21

446 24 0
                                        

Bukan Arga namanya kalau cepat menyerah. Ia bertekad untuk berkata jujur pada Galih. Pulang sekolah nanti ia akan langsung menarik Galih. Matanya menatap tajam punggung Galih sampai yang punya merasakan tatapan itu.

Masa bodoh dengan perkataan Kevin. Jika hubungan pertemanan mereka hanya sebatas 'preferensi seksual', Kevin bukan teman yang tepat untuknya.

Setelah pertengkaran yang awkward tadi, Kevin bertukar posisi duduk dengan Hima. Hima, yang baru saja selesai dispensasi mengurus pertandingan olahraga yang diadakan besok, dibuat cengo saat Kevin mendatanginya dan minta untuk bertukar tempat duduk. Apalagi Kevin datang dengan sudut bibir yang koyak.

"Ga, kau beneran berantem sama Kevin?" tanya Hima hati-hati.

Arga berdecak, "Gausah sebut namanya. Tabu!"

Hima menggeleng pelan, "Kalian temenan dari... dari kapan? Udah lama banget, 'kan? Sayang banget ga sih?"

Arga meneguk ludahnya lamat. Hima benar sekali. Bahkan di titik terendahnya, Kevin yang menemaninya. Jauh sebelum ada Chio pun, Arga sudah menjadikan Kevin tempatnya bercerita. Walaupun awal perkenalan mereka dimulai karena Kevin memiliki rambut merah menyala, jadi mereka sama-sama dihukum dan lama-lama mengalami suka duka bersama.

Kevin temannya yang... cukup berharga.

"Jangan sama-sama keras, Ga. Masalah ga akan ada yang selesai selesai kalau gitu," saran Hima menyadari Arga termenung cukup lama.

Arga mengepalkan tangannya, "Merak hutan itu duluan bjir!" protes Arga. Keningnya mengernyit dalam, emosinya kembali mengambil alih. Ia menekan pelipis kepalanya, mencoba meredakan rasa pusing di kepalanya, "masalahku juga lagi banyak, Him. Aku harus nyelesaikan satu masalah ini dulu, trus baru bisa fokus sama si pokemon tai tu," makinya masih emosi terhadap fakta yang diungkapkan Kevin.

"Oke, oke, santai! Tapi jangan dilama-lamain, nanti masalahnya jadi basi."

Arga mengangguk. Ia ingin bercanda menanggapi Hima, hanya saja mood-nya sedang jatuh di titik kerak bumi, "Thanks, Him."

Lonceng sekolah penanda sekolah telah usai berbunyi kencang. Guru telah keluar dari kelas dan para murid sudah menyusun bukunya ke dalam laci dan berjalan ke loker belakang. Arga kembali berfokus dan menatap tajam ke arah Galih.

Saat ia melewati Arga, tangan Arga menahannya untuk bergerak, "Ini bukunya letakin sini aja dulu. Kita harus bicara."

Galih mengernyit dalam dan kemudian menghela nafas, "Oke."

Jantung Arga bertalu dengan kencang mendengar persetujuan Galih. Ia menarik tangan Galih dan membawanya ke tangga menuju rooftop sekolah. Biasanya, tidak ada orang disana saat pulang sekolah.

Saat mereka sampai, Arga sempat menunduk, mengintip sedikit ke arah tangga di bawah, memastikan tidak ada orang di sekitar. Begitu ia yakin aman, irisnya kembali berfokus penuh pada Galih.

"Oke aku akan jujur. Aku udah berpikir panjang soal ini, tadi pagi aku harusnya mengatakan hal ini dan semuanya itu buyar karena kau bilang kau tidak menyukaiku lagi. Aku menyukaimu." Ungkapnya dalam satu tarikan nafas.

Galih tercekat, "Kau apa?"

Arga berdecak lalu menutup matanya, "Aish... aku menyukaimu Galih."

Galih menggeleng pelan, ia tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya Arga. "Enggak, kau ga suka padaku. Itu ga mungkin?"

Arga membuka mata lebar, "Kenapa ga mungkin?!" tandasnya tidak senang.

"Ya, ya karena, karena kau ga suka laki-laki," balas Galih.

I LIKE YOU? 2 [ BL ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang