Bab 36

40.2K 1.6K 427
                                        

Pagi itu cerah, langit tak berawan, dan sinar matahari memantul lembut pada kaca-kaca gedung. Jalanan mulai dipenuhi mobil, namun suasana masih tenang ketika Zander menepikan kendaraannya di depan sebuah toko bunga kecil di sudut kota. Mesin mobilnya masih berputar pelan saat ia menghela napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian sebelum keluar.

Toko bunga itu sederhana, tetapi dipenuhi warna dari rangkaian bunga yang dipajang di luar. Aroma segar mawar dan lili terbawa angin, menyapa begitu Zander membuka pintu mobil.

Ia turun perlahan, menutup pintu di belakangnya. Langkahnya mantap namun ada sesuatu yang tertahan di sorot matanya, sesuatu yang tidak bisa benar-benar ia sembunyikan meski hari itu begitu terang.

"Selamat datang." Sapa pemilik toko yang sudah berusia lanjut.

Zander tersenyum tipis menanggapi sapaan wanita tua itu.

Kemudian pandangannya mengedar ke seluruh penjuru toko. Matanya menelisik setiap bunga, mencari jenis bunga baru di toko ini.

"Apa ada yang terbaru?" Seru Zander.

Wanita tua itu menghampiri Zander, "Bunga Camelia putih, itu yang terbaru." Tunjuk nya pada bunga putih yang tampak mekar dengan segar di rak paling depan.

"Bunga itu baru datang tadi malam loh."

"Cantik."

Wanita tua itu tersenyum, "kali ini mau di bawa ke rumah sakit atau pemakaman?"

"Pemakaman." Jawab Zander singkat.

"Hari ini memasuki tahun ke 5 dia pergi meninggalkan dunia ini."

Mendadak ekspresi wajah wanita tua itu berubah sendu. "Aku tahu rasanya kehilangan seseorang terdekat kita, rasanya seperti dunia berubah menjadi neraka." Wanita tua itu tiba-tiba teringat ketika suaminya meninggalkan dia untuk selamanya. Hanya kesepian yang dia dapatkan.

"Aku tahu itu."

"Baiklah, kamu ingin satu buket kan? Pita warna apa kali ini."

Zander melihat jejeran pita yang menggantung rapi di tempat nenek bekerja. Banyak sekali warna dan jenisnya, namun sorot mata Zander tertarik pada salah satu pita yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

"Apa itu baru?" Tunjuk nya pada pita warna biru laut.

"Ya, baru datang kemarin. Baguskan ada kerlap kerlip nya. " Gliter yang di maksud nenek.

"Ya, sangat menarik. Aku ingin pita itu."

"Baik. Tunggulah sebentar." Zander mengangguk, ia kemudian duduk di salah satu kursi disana.

Sedangkan nenek membuatkan pesanan untuk Zander.

Tak membutuhkan waktu lama pesanannya siap. Walau sudah tua tapi nenek itu terbilang cukup cepat dalam melakukan pekerjaannya.

"Terimakasih." Ucap Zander setelah menerima buket itu.

Nenek itu mengangguk pelan, memahami lebih dari yang terucap. "Kamu akan langsung ke pemakaman?"

"Ya." Jawaban Zander pendek, seperti biasa.

Wanita tua itu menatap pemuda itu dengan mata yang penuh empati. "Zander… kamu sudah tiga tahun datang ke sini. Membeli bunga, lalu pergi ke sana... Tapi sorot matamu seperti mengatakan ada penyesalan mendalam."

Nenek itu tahu apa yang Zander rasakan sebenarnya. Kesedihan dan penyesalan.

Namun, nenek tahu, semua adalah takdir yang bermain, bukan salah Zander.

"Dia terlalu banyak berkorban untuk keluarga ku. Aku hanya merasa seperti sudah mengambilnya dari keluarganya."

Nenek itu memandang Zander sendu sambil menghela nafas pelan, "tidak ada manusia yang bisa memutus benang merah. Semua orang pergi karena sudah takdir mereka. Percuma jika kamu menyalahkan dirimu sendiri."

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang