kepalaku sedang overflowing with idea dan aku mutusin buat ngupload lagi. Tapi, sbenernya aku niat juga gara-gara ada yang rajin vote dan juga komen di wall aku hehehehe <3 Rajin-rajin yaaa biar aku merasa terapresiasi (ゝω・´★)
anyway, enjoy! xoxo
.
.
.
.
.
Nafas Arga memburu, air yang tadi menggenang di pelupuk matanya sudah meleleh jatuh membasahi kerah seragamnya. Perasaan di dalam dirinya entah mengapa terpancing ketika melihat Galih yang mendadak bersikap tidak peduli padanya.
"Kalau kau ada masalah samaku, ngomong!" pekik Arga, "aku ga akan ngerti kalau kau diam, Galih!" Tangis Arga makin pecah.
Melihat air mata Arga beneran tumpah, Galih tergagap dan mendekat ke arahnya. Hatinya bahkan makin terasa sesak melihat Arga menangis, lagi dan lagi karena dirinya.
"Arga, aku- aku minta maaf. Kumohon, jangan nangis lagi," pinta Galih. Ia berlutut, menyejajarkan dirinya dengan Arga. Tangannya meraih tangan Arga mencoba untuk meredakan tangisnya.
Tangan Galih mengusap jejak air mata pada pipi Arga. Memanfaatkan hal itu, Arga segera menduselkan pipinya pada tangan Galih.
"Kau marah kenapa?" tanya Arga masih sesenggukan, tenggorokannya terasa dicekik kuat oleh tangisnya.
"Kita ke kostmu dulu, ya? Kakimu sakit? Aku gendong ya?" tanya Galih khawatir. Ia lemah terhadap Arga. Lelaki ini pikir, ia cukup kuat untuk tetap mengabaikan kekasihnya.
Arga yang tadinya bersandiwara akan kakinya yang sakit, hampir tertawa melihat wajah serius Galih. Alis tebalnya mengernyit dalam, matanya menghangat, dan bibirnya entah mengapa bergetar.
Namun, ia tetap harus di jalur yang ia pilih, ia harus konsisten. Lelaki penuh drama itu menunduk dan mengangguk pelan. Untuk saat ini, satu kata keluar dari mulutnya dapat memancing tawa, mengacaukan sandiwaranya.
Jadi, ia memilih untuk diam.
Tahan bibirmu, Arga!
Galih melepaskan tas Arga, "Ini, aku pegang dulu ya." Tas Arga ia tautkan pada punggungnya yang bebas dari beban tas badminton.
Tangan Galih menyelip di bawah lutut Arga dengan sangat hati-hati, takut menyentuh bagian yang sakit. Dengan gerakan yang mantap, ia mengangkat Arga dalam dekapannya.
Tawa Arga hampir pecah, sudah diujung lidah.
Ia menutup wajahnya yang terasa panas, ketat sekali menahan tawa, "Galih-" Suara Arga bergetar, goyah karena tawanya.
"Kenapa wajahmu merah banget? Sakit banget ya?" tanya Galih makin panik. Jalannya semakin dipercepat.
"Jalan aja. Cepetan," suruh Arga dengan sisa usahanya menahan tawa.
"Hm, sebentar ya, Sayang," suara Galih menyiratkan rasa panik. Ini semua terlalu manis bagi Arga, ia tak tega tapi sudah kepalang jauh ia bersandiwara.
Jika ia jujur sekarang, bisa-bisa Galih akan semakin marah dan tak menggubris Arga lagi. Bibirnya ia gigit sekuat tenaga sambil memejamkan matanya, tak ingin melihat wajah Galih yang kalut.
"Jangan gigit bibirnya, nanti berdarah. Dikit lagi kita tiba kok," perintah Galih lembut. Ia menaikkan Arga sedikit lebih tinggi, "pegangan di leherku, nanti kau jatuh."
Galih terlalu khawatir, seakan nyawa Arga berada di ujung tanduk.
Arga mengibaskan tangannya dan menggeleng, "Engga... pfftt!" Tawa Arga menyembur tertahan.
"Loh, kok ketawa?" tanya Galih bingung.
"Gapapa. Udah, jalan aja!" perintah lelaki penuh drama ini masih berusaha tetap pada sandiwaranya. Padahal bahunya sudah ikut bergetar menahan tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
I LIKE YOU? 2 [ BL ]
Romance[ON-GOING] [YAOI] Apa jadinya kalau seseorang yang selama ini nggak pernah terlihat mikirin hal-hal romantis, tiba-tiba bilang kalau dia menyukaimu? Arga dan Galih, siswa yang kebetulan satu geng, memiliki dunia yang nyaris berlawanan. Arga, yang se...
![I LIKE YOU? 2 [ BL ]](https://img.wattpad.com/cover/368020125-64-k839859.jpg)