bab 33

22 1 0
                                        


Keesokan harinya, Gala sudah siapa dengan seragam sekolah dan alat tulisnya di dalam tas. Cowok itu sudah rapih, hanya tinggal menyalakan motor di depan.

Tapi sebelum dirinya menaiki motornya, suara wanita dengan sangat keras meneriaki namanya, membuat Gala menoleh dengan helaan nafas pelan. "iya?"

Seorang wanita dewasa berbadan bagus saat umurnya sudah tidak tua, berjalan kearahnya, "saya gak mau Nerima apapun, kamu harus bayar semua uang sekolah adikmu itu." ucapanya tegas.

Mendengar itu Gala segera mengangguk saja, lalu kembali mengarahkan pandangan pada motor yang sudah siap di naiki olehnya, "jangan mentang mentang saya tidak memperhatikan mu dan adikmu itu, malah asik bermain di cafe. Dan itu hampir setiap hari," ucapanya lagi dengan nada yang tidak biasa.

Jelas saja, wanita itu nampak marah. Padahal semua kebutuhan Gala dan Kara sudah di tanggung olehnya sendiri, sejak sang papah meninggal dunia.

Mamanya, Alexandra. Tidak pernah perduli padanya dan adiknya semenjak sang ayah telah tiada, wanita itu hanya memikirkan uang dan uang saja. Dan sikap wanita itu dengan perlahan membuat sifat Gala yang dulunya ceria, malah berubah menjadi seseorang yang berbeda jauh dari dirinya yang dulu.

Gala hanya diam saat mendengar Alexandra berucap, cowok itu segera menghidupkan mesin motornya dan melesat pergi tanpa menatap atau berpamitan pada ibunya, bukan ingin menjadi seorang anak yang membangkang atau durhaka.

Namun, jika Gala dan adiknya ingin bersikap seperti biasa, sebagaimana dulu, malah wanita bernama Alexandra itu menolak dan mengatakan "aku bukan lagi ibu kalian, pergilah." seperti itu.

Entah karena apa, Gala juga tidak mengerti. Apakah akibat di tinggalkan secara tiba-tiba oleh sang ayah, atau hanya untuk menutupi keterpurukan dengan bersikap jahat pada anak anaknya. Entahlah, Gala tidak tau, dan terlalu malas baginya untuk memikirkannya, yang hanya membuat hatinya semakin sakit jika memikirkan itu.

Setelah sampai, cowok berambut hitam dengan alis tebal itu segera memarkirkan motornya di parkiran SMA tunas harapan.

"Gal," panggil raygan yang juga baru sampai di parkiran.

Mendengar panggilan di ujung sana, membuat Gala seketika tersenyum lalu berjalan ke arah Reygan. "baru sampai?"

Reygan mengangguk. "iya," jawabnya sembari membuka helmnya dan menjepitnya di antara tangan dan tubuhnya.

"kelas yok," ajak nya, di balas anggukan oleh Gala.

Kedua cowok tampan itu berjalan beriringan di koridor dan lorong kelas yang masih terlihat sepi, keduanya memilih untuk bersantai terlebih dahulu di dalam kantin yang juga masih sepi.

Gala mendudukkan dirinya di depan Reygan, "mana yang lain?" tanya Gala membuat Reygan mengangkat bahunya, tanda tidak tau. "kayaknya Devon sama Agha lagi jalan ke sini, Ali gue gak tau, kalo Veroz katanya ada sodaranya yang nikah," ucapanya membuat Gala mengangguk.

"masih pagi. Tumben Lo datang cepat?" tanya Gala lagi.

Reygan terkekeh kecil, "ngak tau, gue males aja di rumah. Dengerin dongeng dari bokap gue," ucapnya asal, membuat Gala mengerutkan keningnya, "hah?"

Reygan terkekeh lagi, melihat wajah Gala yang kebingungan mengingatkan nya pada teman temannya yang lain, saat dirinya bercerita bahwa ayahnya suka ngendongeng, alias marah marah.

"maksud gue, ayah gue sering marah marah gak jelas, bikin gue kena sasaran amuk," ucapanya enteng sembari menatap ponselnya di tangannya. Tapi, bagi Gala jmyang juga telah sering di marah marahi oleh mama nya, membuat Gala dapat mengetahui bahwa Reygan tidak baik baik saja.

"hm," respon Gala singkat.

Reygan kembali melirik Gala di depannya, "lo udah makan? Kalau belum...ya, pesen aja. Gue traktir, mumpung lagi baik nih hati gue," ucapanya lalu tersenyum.

Gala tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "ngak, gue udah makan. Makasih," ucapanya.

