Bab 27

33.3K 578 14
                                        

Sore hari ketika mentari hampir menenggelamkan dirinya sepenuhnya. Max kembali datang ke cafe milik wanita yang sedang hamil calon anaknya. Suasana cafe tampak ramai oleh pengunjung yang kebanyakan karyawan kantoran yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka.

Max meneliti setiap orang yang ada disini mencari wanita hamil di antara kumpulan orang.

Melihat pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan, ia bertanya kepadanya, "dimana aku bisa bertemu dengan bos mu?!"

"Maksud anda, Nyonya Elena?"

Max baru sadar, ia tak ingat nama wanita itu. Damian pernah mengatakan tapi Max tak begitu memperdulikan.

"Wanita hamil." Hanya itu ciri fisik yang Max ingat.

Pelayan itu terkekeh pelan, "ya, yang Anda maksud itu Nyonya Elena."

"Aku ingin bertemu dengannya."

"Nyonya sudah pulang kerumahnya."

"Dimana rumahnya?"

Pelayan itu tampak ragu untuk memberitahukan alamat bosnya pada Max.

"Maaf, anda ini siapa? Apa ada keperluan penting sampai harus ke rumah bos saya?" Tanya pelayan itu hati-hati.

"Aku calon suaminya dan anak yang dia kandung adalah anakku! Cepat beritahukan alamat nya sebelum kamu ku musnahkan sekarang juga."

 
Setelah mendapatkan alamat wanita yang ia cari. Max kemudian berakhir di depan rumah sederhana bercat putih dengan taman mini bernuansa sangat asri di tumbuhi beberapa tanaman hias berwarna hijau dan ada kolam kecil di sudut taman.

Gerbang kecil sebagai pintu masuk area rumah itu tidak di kunci. Tidak ada gembok yang bertenger. Sepertinya memang sengaja tidak di kunci.

Sangat tidak aman pikir Max. Bagaiamana jika ada orang yang punya niat jahat masuk kedalam rumahnya? Bukankah wanita itu sedang membahayakan dirinya sendiri.

Max langsung menekan bel di samping pintu rumah.

Tak lama seorang wanita berpakaian dress panjang ala rumahan tanpa lengan dengan belahan dada yang cukup rendah, muncul di balik pintu.

"Bisa kita bicara sebentar."

Bisa Max lihat, mata Elena membola sempurna. Sangat lucu ekspresi terkejut nya, mungkin ia kaget mendapati laki-laki yang sangat di hindarinya tiba-tiba sekarang ada di hadapannya.

"A-anda kan. Pria yang datang ke cafe bersama dengan asisten anda."

"Ya, aku juga pria yang sama menghabiskan satu malam bersama mu lima bulan yang lalu." Ucap Max dengan ekspresi datar, memandang raut wajah Elena yang tampak takutan.

Elena menunduk menghindari adu tatap dengan Max. Dadanya berdengung kencang, "anda ingat ya ternyata." Ucap Elena gugup.

"Aku tidak akan pernah lupa malam itu." Max kemudian melirik perut Elena yang membesar. Ia kemudian tersenyum miring, "ah, sudah lama tidak ku gunakan ternyata masih berfungsi dengan baik ya. Siapa sangka sekali masuk langsung jadi."

Elena spontan memeluk perutnya. Max maju selangkah mendekati Elena, tapi gadis itu langsung memundurkan langkah. "Siapa sangka akan sebesar ini." Max terus mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka,

"Anehnya kamu tidak mencari ku selama ini. Apa kamu mencoba menyembunyikannya dariku?” Bisiknya tepat di telinga Aika.

“Aku yakin namaku tidak sesulit itu untuk di cari, semua orang mengenalku karena aku penguasa Wilayah Selatan.” Lanjutnya sambil membelai surai Panjang Elena.

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang