18

494 28 2
                                        

Selimut berwarna abu tua yang menyelimuti tubuh Arga semalaman perlahan jatuh ke lantai. Merasa dingin, lelaki itu terbangun, matanya mengerjap lambat.

"Aaaggghhh..." Tubuhnya mengulet nikmat dan perlahan ia bangkit dari rebahnya.

Semalaman isi kepala dan hatinya bertarung. Kepala menyuruhnya untuk menekan perasaan tidak normal di hatinya sedangkan hatinya menginginkan Galih untuk berada di sisinya sekarang.

Galih semalam berjanji akan menunggu selama satu jam, tapi Arga bahkan tidak berani memanggil Galih masuk.

Ia membayangkan perlakuan jahat yang ia lakukan kepada Galih. Fakta bahwa Galih tidak membencinya saja merupakan hal yang paling ia syukuri, namun kemudian meminta Galih untuk bersama dengan dia?

Gila dan sangat egois.

"Haaa... dan aku masih berharap dia menyukaiku? Dasar otak udang!" makinya pada dirinya sendiri.

Tangannya secara otomatis mengambil ponsel yang ada di samping bantalnya. Bilah notifikasi pada ponselnya menunjukkan pukul 9 dan hanya ada satu nama yang mengiriminya pesan.

Cindy.

Jarinya membuka aplikasi pesan dan mengetuk ruang chat Galih. Mengabaikan pesan dari Cindy yang tak sengaja ia buka.

Berbanding terbalik dengan ruang chat dengan Cindy yang ramai dengan balon pesan, hanya ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Galih beberapa kali disana. Itu beberapa hari lalu, saat ia mengabaikan Galih.

Tangan Arga menarik ulur layar ponselnya, seakan mengirim sinyal telepati pada Galih agar mengiriminya pesan padanya, apapun itu.

"Arga kodok! Berharap apa sama orang yang udah kau sakitin?" Lagi, ia mengutuk dirinya, namun kali ini ia juga memukul kepalanya frustasi.

Walaupun begitu, ia tetap menunggu. Setengah jam berlalu, tanda-tanda Galih menanyai kabarnya juga masih nihil.

Arga menghela nafasnya panjang dan pergi ke kamar mandi. Ia kacau sekali semalam. Remaja starboy ini bahkan tidak sempat membersihkan wajahnya, salah satu asetnya yang berharga, setelah keluar seharian di tengah hiruk pikuk kencannya semalam.

Setelah membersihkan wajahnya, mandi, dan menyiapkan sarapannya, ia kembali membuka ponselnya. Berharap setelah mengalihkan perhatiannya dan pura-pura tidak peduli, ia mendapati pesan dari Galih.

"Apa aku yang hubungin duluan?" gumamnya.

"Tapi aneh banget ga sih? Aku nanya apa coba? Bilang apa?" gerutunya sambil menyuapkan mie instan.

Ia mengetukkan jarinya yang menimbulkan ritme cepat. Mulutnya masih mengunyah mie instannya dengan lambat. Ia bergulat dengan pikirannya, fokusnya terbagi-bagi.

Tok tok!

Suara ketukan di pintu mengalihkan fokusnya kembali ke satu arah.

"Galih?"

Kakinya dengan cepat berdiri dan membuang ponselnya ke atas sofa tempat tidurnya. Setengah berlari, ia membuka pintu dengan sumringah.

"Gal-" Senyumnya pudar saat melihat seorang gadis berdiri di depan pintunya, "Cindy?" Tanyanya bingung.

Gadis itu memakai kuncir satu dan berpakaian olahraga voli lengkap. Di tangannya terdapat satu tentengan plastik putih besar.

"Kau!" Tangannya yang satu mengayun dan memukul bahu Arga kencang, "Kau menarikku dengan kuat lalu meninggalkanku semalam, tidak membalas pesanku walaupun dibaca, dan sekarang kau tak senang melihatku?!" Geramnya kesal.

