Bab 25

36.9K 704 14
                                        

Sejak bangun tadi Aika tak mendapati Zander di kamarnya. Mungkin pria itu sudah keluar terlebih dahulu sebelum ia terbangun. Waktu sudah menujukan pukul 06.30 pagi, matahari menampakkan sinar cerahnya dan para burung berkicauan di pepohonan. Apartemen Zander bukanlah yang paling atas, masih termasuk paling rendah berada di lantai tiga sehingga ia bisa melihat para burung berterbangan hingap di pepohonan yang rindang.

Aika tersenyum didepan kaca melihat penampilan tubuhnya yang rapi lengkap dengan seragam sekolah. Hari ini ia akan memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Sudah terlalu sering ia izin, Aika takut ketinggalan pelajaran. Bagaimana pun juga ia hanyalah anak beasiswa, jika nilainya menurun dan kebanyakan absen ia takut beasiswa nya dicabut.

Hanya beasiswa itu saja harapan satu-satu nya Aika untuk menyambung hidup. Jika ia kehilangan beasiswa itu Aika tak tahu lagi harus sekolah di mana. Kalaupun ada jelas Aika tak mampu membayar sumbangan pembinaan pendidikan.

Sambil tertatih-tatih karena kakinya masih terasa sakit Aika menggendong tasnya dan keluar dari kamar. Saat itu ia melihat Zander berada didapur, sudah lengkap juga dengan seragam di tubuhnya.

Entah apa yang sedang Zander lakukan, didepan kulkas. Menggaruk-garuk belakang kepalanya seperti orang kebingungan.

"Sedang apa kak?" Tanya Aika, berjalan tertatih menghampiri Zander.

Tapi, tumben sekali ya Zander bangun pagi. Biasanya orang itu tidur mengalahkan kerbau.

"Ngapain lo kesini?" Bukannya menjawab pertanyaan Aika Zander malah balik bertanya.

Dengan raut wajah tak suka, Zander menghampiri Aika dan membantu gadis itu duduk.

Aika sedikit terkesima dengan perilakuan Zander yang sangat mustahil jika dibayangkan.

"Mau kemana lo pake baju kek gini?" Lanjutnya.

Seketika Aika melongo, "ya sekolah lah. Masa iya pake baju kayak gini mau ng-LC."

"Kaki lo belum sembuh. Jangan masuk dulu." Sejak kapan Zander sepeduli ini dengan orang lain.

Apa kepalanya terbentur trotoar setelah mengantar Elena tadi malam?

"Gue udah kebanyakan absen kak, kalo gue absen lagi nilai gue juga turun takut beasiswanya di cabut."

Zander seakan tak peduli, "lo lupa tuh sekolah punya siapa? Punya gue." Sombongnya.

"Punya papa lo kalik, kak."

"Nanti kalo dia udah mati tetap aja tuh sekolah akhirnya jadi milik gue."

Aika melotot dan spontan memukul lengan Zander karena seenaknya bicara.

"Ngomongnya di jaga ya kak. Ucapan adalah doa."

Zander berdecak, "terserah lo. Pokok nya lo gak boleh ke sekolah seminggu ke depan."

Jelas Aika tak terima, ia hendak protes, tapi ucapan Zander menghentikannya, "lo bakal tetep bisa belajar tapi di sini. Sampai kaki lo benar-benar sembuh, sementara home schooling dulu. Nanti gue suruh Pak Agas ngurus keperluan lo."

Aika memincingkan matanya menelisik sikap Zander yang sangat berbeda dari sebelumnya.

"Lo kok sampe segitunya?"

"H-hah? Jangan gr ya, kalo lo sakit terus gue gak bisa nyuruh-nyuruh lo seenak gue. Makanya cepat sembuh biar bisa kerja lagi."

"Kirain lo peduli sama gue?"

"Ngapain gue peduli sama lo. Lo babu gue ya. Semua perintah gue lo harus nurut."

Aika berdecak, ternyata itu maksud Zander. Memang sih tadi ia sempat memuji sikap lembut Zander beberapa detik yang lalu. Sikap baiknya ternyata ada niat terselubung.

ZANDERIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang