Berhubung masih libur, siangnya Zander menjemput Lilly disekolah. Zander menunggu di tempat teduh bawah pohon beringin di dekat gerbang utama. Sudah sepuluh menitan Zander menunggu, dilihatnya murid-murid yang lain sudah pada keluar namun adiknya itu belum juga terlihat.
Akhirnya Zander memutuskan untuk menjemput Lilly di kelasnya langsung.
Saat menyusuri lorong, Zander melihat Lilly bersama seorang wanita yang ia yakini adalah seorang guru disini.
Mereka tampak asik mengobrol sambil memakan donat.
"Lilly."
Lilly menoleh kala namanya Zander panggil.
"Kakak." Dengan semangat gadis itu langsung menghamburkan pelukannya ke tubuh Zander.
Perasaan rindu yang mendalam karena akhir-akhir ini mereka jarang sekali bertemu.
"Kakak kok gak pernah pulang? Padahal tadi malem Lilly nungguin kakak pulang tapi kata papa kakak gak pulang."
Zander merasa bersalah pada Lilly. Memang akhir-akhir ini dia sibuk sekali dengan urusannya sendiri.
"Maaf ya. Kakak lagi sibuk banget."
"Kakak tahu nggak, kita udah pindah rumah loh kak. Katanya rumah lama kebakaran ya kak? Terus papa beli rumah yang baru. Bangus banget loh, kakak udah liat belom?"
Zander tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Lilly, "udah. Kamu suka rumah baru nya?"
Nona kecil itu mengangguk semangat, "sukaaa banget. Ada danaunya dibelakang rumah, terus juga ada penginapan kecil. Katanya buat kita sekeluarga menginap kalo liburan ke danau."
"Kalau begitu kapan-kapan kita menginap di sana bagaimana?"
"Sama papa mama juga?" Tanya Lilly dengan ekspresi yang tak pernah memudar.
Zander diam sejenak kala mendengarnya, "iya, sama mama juga."
"Papa gak di ajak?" Ucap Lilly cemberut membuat Zander gemas.
"Ogah banget."
"Iya-iya papa juga di ajak. Udah yuk, ayo kita pulang." Zander mengandeng tangan Lilly hendak mengajaknya pergi.
Tapi Lilly menahannya.
"Kak, bentar."
"Kenapa?" Sebelah alis Zander terangkat.
"Boleh gak kalo Bu Tiffany main kerumah kita."
Zander kemudian mengalihkan pandangannya ke Tiffany yang tersenyum ke arahnya.
Zander menatapnya datar.
"Ngapain?" Tanya Zander ke Lilly.
"Lilly mau main sama Bu Tiffany."
"Main sama kakak aja."
Lilly menghentakkan kakinya kesal.
"Gak mau. Kakak gak bisa main boneka-bonekaan."
"Bisa kok, tinggal digerak-gerakin."
"Tapi pasti nanti akhirnya jadi adegan tembak-tembakan. Lilly kan anak perempuan bukan anak laki-laki. Lilly gak suka."
Zander mengaruk kepalanya yang tak gatal. Sejujurnya ia memang tak paham sih mainan perempuan yang satu itu.
"Main sama Bibi aja kalo gitu."
"Gak mau, Lilly maunya sama Bu Tiffany."
Zander menghela nafas. Ia paling tidak suka jika harus membawa orang asing masuk kedalam lingkungan keluarganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZANDERION
Romance[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.] Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
