Bab 22

28.2K 670 46
                                        

Tiba-tiba Edward datang terponggoh-ponggoh dengan ekspresi panik.

"Tuan Muda!! Tolongg!! Tuan Max tiba-tiba berlari ke arah danau."

"APA?!!"

  
  
  
Mereka langsung pergi berlari mencari Max ketempat yang dimaksud Edward.

Tempatnya lumayan jauh dari rumah utama, butuh lima menit lebih jika harus berlari.

"Apa para bodyguard tidak menghentikan Tuan?" Ucap Damian kesal pada Edward.

"Sudah Tuan, tapi para Bodyguard dibuat pingsan semua dengan serangan Tuan Besar."

"Lalu kapan dia keluarnya? Kenapa kita tidak tahu dia keluar."

"Sepertinya waktu Tuan Muda baru saja sampai tadi. Beberapa saat kemudian saya mendengar suara triakan dari halaman belakang, ternyata Tuan Max melumpukan bodyguard nya sendiri dan berlari menuju danau."

"Sial. Apa yang orang tua itu pikirkan?!" Umpat Zander sambil terus berlari.

Sesampainya di danau.

Benar saja.

Mereka melihat Max berdiri di pinggiran danau.

Sorot matanya tampak sangat terluka dan sendu. Penampilannya acak-acakan, kurus seperti tidak terurus.

Kedatangan Zander dan yang lain membuatnya menoleh ke arah mereka.

Pandangannya jatuh ke arah Zander. Ia kemudian tersenyum ke pada anak sulungnya untuk yang pertama kali setelah sekian lama. Max tampak menggerakkan mulutnya seolah mengatakan sesuatu.

Setelah itu ia menceburkan dirinya ke dalam danau dan berenang ke tengah.

"TUAN!!!"

Semua orang melotot melihat kejadian itu.

Tubuh Zander menegang mendapati ayahnya nekat loncat ke danau.

"Kak Zander cepat tolongin Tuan Max." Aika menggoyang tubuh Zander yang diam mematung.

Tersadar, Zander langsung menceburkan dirinya kedalam danau menolong ayahnya.

"Tidak!! Aku mohon. Jangan lagi!!"

Didalam ia melihat Max sengaja menenggelamkan tubuhnya ke dasar, padahal pria itu bisa berenang.

Danau itu ternyata sangat dalam dan dingin, ditambah langit yang mendung dan minim pencahayaan Matahari membuat Zander kesusahan untuk menggapai tubuh Max.

Pada akhirnya Zander bisa meraih tubuh Max dan berenang ke permukaan.

Ternyata mereka sudah jauh di tengah, Zander menarik tubuh Max menuju pinggir danau.

Damian dan Esther dengan sigap membantu Zander mengangkat tubuh Max yang tak sadarkan diri.

"Dia baik-baik saja kan?" Tanya Aika saat Zander yang berhasil naik ke atas.

"Cuman pingsan, mungkin karena gak ada tenaga dan terlalu banyak menghirup air." Esther memberikan pertolongan pertama.

"Bawa Tuan ke kamarnya dan panggil dokter Ken ke sini." Damian memberi arahan dan mereka segera membawa Max kembali ke dalam rumah.

Aika hendak ikut menyusul Damian dan yang lain, tapi kala melihat Zander hanya diam mematung sambil menatap Max yang kondisi l sangat parah sedang di bopong, membuat Aika mengurungkan niatnya.

"Kak, lo ga papa?" Aika menyentuh lengan Zander yang terasa dingin.

"Mungkin gue salah selama ini."

Aika memincingkan matanya, "salah?"

ZANDERIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang