Bab 42

24.9K 914 212
                                        

Semua orang yang bernafas sekarang adalah mereka yang sedang melanjutkan hidup
 
  

Bacanya waktu buka puasa aja...agak ekhem-ekhem soalnya.

  
Tawa beberapa anak kecil menggema disuruh ruangan. Di ruang tengah yang luas, dua bocah kembar berusia lima tahun duduk bersila di atas karpet tebal. Di hadapan mereka, seorang bayi berusia dua belas bulan duduk di antara bantal-bantal empuk, matanya berbinar penasaran.

Seluruh keluarga sedang kumpul sekarang. Max dan si kembar yang tadinya memancing juga sudah pulang dan sudah bersih-bersih badan juga, tak ada istilah pulang dengan tampil muka dan badan penuh lumpur seperti kemarin.

Para wanita duduk di karpet menemani bocil-bocil bermain. Si kembar yang tak pernah melihat bayi sebelumnya sangat antusias menyambut Seana. Semua mainan dan koleksi kebanggaan mereka langsung dibawa turun untuk di tunjukkan ke Baby Yaya.

Para pria duduk di atas membicarakan topik yang cukup membosankan. Apalagi kalau bukan masalah pekerjaan.

"Maven, Maros. Ini kalian yang cari? Banyak banget." Thea cukup terperangah melihat koleksi cangkang kerang/kelomang pantai yang bentuknya sangat beragam. Semua koleksi itu hanya mereka taruh di ember kecil, tapi yang paling bagus bentuknya mereka taruh di wadah botol kaca bening kecil yang bisa dibawa kemana-mana.

"Iya, Kak. Keren kan? Kita tiap sore selalu cari cangkang kerang." Kata Maros dengan bangganya.

Thea tertawa mendengar celentukan polos dari si Kembar, "kalian emang suka koleksi cangkang kerang ya?"

"Suka, selain suka cari kerang kita juga suka mancing." Ucap Maven.

"Enaknya kalau tinggal di pantai ya."

Elena tersenyum mendengarnya, "sering-sering kesini, Thea. Banyak temennya kalau disini. Main sama si kembar, atau ngobrol sama bunda, Aika, sama Lilly kalo lagi gak sekolah."

"Sebenarnya juga pengen sih, Bi. Cuman agak jauh juga ya, bisa dua jam an. Kalau suami gak kerja di tengah kota, kita pengennya pindah yang deket sini. Kalau mau ke pantai tinggal jalan kaki." Ucap Thea diselingi candaan.

"Maaf, kak. Kak Thea udah nikah berapa tahun?" Tanya Aika sopan.

Thea tersenyum lembut mendengar pertanyaan itu. Tangannya masih sibuk merapikan rambut Baby Yaya yang asik diajak ngobrol sama si kembar dan Lilly.

"Mungkin baru tiga tahunan, Ka. Soalnya aku sama papanya Yaya nikah waktu kita masih kuliah."

Aika tampak memandang Thea takjub. Usia pernikahan mereka terbilang masih cukup muda, tapi tuhan dengan sangat pecayanya memberikan pasangan ini sebuah momongan yang sangat imut nan menggemaskan. Sedari tadi Aika memperhatikan pasangan muda ini memang sepertinya siap sekali menjadi orang tua. Mereka sangat telaten dan luwes mengurus bayi yang kadang kalanya sering rewel. Aura keibuan Thea juga sangat terpancar.

"Kenapa gak nikmatin masa remaja dulu, Kak? Aku sering lihat cewek-cewek seusia kakak lagi seneng-senengnya traveling ke sana kemari." Sahut Lilly dengan polosnya.

Tentu saja Thea menanggi dengan senang hati. "Kakak pacaran sama Papanya Yaya udah lama, sayangku. Kakak udah cukup menikmati masa remaja kakak, terus papanya Kak Thea nyuruh kakak cepet-cepet nikah, katanya sih pengen liat anak perempuannya di altar pernikahan."

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang