Aveline- END

842 62 1
                                        

Happy reading...
Awas typo..

____________________

Namaku Aveline.

Kadang aku merasa hidupku seperti garis lurus-panjang, datar, dan membosankan. Aku bangun pagi, naik bus ke kantor, duduk di meja yang sama, menatap layar yang sama, lalu pulang ke kontrakan kecilku yang selalu sunyi. Tak ada yang berubah. Tak ada yang benar-benar hidup.

Kecuali saat dia lewat.

Reyhan. Usianya tiga puluh. Kepala Divisi Desain di kantor. Tenang, ramah, dan selalu bicara dengan suara rendah yang tidak pernah terburu-buru. Wajahnya? Jangan ditanyakan.. Cukup untuk membuat orang-orang yang berpapasan dengannya menoleh dua kali hanya untuk melihat wajahnya.

Dia bukan tipe pria yang membuat orang langsung jatuh cinta. Tapi setiap kali dia memanggil namaku dengan nada lembut itu, dunia seperti berhenti sebentar.

"Aveline, boleh kirimkan data pengeluaran proyek bulan lalu?"

Tentu, Reyhan. Aku akan kirim bahkan sebelum kamu selesai bicara. Tapi yang keluar dari mulutku cuma, "Iya, akan saya kirimkan sekarang."

Dia tersenyum. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat hari biasa jadi agak berbeda.

Dia tahu namaku. Tapi tidak pernah benar-benar menatapku.

Ya.. Benar.. Aku pengagum rahasianya. Jika perempuan di kantor ini terang-terangan menunjukkanrasa suka mereka maka aku adalah perempuan yang hanya dapat mengagumi dari pojokan.

Aku suka duduk di pantry saat jam makan siang, berpura-pura membaca laporan keuangan padahal diam-diam memperhatikan dia dari jauh.

Kadang-kadang, aku mencoba menebak apa isi pikirannya. Kadang-kadang, aku cuma berdiri disana hanya untuk menunggu dan melihat dia tersenyum lagi. Lucunya, meski hanya seperti ini diam ditempat, hatiku sudah cukup senang. Apalagi setiap kali dia mendekat, jantung ini terasa akan melompat.

Cinta diam-diam itu menyakitkan. Tapi juga hangat, anehnya. Layaknya menyalakan lilin kecil di ruangan gelap. Tak cukup untuk mengusir kesepian, tapi cukup untuk membuatku bertahan.

Tapi hidupku bukan cuma soal diam-diam mencintai.

Ayahku-kalau bisa kusebut begitu-datang lagi malam itu. Mabuk. Marah karena aku tak punya cukup uang untuk diberinya. Dia berteriak. Menggeledah laci. Menamparku ketika aku bilang aku benar-benar tak punya.

"Beraninya kamu bohong sama orang tua sendiri!" suaranya keras, tajam.

Aku ingin melawan. Tapi tubuhku tak bisa bergerak. Aku hanya bisa menunduk, pipi panas, dan hati terasa seperti diremas dari dalam.
Dia pergi setelah mengambil semua uang yang tersisa di dompetku.

Aku duduk di lantai cukup lama setelahnya. Tidak menangis. Hanya diam. Rasanya seperti... patah. Tapi sudah terlalu sering patah sampai tak tahu lagi bagian mana yang harus diratapi.

Esoknya, aku datang ke kantor seperti biasa. Memakai masker untuk menutupi pipi yang lebam. Tidak ada yang bertanya. Semua terlalu sibuk dengan tenggat kerjaan dan kopi mereka. Kecuali Reyhan.

"Sedang sakit?" tanyanya pelan. Aku terdiam saat melihat pria itu menghampiriku. Mungkin karena tidak biasa melihatku memakai masker jadi Reyhan bertanya keadaanku.

Aku tersenyum, mencoba terdengar biasa. "Hanya flu ringan."

Dia diam sebentar, seolah ingin bilang lebih. Tapi akhirnya hanya mengangguk dan berlalu.

OneshootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang