Pagi hari ini Reza sudah bersiap dengan kameja hitam nya. Anak itu terlihat manis dengan balutan kameja hitam dan rambut yang rapih. Wajahnya sedari tadi bersemu merah karena malu.
Baru pertama kali ia di dandani seperti ini, dengan bersemangat ia menghampiri Findra yang sedang bersiap. Mengetuk pintu kamar ayahnya perlahan kemudian muncul Findra dengan pakaian formal seperti ingin ke kantor.
"PAPAA" teriak Reza yang langsung di gendong oleh Findra. Reza menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ayah, menduselkan wajahnya dan bergumam bahwa ia malu.
"Ayo sayang, kita foto keluarga hari ini" ucap Findra, Reza yang mendengarkan hanya mengangguk.
Di ruang tengah yang menjadi spot pemotretan sudah ada Zelina, Rafael, dan Zia. Reza yang melihat keluarganya lengkap itu tersenyum ceria.
Ia menghampiri Rafael kemudian memeluk nya, sangat rindu.
Rafael membawa Reza ke pelukannya, ia menepuk punggung sang adik dengan lembut. "Ada apa bayii" ucap Rafa. Reza menggelengkan kepalanya gengsi dong kalau harus bilang ia kangen.
Tak lama kemudian fotografer yang di sewa Findra datang. Mereka memulai sesi foto keluarga sesuai keinginan Reza.
Semua terlihat bahagia saat berfoto, entah itu berpura - pura atau bagaimana tapi yang pasti Reza menyukai hari ini. Dimana ia bisa merasakan yang namanya foto keluarga.
Findra menatap wajah Reza dengan hati yang sulit di jelaskan, bagaimana ia bisa harus mengorbankan anak nya yang sangat ceria seperti ini, bagaimana Zelina tega mengorbankan Reza anak yang tidak tau apa - apa tentang keluarga.
Rafael hanya menatap Reza dengan sendu, jikalau nanti Reza yang dipilih untuk di korbankan jantungnya, Rafael tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, adiknya tidak salah dan tidak seharusnya diperlakukan seperti ini.
"Adek senang?" tanya Findra setelah foto keluarga berakhir.
"Senangg eja happy terimakasih papa, mama, abang, kakak" ucapnya Reza memeluk Findra dengan erat.
Mereka semua hanya diam di balik kebohongan.
•
•
•
Sedangkan di negara lain.
Asgar—putra bungsu Anderson yang di sembunyikan itu kini sedang sarapan bersama ayahnya.
Hans tidak memaksakan putra bungsunya memanggil dirinya dengan panggilan ayah karena ia tahu semuanya butuh proses.
"Kenapa dek?" tanya Hans kala anak nya itu menolak suapan darinya. Asgar menggelengkan kepalanya, ia menatap Hans dengan lekat.
"Tuan benar - benar ayah saya?" tanya Asgar dengan serius. Hans mengangguk kemudian tersenyum, mengelus pipi sang anak dengan lembut.
"Adek anak ayah" ucap Hans dengan lembut, merayu empunya agar luluh.
"Kalau begitu,"
"Asgar ingin hak asuh Reza" ucap Asgar seolah - olah hanya itu yang ia inginkan sekarang.
"Asing kan Asgar bersama Reza dari keluarga tuan Rafindra" sambung nya.
Hans terdiam, ini adalah pertama kali nya Hans meminta sesuatu kepadanya. Hans juga tidak bisa jika langsung mewujudkan itu semua.
"Tapi Reza anak abang mu dek" ucap Hans. Asgar menggelengkan kepalanya.
"Tapi Asgar yang membesarkan nya selama 15 tahun ini" jawab Asgar.
Hans dibuat bungkam, jika Asgar mau menceritakan bagaimana kesulitan nya ia menjaga seorang anak tanpa sebuah pengalaman, Asgar yang tidak di rawat oleh orang tua nya harus merawat Reza yang di buang orang tua.
Sakit rasanya.
Reza memang tidak membebankan tapi menghidupi Reza juga butuh perjuangan.
"Kalau memang anda tidak memenuhi syarat itu, saya akan resign dan menghilang dari jangkauan keluarga anda tuan" Asgar sudah memikirkan hal ini, jikalau Hans tidak menurutinya Asgar akan menghilang dan membiarkan Reza bersama keluarga kandungnya.
"Fine. Ayah akan urus semuanya," ucap Hans ia tidak mungkin jika harus melepaskan anaknya.
"Saat kita pulang, Reza sudah harus menjadi anakku." ucap Asgar, izinkan dia memakai kekuasaan untuk melindungi Reza.
#TBC
Keinget dialog film air mata diujung sajadah
KAMU SEDANG MEMBACA
Rezalio world
Teen Fiction[SEBELUM BACA SILAHKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU] Rezalio anak yang tidak tahu akan keluarganya, sejak kecil ia memang ditinggalkan bersama seseorang yang katanya kepercayaan keluarganya. Belasan taun ia bersama Asgar sang pengawal sekaligus baby si...
