Chapter 35

1.3K 77 11
                                        

"Anak nakal bangun,"

Kelopak mata yang masih terpejam damai itu tampak diusap lembut oleh jemari seseorang. Membuat pergerakan getaran pada kelopak mata itu tampak enggan bangun guna membuka kelopak mata itu.

"Pradipta Velasco bangun.." Suara kali ini terdengar berbeda dengan suara yang tadi, lalu disertai ranjangnya yang bergerak naik turun.

"Anak nakal, kau benar-benar tidak ingin bangun heh? baiklah, jika itu yang akan terus kau lakukan. Jangan salahkan kami jika bangun nanti kau sudah berada dirumah sakit." Suaranya terkesan main-main namun nada suara itu terdengar begitu berat dan penuh ancaman.

Atmosfer didalam kamar kedua orang tuanya tampak terasa tak mengenakan. Penuh penekanan dan intimidasi penuh ancaman disana.

"Kyle. Kau angkat saja dia langsung. Papah dipundakmu pun tak apa, tubuhnya juga kurus dan begitu pendek." Lagi-lagi suara itu begitu menganggu ketenangan Dipta yang masih memejam erat.

Sinar matahari menerobos masuk paksa ke retinanya. Suara gorden tersibak kuat menyingkirkan kain panjang itu ke sisi pinggir. Membiarkan cahaya matahari semakin menerobos paksa masuk kedalam kamar.

Dipta menggerang. "Hentikan, berhenti menganggu tidurku. Persetan kalian siapa! aku tak peduli." Dipta kembali akan beringsut kedalam selimut, kemudian berdecak saat selimut tebalnya ditarik paksa. Hingga ia tidak terlilit selimut sama sekali.

"Kubilang berhenti menggangguku! apa kalian tidak bisa mendengar hah!?--"

"Sialan! Daddy ada penyusup!" Dipta reflek melompat dari atas kasur. Sembari berteriak keras, bahkan ia rasakan pita suaranya seperti akan putus karena terlalu keras berteriak.

Bagaimana tidak kaget, jika membuka mata langsung diperlihatkan dua wajah orang asing yang tengah tersenyum lebar menatapnya begitu lekat.

"Adik, kau tak apa?" itu jelas nada kepanikan dari dua orang asing itu.

"Berhenti, ente pada siapa. Kagak kenal gue sumpah." Dipta beringsut mundur saat seorang pemuda berambut blonde itu akan menarik tangannya. Lalu pemuda asing satunya tampak memiringkan kepalanya sembari menatapnya lamat, dalam diam. Pemuda itupun tampak memiliki rambut yang hitam pekat persis seperti warna bola mata Dipta.

"Baiklah, sepertinya kau bingung. Aku Kyle, putra terakhir Ayah Max. Lalu di sebelahku." Si pemuda bersurai pirang berujar, lalu menunjuk pada pemuda surai hitam disebelahnya. "Dia Isaac, putra bungsu Papa Morrow."

"Hai, kau sudah mengenal kami. Dan kami bahkan mengenalmu lebih baik daripada kau mengenal dirimu sendiri." Si pemuda bersurai hitam kalau tidak salah, tadi namanya Isaac. Kini tampak merangkulnya akrab.

"Kau tampan, sangat mirip dengan paman Mathias." Kyle yang saat ini Dipta ketahui sangatlah banyak bicara itu tampak mengelus lembut surainya yang masih berantakan seperti singa.

Brak!!

Ketiganya menoleh cepat pada pintu kamarnya yang tiba-tiba didobrak dan terbuka. Menunjukkan raut wajah semua orang yang masih dalam rasa kantuk itu, menyosong khawatir padanya.

"Ada apa nak? dimana penyusup yang kau katakan tadi." Mathias melangkah cepat menuju putranya yang diapit oleh dua orang keponakannya yang juga ikut menatap bingung keadaan, begitupula Dipta yang masih linglung dalam cengkraman sang ayah yang tengah sibuk memeriksa tubuhnya.

"But why? Berhenti memutar tubuhku Dad. Kalianlah yang ada apa. Mengapa mendobrak pintu asal." Dipta mendongak menatap Mathias yang kini berdiri.

"Kamu yang ada apa, barusan berteriak mengatakan jika ada penyusup. Dimana penyusup itu sekarang."

Semuanya diam menatap interaksi anak dan ayah itu, termasuk Rue yang masih dalam keadaan kantuknya. Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur karena sang anak yang ngambek dan memaksa ingin tidur sendiri tanpa mau mereka temani. Dan baru hampir dua jam yang lalu wanita itu tertidur nyenyak.

PRADIPTA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang