Bab 35

34.4K 844 90
                                        

Sirene ambulans meraung menembus malam, membelah udara seperti jeritan panjang yang tak kunjung habis. Tubuh Aika terbaring di atas tandu.

Pucat, dingin, penuh darah yang belum sempat mengering. Tangannya terkulai, seolah hanya sehelai benang tipis yang masih menahan hidupnya.

Sesampainya ambulans dirumah sakit, Aika segera di keluarkan dari dalam mobil.

Banyak para medis yang sudah menunggu di luar, membantu mengeluarkan Aika dan memberikan penanganan cepat.

Zander melompat turun dari ambulans sebelum petugas sempat menahannya. Nafasnya memburu, matanya hanya terpaku pada tubuh Aika yang digotong masuk ke dalam rumah sakit.

"GUE AKAN BUNUH KALIAN SEMUA KALAU KALIAN GAK BISA NYELAMETIN GADIS INI!!" Memang bukanlah permintaan sopan yang seharusnya ia ucapkan kepada sosok yang akan menyelamatkan kekasihnya.

Zander tak peduli, ia hanya ingin Aika nya selamat dan kembali kepadanya.

Semua para medis yang mendengarnya sontak langsung gemetar ketakutan, ludah yang seharusnya lancar tertelan menjadi mengganjal di tenggorokan.

Mereka tentu tahu siapa yang baru saja berbicara. Seseorang yang bisa kapan saja mencabut nyawa mereka menggantikan tugas malaikat pencabut nyawa.

"Tenang, Zan. Jika kamu mengamuk sekarang, kamu hanya akan memperumit keadaan." Tegur Max, ia kemudian membantu istrinya turun dari ambulan.

"Mohon maaf, kita harus segara membawanya ke ruang operasi."

Para perawat mendorong tandu Aika melintasi pintu operasi dengan kecepatan yang membuat roda tandu berdecit. Darah yang membasahi kain di bawah tubuh Aika menetes, meninggalkan jejak yang membuat jantung Zander serasa diremas setiap kali tetesan itu jatuh.

Zander hendak mengikuti, namun Max menahan dadanya dengan lengan kuat.
"Zan, dengarkan papa dulu."

"Aku harus ikut! Lepaskan!" Zander meronta, tetapi Max menggenggam bajunya, menyeretnya beberapa langkah ke belakang.

"Biarkan mereka melakukan pekerjaannya."

Zander menyentak tangan Max dari tubuhnya.

"Tidak, aku ingin di samping Aika. Aku tidak bisa membiarkan dia berjuang sendiri." Ucap Zander seperti orang yang tidak bisa di hentikan.

Zander hendak kembali masuk, namun Max kembali menghadangnya.

"Berpikirlah, bodoh. Kamu hanya akan menganggu para dokter yang sedang bekerja."

Zander terdiam sepersekian detik. Nafasnya terputus-putus. Urat halus di pelipisnya tampak menegang.

Pintu operasi di tutup. Menyisakan Max dan Zander di luar.

Bagaimana dengan Elena? Wanita hamil itu di larikan ke ICU untuk mendapatkan penanganan pertama. Max takut jika wanita hamil itu ada luka serius di tubuhnya.

Zander menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu. Ia meraup wajahnya kasar.

Jemarinya bergetar, dadanya naik turun tak beraturan. Pintu ruang operasi yang tertutup rapat di depannya membuatnya merasa seolah seluruh dunia menurunkannya ke jurang gelap sendirian, tak berdaya, dan tercekik rasa takut.

Sungguh ia tidak ingin kembali merasakan hal kehilangan lagi.

"Zan…" Max perlahan mendekat.

Namun Zander tak menjawab.
Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.

"Aika… kenapa harus dia?" gumamnya lirih, suaranya pecah seperti kaca retak. "Kenapa bukan aku saja?"

Max menahan napas. Pertanyaan itu menusuk terlalu dalam.

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang