38. "Ada putraku di sana"

10K 458 11
                                        

Ruang putih dan steril itu di isi dengan sebuah isakan seorang anak kecil yang baru saja terbangun dari tidur pulas nya, dia menatap sekelilingnya, hanya cat putih dan sunyi.

Lengan nya terpasang infus, ia mengusap kedua matanya. "Eja gak sakit.." lirihnya.

Ia merasa tubuhnya tidak nyaman saat terbaring, degup jantung nya berdetak cepat, matanya mulai memanas.

"Eja masih pengen mau hidup"

Tak lama kemudian dokter masuk ke dalam ruang rawat Reza. Dokter akan memeriksa kondisi Reza.

Dokter itu tersenyum "Kamu baik - baik aja?" seolah paham dengan kondisi Reza yang ketakutan dokter itu bertanya.

"Eja mau pulang, eja gak mau donorkan jantung eja dokter" ada nada ketidakpastian disana.

Dokter itu mengangguk, "kamu siapanya Zia?" tanya dokter tersebut.

"Adik? Eja gatau dokter... Tolong lepasin eja"

"Ininya sakit" ungkap Reza sambil menunjukkan tangan nya yang di infus.

"Eja gak pantes hidup ya dokter?" tanya Reza. Dokter itu paham sekarang.

"Kita ulur waktu ya? Tunggu sampai kakek kamu dateng" Reza mengangguk kecil ia hanya bisa berdoa, jikalau pun nanti ia harus mati untuk saudaranya ia ikhlas.

"Kenapa tidak operasi sekarang dok!" bentak Zelina yang mengetahui bahwa Zia tidak bisa di operasi sekarang.

"Kondisi Zia kritis, tidak memungkinkan untuk ia melakukan operasi sekarang" Zelina terduduk didalam hatinya ia terus merapalkan doa.

"Jantung Pendonor tidak memiliki kecocokan dengan DNA Zia" ucap dokter tersebut. Dalam situasi seperti ini keluarga pasien hanya akan mementingkan ego mereka masing - masing.

"Tidak mungkin dok! Dia saudara kembar nyaa" ucap Zelina dengan berlinang air mata.

"Tapi nyatanya seperti itu Bu" jawab dokter tersebut, dokter itu merasa ada sesuatu yang tidak adil dengan pendonor terhadap pasiennya.

"Saya gak peduli dok intinya putri saya harus sembuh!" Zelina dengan amarahnya, nyatanya uang tidak cukup untuk menyembuhkan Zia, sampai sini. Masih berfikir uang itu lebih dari segalanya? Kesehatan Zia, tidak bisa dibeli begitu saja.

Findra disana menyaksikan istrinya menangis histeris, sedangkan Rafael memilih untuk tetap di depan kamar Zia.

Di tempat lain.

Hans mengemudikan mobil nya dengan laju bersama Asgar yang terus mengucapkan nama Reza.

Hans sendiri sedang di landa kebingungan. Nyawa siapa yang harus ia selamatkan. Hans hanya berdoa semoga ada keajaiban yang datang kepada keluarganya. Memang sepatutnya mereka mendapatkan ini semua.

"Negara mana yang adek ingin tempati?" tanya Hans basa - basi. Asgar menoleh kepada sang ayah.

"Yang jauh, jauh dari jangkauan Vystan" ucap Asgar. Hans terdiam mendengarnya pernyataan putranya membuat dirinya di landa kebingungan.

"Sampai kapan?" tanya Hans kembali.

"Sampai mereka benar - benar siap bertemu Reza kembali." jawab Asgar, tidak mungkin selamanya ia akan jauhkan Reza dengan keluarganya hanya sampai mereka paham bahwa Reza mempunyai hak yang sama dengan anak - anak yang lain..

Rezalio world Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang