Seperti yang direncanakan tadi malam. Salvero dan Thea jadi datang kerumah Zander, tak lupa juga membawa Baby Seana bersama mereka.
Mobil hitam milik Salvero berhenti tepat di halaman rumah megah milik Zanderion. Pagar besi tinggi itu perlahan terbuka setelah penjaga mengenali kendaraan mereka. Thea yang duduk di kursi penumpang menoleh ke belakang, memastikan Baby Seana masih terlelap nyaman di dalam car seat-nya.
"Wahh, pantainya cantik banget. Nanti kita main di sini dulu ya, Pa." Thea memandang pantai putih bersih tanpa ada sampah dan laut biru yang tampak sangat menyegarkan. Cuaca cerah tanpa panas yang terik sangat mendukung jika ingin bermain-main di tepi pantai.
"Emang bawa baju ganti?" Tanya Salvero.
"Bawa dong. Lekap, semua mama bawa. Papa kalo mau main air, mama bawain celana pendek kok."
Salvero terkekeh, padahal niat mereka hanya mau bertamu saja tapi karena depan rumah Zander pantai yang sangat cantik, apa boleh buat, mumpung sudah di sini bukankah rugi kalau tak bermain terlebih dahulu.
"Nanti ya setelah dari rumah Zander." Thea mengangguk semangat.
Mereka kemudian turun dari mobil. Sebelumnya Salvero sudah bilang ke Zander bahwa ia akan berkunjung ke rumahnya. Zander mempersilahkan untuk datang kapan saja.
Dan kebetulan sekali, mereka bertemu dengan Elena yang sedang menyiram bunga di halaman depan.
"Loh, nak Salvero."
"Hallo bibi." Salvero menghampiri Elena tak lupa juga bersalaman dengannya.
"Wahh, bibi sampai pangling sama kamu, Ver. Habis nikah tambah seger buger ya kamu." Ucap Elena becanda sambil menepuk-nepuk bahu Salvero.
"Hehehe, istri hobby masak, Bi. Eksperimennya Salvero yang makan."
Elena kemudian mengalihkan pandangannya ke Thea, wanita itu tersenyum ramah. "Ini istri kamu ya Ver, ya ampun cantiknya."
Thea tersenyum malu-malu di puji Elena. "Bibi juga cantik kok."
"Cantik, pinter masak lagi—terus ini ciapa, aduh gemesnya dedek embul....hallo adek...namanya siapa?" Elena beralih menyapa baby gembul yang ada di gendongan Thea.
"Hallo nenek, namaku Seana tapi bunda sama papa panggil aku Baby Yaya." Thea yang berbicara seolah-olah Seana menjawab Elena.
Elena langsung tertawa kecil melihat tingkah Thea yang ikut “mewakili” jawaban si bayi. Tangannya refleks mengelus pipi Baby Seana yang terlihat begitu tenang di gendongan ibunya.
"Ya ampun… pipinya ini loh, gemes banget. Bibi boleh gendong nggak?" tanya Elena dengan mata berbinar.
"Boleh banget, Bi." Jawab Thea hati-hati sambil memindahkan Baby Seana ke pelukan Elena.
"Elah, wanginya… kayak roti baru mateng." Gumam Elena gemas, mengayun pelan tubuh mungil itu. Baby Seana menggeliat sebentar, bibirnya bergerak seperti sedang mengulum sesuatu, lalu kembali tenang.
"Masuk yuk, Zander ada didalem sama Aika." Ajak Elena kemudian.
"Aika udah sehat, Bi?" Tanya Salvero mengekor di belakang Elena.
"Udah. Dia hebat loh, Ver. Baru keluar dari rumah sakit udah bisa bantuin bunda ini itu, gak mau diem orangnya tuh. Padahal bunda udah larang, tetep aja maunya tuh bantuin bunda beberes rumah."
"Mungkin tubuhnya pegal kalau diem aja, bi."
Elena setuju dengan perkataan Salvero. "Kalo udah keliatan lelah gitu, bibi terpaksa marahin dia. Baru dia mau istirahat—bunda khawatir bangun sebenarnya kalo tiba-tiba kepalanya sakit, tapi untunya Aika selalu baik-baik saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
ZANDERION
Romance[ADA BEBERAPA PART BERUNSUR 18+ BIJAKLAH DALAM MEMBACA.] Judul sebelumnya: ANTEROS: Playing With Me Lelaki tampan bak dewa yunani dengan sifat dingin, kejam, kasar, dan berdarah dingin. Zanderion Rasalas Argantara, seorang wakil ketua geng motor te...
