Jangan lupa vote dan komen
Happy reading.
___
Matteo bangun dari posisinya untuk mandi dan bersiap-siap, hari ini dia berniat untuk berangkat sekolah untuk memastikan beberapa hal.
Matteo bergegas turun ke bawah, Matteo menuju dapur dan mengambil susu pisang yang sudah dibelikan oleh Violet, saat berbalik Matteo tidak sengaja berpapasan dengan Adhitama, Matteo menatap Adhitama sekilas lalu kembali berjalan menuju keluar rumah.
"Teo, kamu mau berangkat sekolah?"
Ucapan Casie menghentikan langkah kaki Matteo, "Jangan nanya apapun ma, Teo lagi malas ngomong."
Setelah mengatakan itu, Matteo bergegas menuju ke sekolah. Matteo berangkat dengan kecepatan diatas rata-rata, untung saja belum terlambat. Saat Matteo hendak menuju kelasnya, bel masuk berbunyi.
Matteo berjalan dengan santai, hari ini penampilan sungguh jauh dari kata rapih, rambut berantakan, seragam tidak dimasukan dan dasi yang entah kemana. Ternyata kabar tentang kematian kucingnya sudah tersebar.
"Eh lo denger gak katanya kucingnya Matteo udah gak ada."
"Iya gue lihat di sosmed ada yang ngunggah kucingnya si Matteo ketabrak mobil."
"Gue juga lihat, ciri-cirinya persis kayak Mogy, pantesan Matteo hari ini gak kelihatan."
Matteo memelankan langkahnya ketika mendengar obrolan tersebut, saat melewati kelas Jingga, Matteo berniat untuk menemuinya, namun Matteo mendengar berbagai macam perkataan yang menyentil hati kecilnya.
"Lo semalem kenapa gak dateng ke rumah gue? Semuanya ada disana loh." Violet bertanya kepada Jingga.
Jingga menatap Violet. "Semalem gue belajar Vi, kan hujan lebat juga, jadi gue gak bisa ke rumah lo."
"Lo gak khawatir sama Mamat? Semalem kan gue udah bilang kalau Mamat pingsan." Violet menatap Jingga dengan heran.
"Kan udah ada kalian, emang gue harus ngapain Vi disana?" Jingga mengambil buku pelajaran hari ini dari dalam tasnya.
Violet berdecak. "Gue gak habis pikir sama lo, kucing Mamat juga semalem ketabrak terus mati, lo gak khawatir sama keadaanya? Kalau gak suka sama Mamat mending jangan ngasih harapan deh."
Jingga terkekeh. "Itu urusan gue Vi, eh lo suka sama Mamat ya?Kok kayaknya peduli banget?"
"Serah lo deh."
Matteo terdiam mematung di depan kelas, Matteo sekarang benar-benar tidak ingin mendengar hal tersebut, Matteo mengurungkan niatnya untuk mampir ke kelas Jingga, Matteo juga masih berharap jingga menyukainya.
Matteo memilih untuk pergi ke rooftop, Matteo hanya duduk termenung, dia mengeluarkan susu rasa pisang yang dikantonginya kemudian meminumnya sambil menikmati angin pagi yang menembus kulitnya.
Bel istirahat berbunyi, Matteo akhirnya turun dan berjalan menuju kantin. Tentu saja disepanjang jalan banyak pasang mata yang menatap ke arahnya, Matteo tidak peduli. Sesampainya di kantin Matteo mencari keberadaan teman-temannya.
"Eh Din, itu kok kayak Mamat ya?" Cecep mengucek-ngucek matanya sambil melihat ke arah Matteo.
Davi dan Jay sontak mengikuti arah pandang Celio. Davi memelototkan matanya. "MAMAT?!"
Teriakan Davi tentu saja mengundang banyak pasang mata yang menatap penasaran ke arah Matteo. Matteo yang mendengar teriakan Davi bergegas menuju ke meja mereka.
"Lo udah gapapa Mat? Kok gue gak lihat lo di kelas?" Udin menyambut Matteo dengan antusias, Matteo duduk didepan Jay dan disamping Davi.
"Lo ketemu papa?" Jay bertanya dengan hati-hati. Matteo menatap Jay, "Iya."
Matteo celingukan mencari seseorang, akhirnya yang dicarinya muncul di pintu masuk kantin, Matteo segera bangkit dan menuju ke orang itu. Jay dan yang lain memerhatikan Matteo, mereka bingung apa yang akan dilakukan oleh Matteo.
"Jingga." Matteo berdiri dihadapan Jingga. Violet yang berdiri di samping Jingga terlihat heran, akhirnya Violet memilih untuk menjauh dan bergabung dengan Jay dan lainnya.
"Eh, kenapa Mat? Gue kira lo gak berangkat." Jingga tentu saja terkejut dengan kedatangan Matteo.