Arga mengubah wajahnya menjadi senyum kembali, "C- Cindy cantik! Aku lupa membalas pesanmu, aku semalam terburu-buru melakukan sesuatu juga hahahahha..." jelasnya canggung dan tidak masuk akal, "dan aku hanya kaget sekarang karena kau datang tiba-tiba!"

Cindy mendecak kesal, "TIBA-TIBA KATAMU!"Balasnya setengah menjerit.

"Aku sudah mengabarimu tadi pagi, yang cuma kau baca dan ga bales apapun!" tangannya menyodorkan dengan kasar tentengan putih itu, "nih, aku ga ngerti masalah kalian apa, tapi Galih memohon pada Kania untuk membawakanmu makanan ini! Dia kira Kania babunya apa?" Matanya menatap kembali tentengan itu, "Arghh! Dia kira karna Kania suka padanya, dia bisa menyuruh Kania seenaknya! Dimana otaknya yang sempit itu, menyuruh Kania, seorang gadis polos, datang ke kandang buaya?!?!" Nada bicaranya naik setengah oktaf.

Indra pendengarannya mengabaikan seluruh protes Cindy dan menangkap satu nama penting, "Galih?"

"Iya. Dan lagi, aku tidak mau ikut campur sama berantem kalian yang kayak bocil ini! Aku akhirnya sadar kau mengajakku kencan ke daerah itu juga gara-gara melihat story Kania, 'kan?" Amuk Cindy.

Arga menggeleng kencang, "Enggak! Mana mungkin aku berbuat... gitu?"

Cindy memukul kusen pintu Arga dan menatapnya ganas, "Kau selesaikan urusanmu dengan Galih dan jangan libatkan aku ataupun Kania!"

Gadis itu pergi meninggalkan kamar Arga dengan hentakan kaki kesal. Arga masih terpelongo. Ia menutup pintunya pelan, "Menyeramkan..."

Arga duduk di depan meja dan membuka tentengan itu. Ada makanan manis dan beberapa pack salad buah serta beberapa botol jus buah segar.

"Wow..."

Semua ini hanyalah gestur sederhana. Namun bila datang dari Galih—orang yang paling ia sakiti—maka ini bukan lagi hal biasa. Ini adalah kemurahan hati seorang malaikat, sesuatu yang Arga tahu tak pernah pantas ia terima setelah semua perlakuannya pada Galih.

Ia kembali meraih ponselnya yang tadi ia buang sembarangan dan kembali memperhatikan nama Galih yang masih terpampang disana. Lagi, pikirannya bergelut. Antara mengatakan terima kasih, menanyakan kabarnya terlebih dahulu, menanyakan kenapa harus buah, atau meminta maaf untuk hal buruk yang ia lakukan pada Galih.

"Ah!!! Kelamaan mikir!" Jarinya dengan cepat mengetuk simbol panggilan.

Jantungnya bertalu dengan cepat. Susunan kalimat sederhana seperti halo dan apa kabar dirapal beberapa kali agar lidahnya tidak berkelit.

Nada panggil sudah berbunyi 10 kali, namun belum ada suara Galih dari arah sebaliknya.

Titt...

"Ga... ngangkat? Hhhaaaa..." Hela nafasnya panjang dan ia mengusap wajahnya pasrah.

"Aku bahkan tidak membiarkannya masuk semalam," lirihnya. Matanya menatap buah-buah di atas meja, "ini hadiah perpisahan atau gimana sih!Sekarang ia mengabaikanku juga! Good job, Arga! Now deal with your feeling ALONE!" Gerutunya makin gusar.

Haii!!!
Masih inget ga sih kalian ama kisah Arga Galih ini? Aku minta maaf banget karena sudah ngegantungin cerita ini setaun lamanya! Jinjja sorry yaaa ;')

I LIKE YOU? 2 [ BL ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang