Sesampainya disana Zander dan yang lain melihat banyak sekali warga mengerubungi gerbang pintu masuk rumah Zander untuk melihat kobaran api yang sangat jauh disana. Terlihat juga pemadam kebakaran, anehnya mereka tak berbuat apa-apa dan, raut wajah mereka tampak bingung, hanya bisa menyaksikan kobaran api itu semakin melahap mesion mewah yang hampir jadi arang seutuhnya.
"Anjirr Zen rumah lo?! Gosong."
"Ini kenapa bisa jadi seperti ini?"
Elios dan Kenzo menerka-nerka. Tiba-tiba seorang nenek-nenek datang menghampiri Zander. Menatap Zander dengan tatapan malang.
"Kemana saja kamu nak? Ayah mu sedari tadi juga tidak terlihat. Lalu dimana adikmu? Apa dia baik-baik saja."
"Dia ada di sekolah." Ucap Zander pelan. Tentu saja dia masih shock, siapa yang tidak kaget kalau melihat terbakar kobaran api. Terdengar konyol memang rumah semegah itu terbakar.
"Nek bagaimana kejadiannya? Kenapa rumah Zander bisa terbakar?" Ucap Ryuu pada nenek tetangga Zander itu.
"Nenek juga tidak tahu Nak, tiba-tiba terdengar ledakan dari rumah itu, kemudian muncul kobaran api yang sangat besar. Apinya menyebar sangat cepat. Kami memanggil pemadam kebakaran tapi pintu gerbangnya tidak bisa di buka, sepertinya menggunakan sistem otomatis."
Kemudian nenek itu memandang sendu Zander dan mengelus lengan pria itu.
"Maaf, Nak Zander. Kami tidak bisa melakukan apa-apa."
"Tidak apa-apa nek."
"Tuan Muda."
Edward datang dengan muka cemas yang sangat ketara di wajahnya. Diikuti oleh beberapa pelayan yang lain yang tampak baik-baik saja.
"Edward."
"Apa anda baik-baik saja, Tuan. Saya mencoba menelfon anda dari tadi tapi ponsel anda tidak aktif."
"Ponselku tertinggal di rumah yang sudah jadi arang itu." Tunjuk Zander pada rumahnya yang sudah hangus terbakar.
Lalu ia menatap Edward tajam,
"Jelaskan padaku, kenapa bisa rumah itu terbakar Edward? Aku tahu rumah itu mustahil hancur hanya karena kecelakaan konyol yang di sebabkan oleh pelayan."
Edward menunduk, mendadak gugup untuk menjelaskan. Sebenarnya ia juga bingung harus menjelaskan kejadian ini bagaimana kepada Zander.
"Ini bukanlah kesalahan yang dilakukan pelayan Tuan."
"Ya, dan aku tidak sebodoh itu untuk menyalahkan mereka."
Edward meremas kedua tangannya yang sudah keringat dingin, "sebenarnya, Tuan Max yang melakukannya."
Zander dan teman-temannya kaget. Tak menyangka dalang di balik semua ini adalah pemilik rumah.
Tiba-tiba darah Zander mendidih, emosinya meluap begitu saja mendengar fakta konyol dari Edward.
Ayah luas biasa yang sehari saja pasti ada gebrakannya.
Hebat.
"Dimana orang itu?"
"Tuan Besar, dia ada di—"
"Owh, kamu sudah ada disini? Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu mencarimu."
Tiba-tiba Max datang, ia baru saja keluar dari mobil yang ia kendarai.
Lelaki itu menatap nyalang ayah kadungnya penuh amarah, seperti tak kenal takut, Zander beradu tatap dengan dagu yang begitu angkuh.
Seperti tidak ada sopan santun, tapi siapa yang peduli? Zander? Sopan santun pemuda itu sudah hilang sejak ibunya pergi dari rumah itu.
"Jelaskan semua ini!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ZANDERION
Romance[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.] Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
