"Arga?"
Yang dipanggil menoleh dengan wajah dongo. Arga bersembunyi sedari tadi sambil memegang degup jantungnya yang sepuluh kali lipat lebih cepat daripada saat ia berdiri di podium dengan Galih. Prasangka buruk berusaha ia lempar sejauh mungkin agar menenangkan hatinya.
"Heh, malah diem!" Kania, gadis yang sejak beberapa hari lalu ia anggap sebagai saingan, berdiri di hadapannya sembari mengibaskan tangan.
"Oh iya, Hai Kania. E..." Bola matanya bergerak kesana kemari asal tidak menatap Kania, "hai lagi?" ia bahkan tak tahu kalimat apa yang ingin ia ucapkan.
Kania tersenyum tipis, "Selamat ya!" ucapnya sambil menepuk lengan Arga lalu pergi begitu saja.
Arga menatap kepergian Kania dengan wajah yang menyiratkan jutaan kebingungan.
Selamat? Selamat apa? Kenapa dia ga pergi bareng sama Galih?
"Arga?"
Dua kali terjadi, Arga kembali menoleh dengan wajah yang sama dongonya. Kali ini Galih yang berdiri di hadapannya. Begitu ia tersadar dari pikirannya,
tangan Arga mengibaskan lengan baju Galih, mencoba menghapus jejak tangan Kania dari sana.
"Kenapa?" tanya Galih bingung.
"Kalian yang kenapa?" tanya Arga balik, "aku denger, Kania confess."
"Hm," jawab Galih singkat.
"Trus?"
"Apanya? Yaudah gitu aja," jelas Galih tak mengerti maksud lelaki yang ia suka selama beberapa tahun belakangan ini.
Arga tak percaya. Adegan saling senyum itu tak mungkin cuma 'yaudah gitu aja'. Ia menarik Galih kembali ke taman belakang sekolah dan sedikit mendorong paksa Galih agar duduk di salah satu bangku yang ada disana.
Lelaki yang dikenal sebagai lelaki kerdus langsung membungkuk menyejajarkan tinggi mereka, "Jadi, kau terima apa ga? Engga, 'kan?" seloroh Arga tak sabaran.
Galih mengernyit, "Terima apaan, Arga? Dia cuma confess."
"Ya kan kau pasti ada jawaban. Jangan bilang kau terima! Terus aku gimana?!" bicara Arga mulai tergesa-gesa, jawaban Galih tak cukup memuaskan hatinya.
Galih menggenggam jemari Arga yang sudah berkeringat lembap, "Dia cuma bilang dia suka. Tapi dia ga minta jadi pacarku."
"Iya tau, jadi kau terima ata..." suara Arga memelan perlahan, "Ha?"
"Dia pokoknya udah tahu soal kita dua dari minggu lalu. Dia tahu ada yang lain dari cara kita natap satu sama lain. Terus katanya dia..." Galih menatap ke langit, mencoba mencari istilah yang diucapkan Kania. Ia tidak terlalu ingat istilah jejepangan satu ini, "Fuko? Juko? Jufoshi? Juunbi Inkai?"
"Itu PPKI, ulat nangka!" seru Arga kesal, "Jujutsu... Kaisen?" sambungnya lalu mengulum senyum.
"Itu Anime!" balas Galih sambil terkekeh, "itulah pokoknya, kayak Fujoshi atau apa gitu aku lupa. Pokoknya istilah untuk perempuan yang suka lihat cerita homo gitu." jelas Galih.
"Jadi, dia suka cowo homo?" tanya Arga tak mengerti, "Tapi kau kan homo, brarti pas dong dia suka samamu."
Galih frustasi mendengar kesalahan berpikir Arga. Walaupun begitu, ia bahkan menyukai wajah oon Arga. Benar kata Kevin, lelaki kerdus ini kayaknya beneran pakai pelet.
Galih memutuskan menarik lengan Arga agar duduk di sampingnya, "Jadi, tadi gini ceritanya...
Kania langsung menarik Galih yang sedang berkeliling sendirian, sedikit paksa karena Galih agak menahan langkahnya. Lelaki berambut ikal itu memutuskan berpisah dari kawanannya, dengan tujuan mencari Arga yang tidak kunjung kembali setelah diseret oleh Kevin.
KAMU SEDANG MEMBACA
I LIKE YOU? 2 [ BL ]
Fiksi Umum[ON-GOING] [YAOI] Apa jadinya kalau seseorang yang selama ini nggak pernah terlihat mikirin hal-hal romantis, tiba-tiba bilang kalau dia menyukaimu? Arga dan Galih, siswa yang kebetulan satu geng, memiliki dunia yang nyaris berlawanan. Arga, yang se...
![I LIKE YOU? 2 [ BL ]](https://img.wattpad.com/cover/368020125-64-k839859.jpg)