Happy reading..
***
Mereka menikah bukan karena cinta.
Alana dan Ravan.
Alana --- Putri dari keluarga terpandang yang dijodohkan dengan putra salah satu pengusaha paling berpengaruh. Dunia mereka tampak sempurna dari luar-gaun mahal, pesta megah, rumah besar. Namun di dalamnya, hanya kesunyinya dan formalitas. Alana mencintai pria itu, mencintai dalam diam dan tidak ingin membuat pria itu terganggu dengan perasaannya.
Dan Ravan? Ia diam. Dingin. Tidak pernah menyakiti Alana, hanya bersikap acuh. Bagi Ravan, pernikahan ini adalah bentuk tanggung jawab, bukan perasaan. Ia sibuk, selalu pulang larut malam, dan menatap Alana hanya sebagai seorang istri secara teknis, bukan sebagai perempuan yang ia lihat dengan cinta.
Namun, Alana tetap bertahan. Meski tidak mudah tapi Ravan telah menyelamatkannya dari sesuatu yang disebut rumah.
Semua karena sosok ibu tiri Alana. Perempuan yang dinikahi oleh ayahnya, tepat sebulan setelah kematian sang Ibunda. Dulu Alana kecil tidak mengerti pembicaraan orang dewasa yang mengatakan bahwa dirinya masih membutuhkan sosok ibu.
Sehingga, Ayahnya pun menikahi perempuan yang merupakan teman sang Ibunda yang kini menjadi Ibu Tirinya.
Sang Ibu Tiri diam-diam melakukan kekerasan-bukan hanya dengan kata-kata yang tajam, tapi juga fisik. Sejak kecil, Alana terbiasa menerima luka dalam diam. Tak pernah ada yang tahu, dan ia tak pernah mengadu. Bahkan pada suaminya.
Sampai suatu hari, luka itu mulai terlihat.
Ravan baru pulang tengah malam, lalu mendapati Alana sedang membersihkan pecahan kaca, pelipisnya berdarah. Saat ditanya Alana hanya mengatakan, "Aku terpeleset."
Ravan segera memanggil dokter keluarga untuk merawat luka perempuan yang menjadi istrinya itu. Ravan pun percaya pada perkataan perempuan itu kalau lukanya akibat terpeleset.
Lalu kejadian serupa pun terulang, kali ini Ravan tidak sengaja melihat bagian bahu Alana -- saat perempuan itu menunduk -- membiru. Saat ditanya, perempuan itu berkata tidak sengaja tertimpa barang saat sedang mengambil barang ditempat tinggi.
Ravan mulai curiga namun pria itu memilih diam. Sebab sejak awal mereka berdua hanyalah dua orang yang disatukan dalam pernikahan politik.
Untuk membuktikan rasa kecurigaannya sejak saat itu, sikap Ravan berubah sedikit demi sedikit.
Ia mulai pulang lebih awal.
Menyediakan waktu di meja makan. Sesekali menatap Alana lebih lama, seolah sedang mencari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Alana bingung-mereka terbiasa berjaga jarak, bicara seperlunya saja, jadi saat pria ini mulai mendekat mau tidak mau membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Ravan sendiri mengawasi tubuh perempuan itu, melihat apakah kali ini ada luka lagi? Benar saja, disisi kanan lengan perempuan itu - yang sengaja ditutupi dengan bedak - terdapat baret memanjang, tapi mata tajam Ravan bisa melihatnya.
Ravan yakin jika Ia bertanya, perempuan itu akan menjawab seperti yang sudah - sudah. Jadi Ravan akan memilih diam dan mengawasi lagi.
Sampai suatu malam hujan, ketika Ravan sengaja pulang lebih awal dari perjalanan dinasnya yang seharusnya 3 hari, matanya melihat langsung ibu tiri Alana sedang mencoba memukul perempuan itu dengan vas.
Ravan refleks bergerak cepat, ia menahan tangan ibu Mertuanya, matanya memandang penuh amarah.
"Apa yang anda lakukan!"
"Ra-Ravan... kau su-sudah kembali?" Bisa Ravan lihat raut sang Mertua yang memucat. Seolah kedatangan Ravan diluar ekpetasi perempuan itu.
Ravan mengabaikan sang Mertua dan menatap sang Istri yang terduduk dilantai. Kondisi perempuan itu tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Rambut acak-acakan, pipi memerah, baju awutan. Melihat kondisi perempuan itu, sesuatu dalam diri Ravan ingin meledak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Oneshoot
Historia Corta🌟 1 oneshoot 3/6/2021 🌟 5 pacar 2/7/2021 🌟 9 married 17/7/2021 🌟 2 relationship 2/8/2021 🌟 2 Shortstory 3/4/2022 🌟 2 Mine 7/4/2022 Kumpulan oneshoot/Twoshoot Yang bikin Baper dan Romantis Penasaran? langsung Baca aja ya. 18+
