Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Naura tidak bisa meninggalkan Luna begitu saja. Dilihatnya gadis ini seperti perlu seseorang untuk mendengarkan segala keluh kesahnya. "Takut, emangnya takut kenapa?"
Luna sempat mengedarkan pandangan, dilihatnya sekitar seperti memastikan bahwa percakapan antara mereka tidak didengar oleh Jonathan. "Keluarga Kak Jo nggak suka sama aku. Mereka berniat menjodohkan Kak Jo sama cewek lain."
Tiba-tiba teringat akan memori beberapa saat yang lalu, Naura juga nyaris menjadi pasangan Jonathan jika tidak dihalangi oleh Jevan. Raut sedih seakan menjadi satu dengan kalut pada wajah Luna. Mengingat bagaimana keadaan keluarga Jonathan yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keluarga Jevan, Naura mengerti akan ketakutan gadis tersebut.
Bingung, Naura tidak tahu harus berbuat apa karena pada dasarnya ia baru mengenal Luna dan tidak begitu akrab dengan Jonathan. Dari pada salah bicara, Naura hanya bisa menenangkan Luna dengan cara memeluknya dan memberi kalimat-kalimat penenang. "Lun, apapun yang dijanjijan akan menjadi milik kita, dia akan datang dan kembali dengan sendirinya, tentu dengan cara yang berbeda-beda tergantung dengan kadar kesanggupan masing-masing. Kalau ujian ku diawal karena harus membenci Jevan dulu baru perlahan bisa menerimanya jadi suami, mungkin kamu dan Jonathan juga punya ujian yang berbeda."
Luna yang hanya ingin didengarkan tentu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Naura. Alih-alih tambah sedih, ia justru mengeluarkan senyum. "Makasih ya Kak sudah mau dengar aku cerita. Temanku nggak banyak, jadi kadang bingung mau cerita sama siapa."
"You have me now... Kalau nanti kamu mau cerita, you can call me atau datang aja ke Rosabelle."
Keduanya melanjutkan bercerita dengan topik ringan, seakan melupakan pembicaraan berat beberapa menit yang lalu. Mereka tidak sadar jika sedari awal Jonathan menguping dari balik dinding yang tidak terlihat.
Mendengar cerita kekasihnya meski secara tidak langsung, hal itu cukup untuk menjelaskan apa yang menjadi alasan sikap Luna berubah beberapa bulan belakangan ini. Jonathan dan Luna memang bukan pasangan yang setiap hari bisa bertemu, mungkin ada beberapa celah kecolongan dari Jonathan yang tidak ia ketahui saat keluarganya berbicara dengan Luna.
Meski antara dirinya dan Luna bermasalah, ia tidak ingin merusak liburan mereka karena Jevan terlihat sangat bersemangat. Jonathan akan menjalani sisa hari dengan berpura-pura tidak tahu. Bersikap biasa seakan ia tidak pernah mendengar percakapan antara Luna dan Naura.
***
Sehari setelah mereka tiba di villa, Naura menolak untuk diajak jalan bersama Luna dan Jonathan. Ia berusaha memberi pasangan itu ruang untuk menikmati waktu berdua. Namun, keputusannya untuk tidak ikut keduanya memiliki separuh penyesalan, karena itu ia harus bersama dengan Jevan.
"Nau, ayo main keluar," ajak Jevan sambil merapatkan tubuhnya di samping Naura yang duduk di sofa.