Chapter spesial
(chapter pemanasan sebelum cerita intinya dimulai:)
~••••~
Tiga hari berlalu.
Udara dingin menusuk kulit hingga ketulang. Kicauan burung yang biasanya terdengar di pagi hari entah kemana perginya, sunyi hanya ada suara berisik dari beberapa pekerja yang sedang menjalankan tugas mereka membersihkan halaman depan rumah.
Pagi ini cuacanya sangat mendung, anginnya sangat kencang. Deru ombak terdengar sangat ganas dari dalam rumah, tampak Neptunus sedang tidak mood hari ini.
Dua pasang mata kecil melihat langit yang sangat gelap dari dalam jendela rumahnya. Niat mereka ingin pergi main keluar untuk berburu kerang gagal sudah karena Neptunus yang bad mood.
Maven melirik ember merah kecil disampingnya. Bibirnya mengerucut lucu, lantas ia beralih melihat kembarannya yang ada di sampingnya.
"Aku takut, Ven." Ujar Maros pada Maven.
"Anginnya kenceng banget." Lanjutnya.
"Mati listrik ya?" Maven menatap ke sekeliling rumah. Gelap sekali, Ac-nya juga mati.
"Papa sama mama mana?"
Maven menggeleng tak tahu. Maros menggenggam sebelah tangan Maven, tampak imut sekali kedua bocah itu sedang ketakutan.
"Kak Lilly?"
"Kak Lilly kan lagi study tour ke Kanada."
"Abang?"
"Abang gak pulang semalem."
DUARR!!!
Kedua anak itu terkejut saling memeluk. Suara petir begitu kencang dari luar. Mereka menjerit begitu kencang.
Tubuh mungil mereka semakin gemetar ketakutan. Lampu-lampu di atas mulai bergoyang karena kencangnya angin.
"Hikss takutt...Mama...Papa..."
"Hikss...mama..papa...kemana...hikss..."
Dok
Dok
Dok
Suara aneh itu berasal dari pintu utama. Suaranya seperti pintu itu seperti dipukul dengan balok kayu yang sangat besar.
"Itu siapa, Ven."
"A-aku juga gak tahu."
Srekkk
Kemudian terdengar suara langkah kaki yang menyeramkan dan terdengar besi yang diserat semakin mendekat.
Maven dan Maros saling pandang, dada kecil mereka naik turun dengan nafas memburu karena ketakutan.
Tok
Tok
Suara jendela di ketuk dari luar.
Nafas keduanya tercekat, badan mereka serasa membeku di tempat. Maros menggelengkan kepala, ia tak berani hanya sekedar menoleh ke arah jendela.
Maven, bocah itu penasaran dengan sosok yang baru saja mengetuk jendela tepat depan mereka berdiri, namun Maven tak berani melirik langsung kesamping, bocah itu menunduk melihat ke bawah.
Seketika Maven langsung menutup matanya erat-erat, ia memegang tangan Maros lumayan erat, Maros bisa merasakan tangan kembarannya ini berkeringat.
"Jangan lihat, jangan lihat!!" Ujar Maven pada Maros.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZANDERION
Romance[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.] Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
