Bab 10

43.8K 915 7
                                        

Hari telah berganti malam, tepat pukul tujuh malam Aika tiba dirumah setelah perbudakan ilegal yang di lakukan Zander kepadanya sepanjang hari ini.

Dengan kasar Aika menjatuhkan dirinya ke ranjangnya seraya menghembuskan nafasnya lelah.

"Sialan tuh orang tubuh gue jadi remuk semua, anjir."

Aika meringis, pundak dan punggung nya terasa nyeri karena kecapean.

Ia kemudian merebahkan badannya. Menatap langit langit putih kamarnya.

Setelah tiba di rumah, begitu hampa dan sunyi. Karena Aika hanya hidup sendiri dirumah.

Bohong kalau Aika tidak kesepian. Sudah lima tahun sejak kematian ibu kandungnya, Aika berjuang hidup sendiri karena ayahnya sudah tak mau menghidupi nya lagi dan memilih untuk menikah dengan wanita pilihannya.

Sejak saat itu juga Aika memilih bekerja apapun itu yang penting tidak jual diri dan jual narkoba.

"Hampa banget rasanya. Coba aja masih ada bunda. Bakal rame banget sih."

Aika menepuk kedua pipinya dan menggeleng kuat.

"Gak boleh sedih lagi. Ingat Aika, lo harus bahagia. Lo cantik, lo kuat, lo pintar."

"Mandi, enak seger nih kayaknya."

Aika kemudian bangkit dari ranjang. Ia mau mandi. Tubuhnya terasa lengket dan bau seharian penuh berkeringat di bawah panas panasan karena ulah Zander yang menyuruhnya bersih berisih seluruh area sekolah.

Memang gila manusia itu.

Ia kemudian menanggalkan semua pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalam saja.

"Habis mandi terus makan. Laper banget perut gue."
 
 
Cklek
 
 
Pintu kamarnya tiba-tiba dibuka menampakkan seorang laki-laki bertubuh tinggi atletis dan berpenampilan celana hitam koas putih, membawa kantung kresek besar berisikan belanjaan di tanganya

"Buruan, gue laper!"

"AKHHHHH—"
 
  
 
••••
 
 
 
Dijam yang sama.

"Selamat datang kembali tuan." Kepala pelayan membukuk memberi salam kepada Max yang baru saja kembali kerumah setelah dua minggu lamanya tak pulang.

Max nampak membawa sesuatu di tangannya, boneka beruang kuning besar dan beberapa totebag yang berisikan hadiah untuk Lilly.

Pria itu tampaknya menuruti ucapan Sang asisten, untuk sedikit menurunkan ego nya.

"Dimana anak itu?"

"Tuan muda baru saja pergi tuan dan nona muda berada di kamarnya."

"Zander? Pergi kemana?"

"Maaf tuan, saya tidak tahu. Tuan muda tidak bilang apa apa kepada saya."

Max mengangguk, "baiklah."

"Maaf tuan. Apa anda hendak menemui nona muda?"

Pria itu hanya berdeham, "kamar nona muda pindah ke sebelah kamar tuan muda sejak hari minggu kemarin."

"Kenapa dia pindah kesana? Apa Zander yang menyuruhnya?"

Pelayan tua itu menggeleng, "tidak tuan. Semua itu atas kemauan nona sendiri."

Max menghela nafas, ia melanjutkan perjalanannya meninggalkan pelayan itu.

Langkahnya membawa ia menuju lantai atas dimana Lilly berada.

Pintu berwarna putih dan ada gantungan nama bertuliskan "Lilly" berhiaskan kerang-kerangan, buatan tangan orang yang telah melahirkan sang pemilik nama.

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang