Bab 31

36.8K 761 64
                                        

Aika duduk dekat jendela di kamar Zander. Ia menikmati terpaan sinar mentari hangat yang baru muncul di pagi hari. Aika tak mengalihkan pandangannya dari burung-burung yang turun, hinggap di pepohonan, berkicau seolah sedang menyapa dirinya.

Rumah ini seperti rumah impian di masa tua. Pemandangan di luar sangat asri dan penuh taman hijau. Di tumbuhi tumbuhan yang rindang, bunga beraneka ragam, dan binatang-binatang kecil imut menambah keramaian di taman itu.

Walau di luar sangat berisik dengan kicauan burung, tapi pikiran Aika kosong. Kejadian kemarin masih terngiang di kepalanya. Seperti film yang di putar berulang kali tanpa henti. Membuat kepalanya sangat pusing karena tak bisa melupakan kejadian itu.

Ditambah penampilan saat ini sangat kacau, tulang kakinya retak dan rambutnya sangat berantakan.

Aika bukanlah gila penampilan tapi rambut panjangnya— Entah kenapa Aika tidak ikhlas jika di rusak seenaknya.

Zander tadi bilang semuanya sudah ia urus, ia sudah memberikan pelajaran pelajaran setimpal pada pelaku itu.

Aika sudah bilang berulang kali untuk tidak memperpanjang masalahnya tapi Zander seolah tutup mata dan tak peduli ucapannya.

Dan sekarang pria itu entah pergi kemana pagi-pagi sekali. Tiba-tiba saja Zander di panggil bawahan ayahnya untuk segera menemui Max di ruang kerjanya. Ada suatu hal mendesak yang harus di bicarakan.

Aika merasa bingung saat itu juga.

Entah kenapa ia merasa bahwa orang-orang dirumah ini sangat sibuk seperti sedang mempersiapkan untuk sesuatu hal besar yang akan menimpa keluarga ini.

Perasaannya tidak enak.
 
  
 
Tok
 

Tok
  
  
Tok
 
  
 
Celekk
  
 

Aika refleks mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat seseorang membuka pintu tersebut. Ia pikir itu Zander tapi tidak mungkin Zander mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.

Ternyata dia adalah Elena dan Lilly. Mereka berdua tersenyum cerah kepada Aika.

"Hallo, selamat pagi Kak Aika." Lilly berlari menghampiri Aika dan memeluk tubuhnya.

Aika sedikit terkejut karena kedatangan mereka tiba-tiba.

"Gimana keadaan Kak Aika? Kata Kak Zander, Kak Aika sakit. Kak Aika sakit apa?" Ucap gadis polos itu.

"Kakak udah sehat kok. Kaki kakak sakit karena habis jatuh."

"Iya kah? Terus kalo rambut Kak Aika kenapa berantakan?" Lilly adalah anak kecil yang penuh dengan rasa penasaran. Semua hal yang menarik di matanya akan selalu ia tanyakan.

"I-itu—" Aika tak mungkin kan jika harus memberitahukan hal mengerikan itu pada anak kecil.

"Rambut kakak rontok karena kurang makan sayur—" Ide yang bagus.

"Jadi kalo Lilly gak pengen rambutnya rontok kayak gini. Harus rajin-rajin makan sayur."

Elena dan Aika tertawa melihat raut wajah Lilly yang tampak bergidik ngeri.

"Benarkah mama?" Tanya gadis itu pada Elena. Ia mulai terbiasa memanggil Elena mama.

Begitupun juga Elena, ia merasa sangat nyaman dengan panggilan itu. Karena inilah momen yang sudah lama ia nantikan.

Elena meletakkan nampan berisi sarapan Aika di meja, "tentu saja. Makanya Lilly gak boleh pilih-pilih makanan. Harus banyak-banyak makan sayur. Tadi malem mama lihat Lilly gak mau makan sayur ya."

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang