Kosong.
Pikiran Zander mendadak kosong. Keduanya telinganya bengung meblock suara luar untuk masuk kedalam kepalanya.
Zander terpaku, napasnya tercekat ketika potongan tangan itu tergeletak di hadapannya — bukan sekadar bukti, namun sebuah peringatan bahwa ayahnya telah tiada. Semua ruang seketika terasa hampa, hanya ada suara gesekan sepatu, desah pelayan Satori, dan tawa kecil pria tua itu yang menusuk lebih dalam daripada belati manapun.
"Hahaha, dimana sikap angkuh mu itu.... hm. " Satori berjalan mendekat ke arah cucunya yang tampak sangat terpukul.
"Lihatlah bocah sombong ini tidak bisa berbuat apa-apa saat kematian menghancurkan ayahnya." Belas kasihnya, namun nadanya terdengar sangat mengejek.
"Kau hanyalah orang lemah yang tidak bisa melindungi keluarga mu sendiri." Satori menatap remeh Zander.
Ia tersenyum miring, "sia-sia darah Theodore mengalir dalam tubuh mu. Darah yang sangat kuat itu, mengalir di tubuh yang lemah......Cihh menyedihkan."
"Andai sedari dulu kamu menyerahkan diri, menurut saja pada ku. Kamu tidak akan kehilangan banyak orang yang kamu sayangi."
Zander masih tak bergeming, fokus matanya melihat ke arah tangan Max yang tergeletak di hadapannya.
Tidak mungkin salah.
Itu tangan ayahnya.
"Darton. Keluarkan mereka!"
Satori menyuruh bawahannya untuk mengeluarkan seseorang yang dia maksud.
Brughhh
"Arghhh..."
Satori tersenyum miring, kulit keriputnya tampak semakin mengerut karena senyuman jahatnya.
Ia melihat Zander.
Pria itu tampak tercekat melihat teman-temannya yang ikut menyusup tumbang begitu saja di hadapannya.
"Lihatlah teman temanmu yang sangat hebat itu. Ya ku akui kekuatan mereka lumayan untuk untuk seukuran bocah ingusan, tapi tentu saja tandingan mereka bukanlah aku."
Satori mengusap bahu Zander seolah menghibur cucunya, "menarik bukan? Bagaimana perasaanmu ketika melihat ayahmu mati, dan teman temanmu tumbang begitu saja."
Salvero meringis, ia masih sadar, namun sisa tenaganya tinggal sedikit. Lawan berhasil mengalahkannya karena mereka berhasil menembak titik lemahnya.
Ia melihat ketiga temannya yang tak sadarkan diri disampingnya. Mereka juga terluka parah.
Salvero mengepalkan tangannya kuat.
Samar-samar ia bisa melihat Zander didepan sana. Pria itu tampak tak baik-baik saja.
Salvero harus segera menenangkan pria itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
"Z-zander." Gumam Salvero lirih, tak ada yang dapat mendengarnya.
Salvero hendak menggerakkan tubuhnya namun percuma.
Tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak.
"Aku punya kejutan lain untuk mu. Bagaimana kalau kita mengeluarkan secara bersamaan."
Tidak ada respon dari Zander.
Satori terkekeh pelan. Kemudian mengkode bawahannya untuk membawakan kejutan yang di tunggu tunggu.
"Darton. Tunjukkan bagian paling menarik dari pertunjukan kita."
Para bawahan itu mengeluarkan dua sosok yang mampu mambuat Zander berada di batas maksimal.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZANDERION
Romance[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.] Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