"Gue mau ngomong serius sama lo." Matteo menatap Jingga dengan serius.
Jingga menatap ke sekelilingnya, sejak tadi mereka menjadi pusat perhatian, banyak pasang mata menatap kearah mereka.
"Ngomongnya jangan disini Mat, ke taman aja." Jingga sedikit memelankan suaranya.
Matteo setuju, akhirnya mereka berjalan menuju taman. Davi dan Celio saling menatap, sedetik kemudian mereka mengangguk. Dengan buru-buru mereka berajalan mengikuti Matteo dan Jingga.
Jay ikut bangkit dari duduknya. "Lo kepo juga Jay?" Violet menyindir Jay.
Jay menatap Violet. "Iya gue penasaran." Setelah itu Jay menyusul kedua temannya, Violet memilih ikut daripada harus makan sendiri di kantin.
"Lo mau ngomong apa Mat?" Jingga langsung melontarkan pertanyaan ketika mereka baru saja tiba di taman.
"Gue sebenernya udah lama suka sama lo, gue selama ini gak berani deketin lo, baru kemarin-kemarin gue beraniin diri buat lebih deket sama lo, jadi gue mau nanya lo sebenernya ada perasaan gak ke gue? Maaf kalau tiba-tiba gue nanya gini ke lo, gue cuma pengen tau aja." Matteo menatap Jingga dengan serius.
Jingga terdiam sebentar. "Kenapa tiba-tiba banget? Bukannya lo lagi sedih ya gara-gara Mogy udah gak ada. Lo masih sempet mikirin gue?"
"Gue cuma pengen tau perasaan lo ke gue gimana Jingga, gue.. gue berharap lo juga suka sama gue, gue cuma pengen ada seseorang disamping gue, ada seseorang yang bikin gue semangat buat jalanin hidup, hidup gue lagi kacau gue gak kepikiran apapun kecuali lo." Matteo menatap Jingga dengan sendu.
Jingga memalingkan wajahnya. "Jujur gue cuma nganggep lo sahabat gue, gak ada perasaan suka lebih dari temen Mat. Ada orang lain yang gue suka."
Matteo terkejut. "Tapi kenapa selama ini lo seakan-akan suka sama gue? Lo mau gue ajak keluar, lo mau gue anter jemput, bahkan lo mau gue ajak ke rumah, lo seakan-akan ngasih harapan ke gue."
"Gue kasihan sama lo! Gue selama ini tau lo suka sama gue, jujur gue risih setiap kali orang-orang ngegosip tentang lo sama gue! Gue gak suka kucing, gue muak setiap kali lo datang ke kelas sambil bawa Mogy, gue malu! Gue gak nyaman sama lo, asal lo tau gue mau lo ajak ke rumah karena gue pengen ketemu sama Jay, gue sukanya sama Jay bukan sama lo! Jadi stop suka sama gue, gue risih." Setelah mengatakan itu Jingga meninggalkan Matteo yang berdiri mematung.
Violet yang dari tadi mendengar obrolan Matteo dan Jingga pergi dengan wajah yang memerah menahan amarah.
Sementara itu Davi dan Celio menatap Jay. "Gue yakin kali ini Mamat bakal benci sama lo, kalau Mamat nanya tentang Jingga ke lo, lo harus nyari jawaban yang gak nyinggung Mamat."
Celio akan beranjak dari tempatnya, namun Davi menahan lengannya. "Mau kemana lo?"
Celio menggulung lengan bajunya. "Mau maki-maki Jingga, gak terima sahabat gue digituin sama orang kayak dia, sok kecakepan banget tampang gak seberapa, Jay juga ogah kali sama modelan kayak dia."
Davi melongo. "Kalau gitu gue ikut!" Mereka berjalan dengan tergesa-gesa untuk menemui Jingga.
Jay menatap ke arah Matteo, disana Matteo duduk sambil menundukkan kepalanya. Jay sebenarnya ingin menghampiri Matteo, namun Jay rasa Matteo butuh waktu sendiri, akhirnya Jay lebih memilih untuk mengikuti kedua temannya.
Matteo mengacak-acak rambutnya, matanya mulai berair. "Hahaha kenapa gue baru tau kalau hidup sebangsat ini."
___
Hallo gaess
Jangan lupa vote dan komen yaa
Baca cerita ini sampai end yaa
See u next chapter gaess
KAMU SEDANG MEMBACA
MATTEO [ON GOING]
Romansa⚠️SLOW UPDATE "Kenapa dimata lo seakan-akan gue gak bisa apa-apa!" "Gue juga pengen bisa jadi lebih baik dari lo! Tapi gue selalu dipandang sebelah mata." "Lo pikir dengan semua yang lo lakuin bisa bikin gue lebih baik? Lo salah! Gue justru dibandi...
![MATTEO [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/328051095-64-k788397.jpg)