"ohh," jawab Reygan lalu kembali memfokuskan pandangan pada ponselnya.

Beberapa menit kemudian, siswa siswi sudah banyak yang sudah berada di sekolah, bahkan kantin yang hanya di pakai untuk istirahat saja, kini telah ramai.

Begitu juga dengan teman teman Gala yang sudah lengkap, di sana yang tadinya hanya ada dirinya dan Reygan, sekarang sudah ada Naka, Ali dan Devon. Mereka saling diam saat semuanya sedang asik dengan ponsel di tangan.

"Kana di kelas kan?" tanya Gala pada Naka yang duduk di samping Reygan, yaitu di depan nya.

Naka menoleh sekilas lalu mengangguk tanpa suara, membuat Gala segera bangkit. "gue duluan," ucapanya lalu pergi.

"iya," sahut Reygan.

Gala sudah berjalan menuju tangga lantai tiga, tapi saat sudah berada di lantai tiga, langkahnya terhenti saat gadis berambut cokelat di gerai memanggilnya, itu adalah Friska.
"tunggu kak,"

"apa?" tanya Gala sembari menaikan alisnya menatap wajah menor di depannya.

Friska sedikit tersenyum, "em, putus sama kak Kana ya? Plis, abis itu jadian sama aku. Mau kan?" ucapnya membuat Gala memanyunkan bibirnya dengan alis yang semakin terangkat. "ngak."

Setelah berucap seperti itu, Gala segera pergi dari hadapan Friska yang sudah cemberut di belakangnya. Gala juga merasa tidak bersalah, toh Friska hanya bertanya padanya kan? Jadi ya jawabannya adalah tidak. Apa itu salah?


"kak Gal-" panggil Friska, tapi langsung terhenti saat dirinya menghadap depan dan melihat wajah kaku Naka yang menatapnya. "gak usah ganggu, hidup adik gue dan Gala." ucap nya cepat, lalu berjalan mendahului Friska.

Hal itu semakin membuat friska merasa kesal, hingga menghentakkan kedua kakinya sembari menuruni tangga. "kenapa orang ganteng selalu nyebelin?" Gumanya, namun hanya dirinya yang mendengar.

Setelah sampai ke kelas, Gala segera tersenyum tipis saat mendapati Kana yang sedang tertawa sembari bercanda gurau bersama sang sahabat, yaitu Kayla. "noh, doi dah dateng," tunjuk Kayla pada Gala dengan dagunya.

Kana menoleh ke belakang dan bertatapan mata dengan Gala, "hai," sapa kcil Kana membuat Kayla senyum senyum sendiri.

Melihat Kana dan Gala yang bersifat malu malu di depan nya, membuatnya gereget sendiri untuk menyuruh keduanya untuk berdekatan. Tapi, Kayla tidak ingin melakukan itu, karena takut pada wajah Gala yang terlihat kaku dan dingin. Padahal Gala bukan orang yang seperti di pikiran Kayla.

Seperti biasa, Gala duduk membelakangi Kana yang memang mempunyai meja di belakangnya. Keduanya bersifat biasa saja, tapi di dalam hati keduanya ada perasaan deg-degan saat mereka saling berdekatan.

Kana menoel bahu Gala membuat Gala menoleh, "hm?"

Kana berdehem saat melihat jelas wajah Gala di depannya, benar benar tampan.

"um, nanti pulang sekolah. Mau ngak ke rumah aku, soalnya di rumah gak ada orang, mamah sama papah juga udah pergi lagi, kalo kak Naka katanya pulang telat," ucapanya masihdi dengar Kayla di samping Kana.

"mau ke mana emang Naka?" tanya Kayla cepat.

"kepooo..." Sahut Naka yang baru saja masuk dan menghampiri Kayla di tempat duduknya, "ngapain sih terlalu kepo?" tanya Naka lagi membuat Kayla mendengus. "biarin."

Gala menghela nafas pelan melihat keduanya, lalu menatap Kana kembali. "boleh, tapi emang ngak papa? Lo lama ngak perginya?" ucap Gala sembari menatap Kana dan Naka bergantian.

"gak papa. Asal Lo tu batasan." ucap Naka membuat Gala mengangguk saja.

Sedangkan Kana menatap kakaknya, "Gala juga tau kali," katanya.

Setelah itu mereka kembali duduk di tempatnya semula, saat guru datang untuk mengajar.

Hanya seperti ini lah kerjaan remaja remaja itu, belajar, pulang dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Tidak ada yang spesial, tapi Gala merasa hubungannya dan Kana sangat spesial baginya.

AGALA SABUMI Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang