Menjadi pacar dari cowok dengan tempramen buruk tentu akan menjadi malapetaka. Apalagi jika mereka suka melakukan kekerasan fisik maupun verbal.
Sayang, Malika harus menelan telak jika dirinya telah terjerat lingkar hubungan beracun bersama Gama, sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gemuruh petir kembali datang, membawa cahaya kilat yang menyeramkan. Suara angin bergabung dengan hujan menghantarkan perasaan gundah bagi gadis yang sedang tertidur lelap itu.
Di bawah temaram lampu tidur, Malika bergerak gelisah. Kening gadis itu memperlihatkan kerutan halus bersamaan dengan keringat. Padahal dia baru terlelap satu jam yang lalu.
Suara petir yang kembali menggelegar membuat Malika terbangun dari tidur. Gadis itu langsung bangkit dengan napas yang menggebu-gebu.
Entah mengapa, akhir-akhir ini Malika sering bermimpi aneh. Terhitung sejak terakhir Malika tak sengaja melihat sosok Gama, Malika jadi seperti ini.
Gadis itu mengambil segelas air putih di nakas, kemudian menghidupkan lampu kamar.
Pagi masih cukup lama jika Malika hanya berdiam diri di kamar. Sebab gadis itu tidak lagi berniat untuk melanjutkan tidur. Dia berjalan keluar kamar.
Ternyata masih ada Ethanio yang asik menonton bola. Cowok itu heboh sendiri sampai tidak menyadari Malika yang lewat begitu saja.
"Jangan malem-malem, Kak," pesan Malika sembari terus berjalan.
Di saat seperti ini, yang Malika butuhkan hanyalah cokelat. Semenjak memutuskan tinggal sendiri dan belajar untuk tidur sendiri, Malika selalu menyediakan cokelat di kulkas apartemennya. Anggaplah itu sebagai penangkal rasa takut Malika.
Gadis itu kembali menuju ke tempat Ethanio yang berteriak karena bola berhasil masuk gawang. Dengan selimut yang ia bawa, Malika langsung menyelinap masuk ke dalam dekapan Ethanio. Sehingga membuat Malika duduk di atas pangkuan cowok itu.
"Nggak bisa tidur?" tanya Ethanio.
Malika mengangguk sambil mendusel di leher Ethanio. Perasaan Malika menjadi lebih tenang, apalagi ketika merasakan usapan halus di punggung.
"Kak Nio nggak cape apa? Kan di pesawat pasti lama, kenapa nggak istirahat?"
"Nggak ngantuk."
Jawaban singkat itu mengakhiri pembicaraan mereka. Malika tak lagi bersuara dan Ethanio kembali sibuk menyoraki bola. Bahkan tubuh Malika yang bergelayut manja sampai sedikit terguncang akibat cowok itu yang kelewat heboh.
"Yah bego!" teriak Ethanio kesal.
Meskipun begitu, cowok itu malah mengelus-elus rambut Malika sampai gadis itu kembali merasakan rasa kantuk.
"Kak," panggil Malika.
"Kenapa, Sayang?"
Malika tersenyum kecil. Dia hirup secara rakus wangi cowok itu yang membuat hati Malika nyaman. "Aku sayang Kak Nio."
Tiba-tiba Malika merasakan ciuman di pundak. Tidak sekali, tapi berkali-kali. Lalu ciuman itu berpindah ke puncak kepalanya. Sampai Malika rasakan napas hangat Ethanio yang tiba-tiba terasa begitu dekat.