Bab 40

20K 480 20
                                        

Karla tak habis pikir tamu yang diomongkan mamanya tadi ternyata Silas. Karla tak mengira jika papanya berteman dengan papanya Silas. Bagaimana bisa?

Kalaupun bisa? Bagaimana Karla baru tahu fakta ini. Memangnya sejak kapan papanya Karla berteman dengan papanya Silas.

Fakta yang cukup membuat terkejut.

Sekarang ini Karla baru selesai membersihkan kamar yang akan di pakai oleh Silas. Cukup banyak debu karena sangat jarang sekali di pakai, tapi Karla sudah memastikan bahwa kamar itu bersih dan higenis untuk di gunakan oleh Silas. Hanya saja tidak usah berharap banyak akan kemewahannya. Kamar itu tidak seluas dan semewah kamar di hotel.

Bukan karena tidak mampu, hanya saja bentukan rumah ini memang sederhana menyesuaikan lingkungan didesa.

Karla menghampiri Silas. Pria itu duduk di sofa sambil melihat keluar jendela yang menampilkan  rerumputan dan pepohonan hijau yang rindang.

"Emm...kak...aku sudah bersihin kamarnya. Kak Silas bisa taruh barang-barangnya di kamar kakak." Ucap Karla sedikit gugup. Ia sangat canggung sekali. Dulu waktu satu sekolah ia bahkan sangat jarang berbicara dengan Silas, apalagi sekarang mereka bertemu lagi.

Silas mengalihkan pandangannya ke Karla. Pria itu kemudian berdiri dan mengambil koper di sampingnya.

"Bantu aku!" Ucap Silas dengan raut wajah datar. Pria itu berjalan mendahului Karla.

"Maaf kak kamarnya kecil, mungkin gak seluar kamar Kak Silas."

"Nothing." Silas kemudian membuka kopernya. Isinya beberapa pakaiannya, sepatu, dan ada beberapa kotak di dalam.

Karla sedikit ragu menyentuh barang pribadi milik Silas, tapi tadi Silas menyuruh untuk membantunya.

"Aku bantuin pindahin ya kak."

Karla mengambil pakaian Silas di koper dan di pindahkan ke dalam lemari.

Lipatan demi lipatan pakaian Silas Karla susun rapi di dalam lemari. Aroma maskulin yang samar menempel di setiap kain, membuat Karla tanpa sadar menahan napas sejenak. Ia mencoba fokus, meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Silas yang berdiri disampingnya tampak mengapati gerakan Karla.

"Kemana saja kamu setelah kelulusan?" Ujar Silas tiba-tiba.

Gerakan Karla terhenti, "aku ke Australia, Kak. Aku kuliah disana mengambil jurusan pertanian dan peternakan, setelah itu aku pergi ke sini melanjutkan usaha keluarga."

"Aku juga disana, Sidney."

Karla sedikit terkejut. "Benarkah? Kamu juga kuliah di, Sidney?"

Silas berdeham.

"Aku baru tahu Kak Silas kuliah disana."

"Duduklah! Aku ingin mengobrol dengan mu." Silas menepuk pinggiran kasur yang sedang ia duduki.

Tanpa membantah Karla pun duduk di samping Silas. Jantung Karla sedikit berdebar. Entah kenapa Silas lebih tinggi dari terakhir mereka bertemu saat SMA dan juga tubuhnya lebih besar. Karla tebak pria ini memang rajin olahraga.

"Jadi Kak Silas habis lulus langsung ke Australia?" Karla mencoba membuka pembicaraan kembali.

"Tidak."

"Masih di Kota Selatan?"

"Iya. Satu tahun setelah lulus, baru ke Australia." Ucap Silas sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Karla.

Gadis itu sampai dibuat canggung karenanya. Matanya kerap kali kabur-kaburan karena Silas terlalu lama menatapnya, tapi sangat tidak sopan kalau sedang berbicara tidak menatap orangnya.

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang