Bab 43 End

28.2K 714 54
                                        

Bunga Camelia Putih.

Langit menggantung kelabu di atas pemakaman yang sunyi. Langkah sepatu hitam itu berhenti tepat di depan nisan yang masih baru.

Di tangan pria itu tergenggam satu tangkai camelia putih. Bunga yang kerap kali di panjang di meja kerja oleh ajudannya semasa hidup.

Max menatap sendu batu nisan yang bertuliskan nama ajudan itu.

Damian

Seorang lelaki tangguh yang telah mengabdi kepadanya lebih dari dua puluh tahun. Tumbuh dan berjuang bersamanya. Disaat masa terburuknya hanya Damian dan Esther yang selalu menemaninya.

Kadang ia jengkel dengan cerewetnya Damian dan tingkah konyolnya, tapi sekarang Max tidak bisa membohongi perasaannya. Ia rindu dengan omelan pria itu.

"Aku bahkan tidak mengizinkan mu untuk pergi." Max menghela napas panjang. Udara terasa berat di dadanya, seperti ada yang tertinggal dan tak bisa ia keluarkan.

"Beraninya kamu meninggalkan tuan mu begitu saja, Damian. Harusnya kamu menikmati kedamaian bersamaku disini."

Max berlutut mengelus nisan berbentuk salib itu. "Kita menang, Damian. Kita berhasil mengalahkan Satori. Dia mati membawa kehancurannya."

Angin berhembus pelan, membuat ujung jas hitamnya bergerak tipis.

"Lima tahun telah berlalu, kamu meninggalkan banyak cerita disini. Istriku melahirkan anak kembar, mereka nakalnya melebihi ekspektasi ku, kadang punggung ku sakit sekali menemani mereka main." Max terkekeh mengingat dulu pernah tumbang hanya karena mengurus si kembar waktu masih bayi.

"Lilly keponakan kesayanganmu itu, sudah besar. Dia jadi gadis yang cantik dan menggemaskan. Kadang aku tak bisa membayangkan jika dia nanti akan menikah dan ikut dengan suaminya. Aku harap, aku masih punya waktu seribu tahun untuk bersamanya."

Ia tampak menikmati mengobrol dengan Damian walau tahu orang itu tak akan pernah bisa membalasnya.

"Lalu, Zander. Putra tertuaku." Senyum tipis terbit di sudut bibirnya sebelum melanjutkan cerita.

"Dia besok akan menikah dengan gadis pilihannya." Ia terkekeh pelan, namun kali ini matanya sedikit memerah.

"Aku tak menyangka sudah akan melepaskan salah satu anakku untuk berumah tangga-kamu tahu, Damian. Aku seperti menyesal dulu mengacuhkan anak-anakku, terlebih lagi Zander. Anak itu benar-benar tumbuh tanpa kehadiranku. Aku ayah yang buruk."

Tanpa sadar airmata Max menetes, penyesalan seorang ayah itu sangat dalam. Bahkan untuk menerima obatnya saja tampak sangat tidak mungkin ia dapatkan.

"Waktu mereka kecil, aku ingin sekali menggendong mereka, mencium mereka, atau sekedar menemani mereka bermain-tapi aku terlalu pengecut. Hanya sekedar memeluk tubuh mereka, aku takut mereka akan mati karena Satori mengetahui kelemahanku. Jujur saja Damian, aku hancur saat anak-anakku mulai membenciku karena kesalahpahaman itu. Aku terpaksa acuh pada mereka karena tak ingin mengundang perhatian Satori."

Ia mengusap permukaan batu nisan berbentuk salib itu dengan lembut, seakan menyentuh bahu sahabat lamanya.

"Tapi sekarang aku bebas menyentuh mereka. Untuk Zander aku kurang puas menghabiskan waktu bersamanya-dia sudah mau pergi begitu saja bersama calon istrinya."

Angin bertiup sedikit lebih kuat, membuat camelia putih itu bergetar lembut.

"Asal kamu tahu, Damian. Putra ku itu pandai sekali mencari calon istri, dia secantik bunga yang aku bawakan untukmu."

Max meletakkan dengan rapi bunga itu tepat di depan nisan Damian.

"Besok dia akan semakin cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih berkilau. Aku yang akan mendampinginya berjalan di menuju altar sebelum ku serahkan pada putraku."

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang