33

432 23 0
                                        

Fast update karena seneng banget ini cerita bisa masuk peringkat 1 di bl dan tagar lainnyaa!
Akhirnya ni cerita pecah telor juga hahahahahaha (⌒0⌒)/~~
Anyway, Enjoy! xoxo
.
.
.

Pikiran Arga masih belum teralihkan dari tingkah Nakano tadi. Bagaimana Nakano tahu pasti kalau Arga akan menemui Galih dan bagaimana Nakano mengetahui nama Arga. Harusnya tidak aneh, hanya saja tetap terasa janggal bagi Arga.

Mendengar suara ramai-ramai dari seberang, Arga langsung berhenti memikirkan Nakano dan mencari keberadaan Galih.

Galih terlihat tertawa dan berbincang santai dengan salah satu anggota tim. Senyum Arga mengembang secara tak sadar, kekasihnya sangat tampan bahkan jika dilihat dari jarak sejauh ini.

"Galih!" Panggil Arga dari bangku tribun.

Galih  mendongak ke arahnya dan tersenyum tipis. Arga berlari turun dari tribun menghampiri Galih, langkahnya ringan dan melompat-lompat seperti kancil.

"Habis sama Kevin tadi?" Tanya Galih. Tangannya mengusap puncak kepala Arga dengan lembut.

"Eh? Galih ga marah lagi?" Suara Arga dibuat se-manis mungkin, nyaris manja.

Lelaki itu menggeleng santai, "Engga. Lagian, aku harusnya sadar kalau Sayang dari dulu juga emang baik aja ke semua perempuan."

Arga merapatkan badannya dan memeluk tangan Galih erat. Keduanya berjalan keluar dari gymnasium, "Tapi, aku tetap minta maaf ya. Kayaknya, emang aku yang terlalu baik sama orang lain. Kebiasaan," ucap Arga terkekeh ringan. Ia mengangkat tangannya tinggi seakan menjadi tanda janji, "lain kali ga gitu lagi kok! Aku bakal baik... dalam batas wajar!"

Melihat tingkah manis kekasihnya, tangan Galih terangkat ke pipi kekasihnya dan memberi cubitan gemas disana.

"Makasih ya udah mau minta maaf."

Senyum Galih yang penuh kehangatan menerbitkan senyum puas Arga. Ia cukup bangga dengan dirinya yang bisa membuat Galih tidak kesal lagi padanya.

Ternyata semua hanya perlu kata maaf.

"Oh ya, tadi aku ketemu sama Nakano di jalan mau kemari," celetuk Arga.

Kening Galih mengernyit mendengar nama itu mendadak muncul lagi setelah semalam disebut juga oleh adiknya, "Terus?"

"Dia nyuruh aku untuk bilang ke Galih buat bales pesan dia," jawab Arga, matanya melirik Galih sekilas, "kalian sering kirim pesan ya?"

"Jarang banget, bahasan dia juga ga penting."

Perut Arga tergelitik mendengar jawaban Galih yang terkesan tidak peduli.

"Ah ya!" ucap Arga lagi, "Sayang pernah nyeritain soal aku ke Nakano ya?"

"Engga pernah, kenapa?"

"Terus dia tau namaku darimana ya?"

Galih menggeleng ragu, "Apa aku pernah cerita ya? Ga inget."

"Bener juga, kenapa aku ga kepikiran ya?" kata Arga mengangguk yakin, "harusnya aku sadar kalau aku seterkenal itu. Sayang beruntung banget sih bisa dapetin aku." Senyum Arga songong.

Galih berpura-pura terbatuk lalu mengalihkan pandangannya, mengabaikan Arga dengan kepala besarnya.

"Ish, kau sengaja, 'kan?!" Protes Arga sambil meninju-ninju lengan Galih.

Galih tertawa puas melihat protesan Arga, "Iya ampun-ampun!" Ucapnya padahal tinju Arga sama sekali tak terasa di tangannya yang memiliki otot tebal, "aku bersyukurrrrr banget deh bisa dapetin Arga paling manis, baik, penuh kasih, seksi, dan suka menabung."

I LIKE YOU? 2 [ BL ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang