Beberapa hari setelah menemukan makam Emelly. Kondisi Max dan Zander tidak baik-baik saja. Suasana rumah yang baru saja ia beli mendadak suram tak ada tanda-tanda kehidupan dari si pemilik rumah.
Max mengurung diri di ruang kerjanya. Sudah seminggu dia tidak keluar dari sana. Damian, Esther, dan para pelayan sangat khawatir dengannya yang tidak mau makan sedikit pun.
Berulang kali pelayan membawakannya makanan, namun selalu di buang oleh Max. Pria itu hanya meminta untuk di bawakan Wine dan beberapa jenis minuman beralkohol lain, kemudian mengusir pelayan yang membawakan ke ruang kerjanya.
Seolah Max sedang menyiksa diri dengan meminum wine setiap hari, tidak tidur, tidak makan, dan bahkan tidak mandi.
Damian dan Esther tidak bisa berbuat apa apa. Pernah kemarin mereka memaksa Max untuk bangkit tapi dia malah mengeluarkan pistolnya dan mengancam akan menembak kepala mereka.
Berulang kali mereka membujuk Max untuk keluar, hasilnya selalu sia-sia.
Sampai Lilly pun harus turun tangan. Awalnya mereka mengira Max luluh juga karena waktu Lilly membujuknya, Max langsung memeluk tubuh ringkih anak gadisnya, sambil menangis tersedu-sedu tanpa mengatakan apa-apa.
Namun kejadian itu hanya beberapa saat saja. Max kembali ke setelan awal.
Sedangkan Zander tak jauh sama dengan Max.
Pemuda itu kebanyakan melamun, duduk di balkon kamarnya, di apartemen. Bedanya kesadaran Zander masih utuh, tidak direnggut oleh minuman beralkohol.
Zander hanya mengkonsumsi kopi dan rokok.
Tidak ada makanan yang masuk dalam perutnya selama berhari-hari.
Sakit hati nya sudah membuat perutnya kenyang hingga lapar tak pernah datang lagi.
Sudah belasan bungkus rokok yang Zander habiskan. Sudah puluhan gelas kopi yang Zander minum.
Nyatanya itu semua tidak memungkiri dirinya akan sakit dan sang ibu kembali hidup karena khawatir.
Yang di lakukan Zander seperti sedang demo kepada Tuhan. Dia tak Terima jika ia merenggut nyawa ibunya begitu saja.
Aika yang tinggal bersamanya khawatir melihat kondisi Zander yang seperti itu. Ia lebih memilih melihat Zander yang menyebalkan dari pada Zander yang tampak tak bernyawa.
Sudah tiga hari ini Aika mengambil cuti sekolah dan kerja partimenya karena Zander tidak ada yang menjaga.
Teman-teman Zander kesini hanya setiap malam saja sampai pagi. Mereka menginap setelahnya mereka pulang dan pergi ke sekolah.
Dan siangnya Aika yang mengurus Zander.
Seperti saat ini, Aika membawakan makan siang Zander ke kamarnya dan berniat memaksa pria itu makan karena sudah jengah melihat Zander seperti manusia tanpa nyawa.
"Kak makan dulu yuk. Gue bawain sop kentang kesukaan lo."
Aika menaruh makanannya di meja. Zander masih setia duduk di balkon kamarnya, memandang langit luar yang mendung di liputi awan hitam, seolah mendukung perasaannya yang diliputi gundah gelisah.
Zander tidak menoleh sekalipun, ia lebih memilih mengihisap rokoknya dan tak memperdulikan Aika.
Ya, beginilah jika Zander disuruh makan.
Mau di bilangin pakai toa masjid sekalipun telinganya akan selalu tuli.
Aika menghela nafas, ia menghampiri Zander dan duduk di depan pria itu.
Barulah Zander menoleh, Aika menatap sorot mata Zander begitu dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZANDERION
Romance[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.] Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
