[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.]
Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me
Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
Dua kata dari Zander untuk mengungkapkan definisi rumah baru yang akan di tinggalinya.
Kecil
Sederhana
Mungkin kalau di bandingkan dengan rumah lamanya sungguh hanya seperempat nya saja.
Padahal menurut orang lain, rumah barunya itu tergolong sangat besar dan mewah, tapi tidak dengan Zander yang terbiasa hidup di istana menyaingi istana kerajaan.
Disini Zander hanya membicarakan desain rumahnya saja ya. Rumahnya memang kecil dan sederhana bagi Zander tapi untuk halamannya—
Beuh jangan ditanya, lapangan golf pun minder kalau di bandingkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti itulah bentukan rumah yang Zander anggap kecil nan sederhana. Itu hanya sebagian kecil yang terlihat, belum lagi halaman samping kanan kiri, depan belakangnya. Sumpah benar-benar luas, jalan kaki dari gerbang utama ke rumah bisa lima belas menit baru sampai.
Zander melirik ayahnya yang baru saja keluar dari mobil. Ia memandang pria tua itu dengan pandangan mengejek.
"Anda bangkrut ya?"
Sebelah alis Max terangkat.
"Saya tidak mengira jika rumah baru yang anda beli akan sekecil ini." Efeknya pada Max.
"Rumah besar-besar juga buat apa kalo tidak pernah ditempati."
"Owhh nyindir diri sendiri ya? Yang tidak pernah pulang juga siapa."
Max berdecak.
"Cepat masuk."
Zander terpaksa masuk kedalam mengekori Max. Sesampainya didalam bukan interior clasic seperti biasanya yang ia lihat, namun interior modern aesthetic serba putih dan hijau. Sungguh warnanya sangat kalem sekali, dan menenangkan. Atmosfer di sini juga sejuk.
Berbeda dengan rumah sebelumnya yang terasa kosong dan hampa. Mewah namun tak bernilai, itulah definisi rumah sebelumnya.
Max terkekeh samar melihat keterpukauan Zander yang bersembunyi di balik wajah datarnya.
"Kamu suka?"
"Lumayan." Jawab Zander asal.
"Mau langsung ke kamar mu?" Tawar Max.
"Tidak." Tawar Zander cepat.
"Jelaskan semua yang ku minta tadi."
Max berbalik ke belakang, kembali ia tatap mata anaknya itu serius.
"Apalagi? Aku sedang buru-buru. " Ucap Max sambil melihat arlojinya.
Zander memutar bola matanya jengah melihat kebiasaan buruk ayahnya.
"Jangan berencana kabur."
"Aku serius. Ada meeting dengan MD Corp lima belas menit lagi." Balasnya tidak ada unsur kebohongan sedikit pun.