Tubuh Aika mendadak kaku seperti patung di belakang Zander, tangannya meremas ujung jaket Zander yang masih ia kenakan, dan kepala menunduk tak berani mengadah untuk melihat sosok pria dewasa didepan sana.
Bukan takut karena tampang menyeramkan orang itu, tapi aura mencengkam yang keluar dari anak dan ayah ini seolah sedang berselisih siap untuk saling menikam.
Sepertinya memang benar ucapan Lilly, hubungan para anak dan ayah sangat tidak harmonis.
"Dari mana saja kamu?" Ucap Max yang baru saja keluar dari kamar. Penampilan pria itu masih sama waktu pulang dari kantor, namun sedikit berantakan dengan tiga kancing kemeja hitam yang terbuka. Sehingga menampilkan dada bidangnya. Aika sedikit terpesona melihat dada Max yang tak kalah mantab dengan punya Zander.
Hei, Aika juga gadis normalah.
"Bukan urusan anda!" Balas Zander, sengit.
"Apa kamu lupa? kamu punya batasan disini!"
"Sepertinya anda juga lupa. Anda tak punya hak atas saya."
Tatapan Max menajam, "kamu punya dua pilihan Zander, hidup mu ku atur atau kakek mu yang mengaturmu." Ucap Max, intonasinya terdengar serius.
Aika melirik Zander mengepalkan tangannya sampai terlihat otot-otot menjalar di lengan, rahangnya menggertak sampai berbunyi. Emosi Zander naik beberapa oktaf.
Zander tahu maksud Max. Pilihan yang paling tepat memang hidup di atur Max. Pria tua itu memang sedikit membebaskannya tapi Zander tidak suka dengan Max. Entahlah Zander sangat membenci Max.
Namun, jika hidup diatur kakeknya mungkin sekarang Zander sudah mati tinggal nama. Kakek Zander adalah orang yang sangat kejam, hidup bersama orang itu seperti bejalan di atas aspal mendidih.
Dengan kata lain, Zander tidak punya pilihan selain hidup dibawah aturan Max.
Zander benci mengakuinya.
"Orang busuk seperti kalian seharusnya cepat mati! Saya muak dengan darah ini."
"Itulah salahmu lahir dan memilih darah Argantara." Kata Max menantang.
"Menjijikan!! Lebih baik anda pergi pindah ke kamar yang lain, jauh dari hadapan saya."
Max menghela nafas. Sudah tak kaget Max mendengar sumpah serapah dari anak sulungnya ini.
"Terserah."
Kemudian Max beralih melihat sosok yang sedari tadi bersembunyi di belakang Zander. Max baru sadar ada sosok lain diantara mereka bedua.
"Siapa dia?"
"Bukan urusanmu." Tangan Zander mendorong tubuh Aika merapat ke punggungnya, seolah berusaha menyembunyikan Aika dari Max.
"Pacar mu?" Tanya lagi.
"Bukan siapa-siapa."
Max memandang Zander tak percaya, pria itu juga tahu bagaimana sifat Zander yang seakan alergi perempuan. Mustahil sekarang membawa seorang gadis jika tidak punya hubungan khusus.
Melihat respon Zander yang seakan mencoba menyembunyikan Aika darinya membuat Max yakin, Aika adalah salah satu orang spesial bagi Zander. Pikir Max.
"Lalu kenapa kamu membawanya kesini? Rumah ini bukanlah tempat yang aman untuk gadis biasa sepertinya."
"Aku tahu."
Max memijit pangkal hidungnya, sembari salah satu tangannya berkacak pinggang, sangat lelah.
"Banyak mata dan telinga disini. Bahkan dinding pun bisa melihat. Hati-hatilah, kalau tidak ingin dia bernasib sama dengan ibu mu."
Tubuh Zander menegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZANDERION
Romansa[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.] Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
