29. Tiga Keinginan Reza

6.9K 394 43
                                        

Setelah meninggalkan Findra di ruangan nya Hans beralih menuju pintu kamar Reza. Hans masuk kedalam kamar dan melihat Asgar, putra bungsunya yang sedang tertidur pulas di samping Reza.

Hans tersenyum, ini seperti mimpi untuknya. Reza bersama Asgar memiliki takdir yang sama. Sama - sama di asing kan dan tidak di inginkan.

Hans mendekat, ia akan membawa Asgar berjalan - jalan, bukan perjalanan biasa tapi dimana ia akan mengungkapkan semuanya, Hans menepuk pipi Asgar dengan lembut, tak ingin terlalu jauh menyakiti putranya.

"Bangunlah, antar saya untuk perjalanan bisnis" ucap Hans, Asgar langsung membuka matanya dan duduk di tepi ranjang. Menatap Hans yang sedang menatapnya tajam.

"Perlu bantuan?" Tiba - tiba saja Hans menawarkan bantuan tapi emang nya mau bantuin apa? Gendong kah?

Asgar menggelengkan kepala setengah sadar ia berdiri namun akan jatuh untung saja ada Hans di belakang yang menahan nya.

"Ceroboh" gumam Hans tapi tetep di dengar Asgar. Asgar langsung berdiri tegap dan berlari kearah kamar mandi.

Hans hanya menggelengkan kepalanya, ia duduk di samping Reza yang sedang tertidur pulas. Tangan nya terangkat untuk mengelus kening dan pipi sang cucu bungsu.

Tak lama kemudian Asgar datang, Hans mengalihkan perhatian nya kepada Asgar. Menatap anak nya bangga dan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

"Ikut saya untuk seminggu kedepan" ucap Hans mutlak. Asgar yang ragu hanya menganggukkan kepalanya pasrah.

"Tuan muda reza" cicit Asgar.

"Dia aman bersama ayahnya" jawab Hans untuk sekedar menenangkan Asgar.

"Saya harus pamit" ucap Asgar.

"Tidak ada waktu untuk pamit, ini perintah. Siapkan barang mu" Hans langsung berdiri dan melenggang pergi menyiapkan pasukannya untuk mengawalnya.

Hans juga mengirimkan teks kepada Findra bahwa ia akan membawa Asgar pergi, sedangkan Findra hanya menghela nafasnya, tidak ada jawaban, pikiran nya berkecamuk dan tidak jelas.









Di sore harinya Asgar dan Hans sudah pergi dari Mansion. Kini yang ada di Mansion hanya ada Reza, Findra dan Zelina. Dan Reza belum mengetahui kemana perginya Asgar, anak itu membuka matanya.

Ia berjalan kearah dapur untuk mencari Asgar tapi yang di temukan adalah Findra yang sedang meminum kopi. Reza mendekat.

"Papa" lirih nya. Findra membawa tubuh Reza untuk duduk di pangkuan nya.

"Sudah bangun hm?"

"Bagaimana tidurnya? Nyenyak sayang?" tanya Findra setia mengelus rambut Reza sembari menyisir poni sang anak menggunakan tangan nya.

Reza mengangguk kecil kemudian menyadarkan kepalanya untuk bersandar kepada dada bidang sang papa.

"Selama ini kamu selalu bisa mandiri,"

"Papa bangga sekali sama adek, adek tidak pernah merepotkan, adek sudah menjadi anak yang hebat dan kuat" ucap Findra tiba - tiba membuat Reza mendongak menatap papa nya serius.

"Selama ini apa ada keinginan adek yang belum sempat terpenuhi nak?" tanya Findra lembut. Reza mengangguk kecil, sejak kecil ia mempunyai keinginan yang bahkan Asgar sendiri tidak bisa tepati.

"Kalau boleh tau apa saja?" tanya Findra masih setia dengan posisinya.

"Naik kereta api, piknik di taman,"

"Punya foto keluarga papa" jawab Reza jujur.

Selama ini ia hanya menginginkan 3 hal itu tapi Asgar sulit mengabulkan nya karena semuanya berhubungan dengan keluarga. Asgar tidak bisa jika harus terus terusan berbohong.

Dan jika kalian ingin tahu, Reza tidak pernah meminta barang mahal kepada Asgar. Jika akan membeli barang Reza akan selalu menabung untuk memenuhi keinginannya.

Findra terdiam. Keinginan sederhana yang diinginkan anaknya sangat mudah untuk ia tepati sejak dulu tapi waktu yang baru membawanya kepada Reza.

"Hanya itu nak?" tanya Findra untuk meyakinkan Reza.

"Huum"

"Eja mau naik kereta api karena belum pernah naik kereta api, terus pulang nya piknik di taman, eja sering ajak om Asgar tapi om Asgar sibuk bekerja."

"Kalau foto keluarga eja punya sama om Asgar berdua, tapi teman - teman eja bilang itu bukan keluarga. Karena kalau keluarga itu harus ada mama, papa, eja, kakak, abang"

"Seperti keluarga kita ya papa?" tanya Reza. Findra di buat bungkam oleh semuanya, kemudian mengangguk dan memeluk Reza dengan erat. Di dalam pelukan itu, Findra menangis dalam diam. Reza memeluk Findra juga tak kalah erat.

Seolah - olah bahwa hanya mereka berdua yang ada di muka bumi ini. Reza mendongak dan melihat Findra yang menangis, tangan mungilnya terangkat untuk menghapus kedua air mata Findra yang turun.

"Jangan nangis papa" ucap Reza, bukan sebuah ucapan biasa tapi semuanya mengandung makna.

"Maafin papa nak" lirihnya, Reza tersenyum. Ia mengangguk tipis kemudian menenggelamkan wajahnya kepada dada bidang Findra.

"Kita sama - sama wujudkan keinginan adek ya," di sela - sela tangisan nya. Reza mengangguk kecil.

"Makasih papa" jawabnya.

Rezanya anak yang polos, gemas dan lugu. Ia hanya terlalu dewasa untuk ukuran usianya. Ia anak yang pasrah dan harus menanggung beban yang bukan dirinya perbuat.

'maafkan papa nak,'

'maaf karena sudah terlahir di keluarga ini'

'papa akan coba untuk membahagiakan adek, seperti teman - teman yang lain ya'
















#TBC

Sengaja gantung - gantung biar kalian penasaran wlekk

30 komentar di lanjut ->

Rezalio world Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang