sebelah tangan Kana, dia lingkarkan pada pinggang Gala, sedangkan satu tangannya mengudara. "Cantik banget ya malam malam gini, ini pertama kali aku naik motor malam-malam." Ucap Kana masih menatap kanan dan kiri.

Gala tersenyum kecil di balik helm full face-nya. Pandangannya menatap spion yang menampilkan wajah Kana di sana.

Hari ini sederhana saja agenda kencan mereka. Gala yang tadinya ingin mengajak Kana ke suatu tempat itu terpaksa batal karena orang tua Kana tidak mengizinkan Kana pulang terlalu malam. Alhasil Gala akan mengajak Kana kerumahnya.

Setelah sampai di depan rumah dengan gerbang sebagai pembatasnya, Kana turun sambil memegang lengan Gala yang di sodorkan untuk pegangannya. Wajah Kana kembali teralih saat melihat perumahan di rumah Gala terlihat ramai oleh lampu-lampu di atas langit jalan.

(Kurang lebih seperti ini)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Kurang lebih seperti ini)

"Cantik banget, rasanya pengen ke sini setiap hari," ucap Kana antusias. Gadis dengan dress selutut dan celana panjang yang menutup kakinya itu menatap sepanjang jalan.

Gala melepas helmnya lalu mendekat pada Kana, "nanti tinggal di sini," bisik Gala membuat Kana menatapnya. Wajah gadis itu memerah, jelas Kana tau apa maksud dari perkataan Gala.

Gala terkekeh melihat wajah kekasihnya yang memerah, satu jarinya menyentuh hidung Kana. "Cantik kalau lagi malu-malu," ucapnya.

"Ihh, ayo buruan masuk." Potong Kana lalu masuk ke dalam meninggalkan Gala yang langsung tertawa keras di belakangnya, sambil menyusul gadis itu.

Di depan jendela sembuh kamar, seorang wanita menatap luar rumah dari atas. Wanita dengan setelan baju tidur itu menyunggingkan senyum saat melihat dan mendengar Gala tertawa karena Kana, kekasih anaknya yang baru beberapa minggu ini di kenalnya.

Sudah lama, sekitar lima tahun Alexandra tidak mendengar tawa putranya itu. Bagaimana dia tumbuh hari itu sudah tidak pernah Alexandra hiraukan, kedua anaknya tumbuh tanpa perhatian darinya. Bahkan ini adalah suara tawa dan raut wajah senang Gala yang dia lihat untuk pertama kalinya setelah putranya itu dewasa, bahkan suaranya lebih terdengar menyenangkan di banding tahun tahun sebelumnya.

๑๑

Di dalam ruang rumah, tepatnya di ruang tamu. Arkana sedang bercanda gurau bersama Leskara, keduanya asik bercerita sambil memakan buah stroberi di atas mangkuk.

Sambil duduk di karpet bulu, Kana terus memperhatikan cerita adik dari Gala itu.

"Tadi di sekolah aku ada topeng monyet kak, Kana..."

"Oh ya?" Kana antusias mendengarkan sambil tersenyum.

Leskara mengangguk. "Karena ada acara festival gitu di sekolah aku, teman aku yang laki-laki pada buat hal random kak, salah satunya bawa topeng monyet," lanjut Leskara.

"Dan lebih lucunya lagi, monyet jinak dong... Semuanya pada megang kecuali yang perempuan,"

Kana melotot. "Hum! Kamu gak megang?"

"Iiih, nggak lah kak, takut aku, nanti kalau di caplok gimana? Tadi juga ada tuh yang di cakar," cerita Leskara lagi.

Arkana tertawa membayangkan itu, tapi sedih juga kalau di cakar gitu. "Jadi keadaannya gimana?"

"Yang di cakar?"
"Iya," jawab Kana.

Leskara memijat hidungnya, lalu menatap Kana, "dia langsung nangis kejer kak, padahal dia cowok. Lari dia sambil tangannya di lambai-lambai ke atas kayak bencong, kita semua kasian tapi lucu juga," ucap Leskara membuat Kana menggeleng.

Selagi keduanya bercerita, Gala datang menghampiri, cowok itu duduk sambil meletakkan dua gelas susu gandum membuat Kana menoleh. "Mama mana?"

Gala menatapnya sambil menggeleng. "Nggak tau," jawabnya, membuat Kana mengangguk saja.

Jujur, Kana masih terpikir dengan kata kata Alexandra sore itu. Kana ingin bertanya, tapi sepertinya tidak usah, gadis itu akan menunggu Gala bercerita sendiri saja mengenai masalahnya dengan sang mama.

Kana juga tidak pernah melihat interaksi antara keduanya, apalagi Leskara, padahal anak perempuan pasti lebih dekat dengan mama nya.

Kana dan Kara kembali bercerita, sementara Gala menatap mereka diam. Gala tersenyum melihat Kana yang sangat serius mendengarkan cerita Leskara, sesekali terkejut dan sesekali tertawa. Itu membuat Gala juga menyunggingkan senyumnya.

Tes!

Satu tetes darah menetes di pergelangan tangan Gala, membuat cowok itu cepat cepat menghapus. Sedikit panik Gala sambil menatap kedua gadis yang masih fokus bercerita.

"Untung mereka gak lihat." Batin Gala lega.

Gala menarik darah yang akan mengalir keluar dari hidungnya. Cowok itu menutupnya dengan satu tangan dan cepat cepat berdiri dan pergi, meninggal Kana dan Kara yang menatpnya aneh. "Kenapa?" Gumam Kana.

"Mungkin mau ambil minum, kak." Ucap Kara membuat Kana mengangguk-angguk.

Di dalam kamarnya, Gala mundar mandir mencari tisu yang selalu ada di atas mejanya. Jantungnya berdetak kencang sambil menadah darah yang sudah keluar membasahi telapak tangannya. "Hah... Tolong, Tuhan... Jangan lagi."

"Tisu mana," gumamnya, masih tidak melihat benda itu.

Tidak melihat benda bernama tisu itu, akhirnya Gala memutuskan untuk berlari ke kamar mandi. Membilas area hidungnya dengan air bersih, lalu terduduk lemas di atas toilet.

Dengan sisa sisa tenaga, Gala mengacak rambutnya kesal. "Kenapa sama gue? Kenapa kepala gue sakit kaki ini?" Gumamanya.

Gala menepuk nepuk kepalanya kuat, berniat menghilangkan rasa sakit dari kepalanya. Lemas Gala kali ini, niatnya ingin memeriksa kesehatan malah tidak jadi tadi karena waktunya sangat mepet.

"Besok gue ke rumah sakit. Semoga gue baik-baik aja." Gumamnya lagi.

Tbc.

Please I want comments and votes from you guys...

AGALA SABUMI Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang