19

439 22 0
                                        

Bersandar pada tiang halte bus, Arga berniat menunggu kedatangan Galih. Dari yang ia ingat, Galih biasany tiba di sekolah menggunakan transportasi umum.

Masih sedikit murid yang turun di perhentian halte bus terdekat di sekolahnya ini. Pasalnya, masih ada dua jam lagi sebelum sekolah benar-benar dimulai.

Ia menunggu pagi-pagi sekali, karena ia bahkan tidak tahu pukul berapa biasa Galih sampai di sekolah. Ia tidak pernah memperhatikannya.

Sejak dua hari lalu, Galih tidak menghubunginya kembali. Sama sekali tidak. Arga mencoba menghubunginya lagi beberapa kali, namun Galih tidak menjawab sama sekali. Bahkan tidak membaca pesan yang ia kirim.

'hai, Galih :)' isi pesannya.

Ia tidak tahu harus berkata apa lagi selain sapaan itu. Bahkan emoji itu ia putuskan setelah 20 menit menimang apakah perlu memakai emoji atau tidak.

Arga menunggu hampir satu jam, sampai ia melihat siluet Galih yang berdiri di pintu keluar bus. Bukannya mendekat ke pintu keluar bus, ia lari bersembunyi ke belakang halte dengan nafas memburu.

"Gimana ini? Bilang apa? Apa yang harus aku katakan pertama? Aaaaaa!!!" pekiknya tanpa suara dengan frustasi.

Arga mengintip dan melihat Galih sudah berjalan meninggalkan halte. Ia mengikuti dari belakang dengan memegang tali tasnya erat-erat. Menjaga jarak aman, 10 langkah di belakang Galih.

Pikirannya berkecamuk memikirkan bagaimana cara paling natural untuk menghampiri Galih.

Dari belakang, mata Arga menyusuri badan Galih. Ia semakin ragu dengan perasaannya. Ada debaran di jantungnya, tapi ia tidak mengenal debaran itu. Seingatnya debaran jatuh cinta tidak seperti ini. Pada perempuan yang sudah dilabeli sebagai mantannya, tidak pernah ada debaran yang begini.

Apa ini perasaan bersalah?

Sudah dua hari ia memikirkan perasaannya. Ia sepertinya menyukai Galih, tapi bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau ini cuma perasaan menggebu-gebu yang ternyata bukan cinta? gimana kalau...

Benter... kenapa aku ribet sendiri? Aku ga pernah peduli sama hal-hal beginian?!

Arga tidak pernah berpikir terlalu dalam soal perasaannya. Jadi, kenapa ia berpikir terlalu keras tentang perasaannya pada Galih?

"Galih!" panggilnya kencang. Ia berlari menghampiri Galih.

Galih menoleh dan melihat Arga berlari ke arahnya, "Oh, engg, A- Arga? Hai?" sapanya kaku.

Arga tersenyum senang, "Pagi!"

"En, iya. Pagi, Arga!" Galih menjawab masih dengan kaku karena tiba-tiba Arga berjalan bersamanya ke sekolah.

"Kenapa pesanku ga dibalas? Kau juga ga angkat telponku!" gerutu Arga berusaha senatural mungkin. Walaupun degup jantungnya kencang sekali.

Galih salah tingkah, "Pesan? Oh, aku kayaknya ga pegang hp pas akhir pekan."

Arga menoleh ke arah Galih, "Kayaknya?" tanya Arga. Wajahnya dipenuhi rasa jahil.

Galih menggeleng dan mengibaskan tangannya bolak balik secara cepat, "Eh, maksudku aku ga pegang hp kemarin itu. S- soalnya kan, emm ... aku, ... kemarin kan ... sibuk latihan. Jadi gara-gara itu."

Arga mengangguk mengerti.

"Ah ya, ini masi jam segini. Kau ada waktu ga sekarang? Aku mau bicara," ungkap Arga.

Galih menahan nafasnya dan menghentikan langkahnya. Ia baru berani menatap Arga, "Soal?"

"Tanyanya nanti aja, intinya ada waktu ga?"

Galih mengangguk pelan.

Arga tersenyum lebar, tapi seperti robot kakunya, "Bicara di gymnasium enak kali ya?"

Lagi, Galih menyetujui usulnya. Arga berjalan di depan, sedangkan Galih mengekor di belakangnya. Jantung Galih berdegup jauh lebih kencang membayangkan apa yang ingin Arga bicarakan. Dia bahkan belum minta maaf karena sudah mencium Arga sembarangan.

"Arga, aku mau minta maaf soal yang kem-" ucap Galih tak sabar.

Arga tidak menoleh, ia mengibaskan tangannya, "Sabar dikit, ngomongnya nanti aja. dikit lagi nyampe kok!"

Galih mengatupkan mulutnya. Jantungnya semakin cepat dan semua skenario terburuk tentang apa yang bakalan Arga katakan bermain di kepalanya. Semua, sekaligus.

Mereka masuk ke Gymnasium yang kosong melompong. Arga mencari posisi duduk di tribun paling atas. Begitu Arga duduk, Galih ikutan duduk. Namun, ia memberi jarak satu bangku di antara mereka.

"Really?" tanggap Arga tidak senang.

Arga berpindah ke samping Galih. Namun, Galih ikutan bergeser, menyisakan satu bangku penonton di antara mereka.

"Galih!" rengus Arga tidak senang dengan kelakuan Galih.

Belum sempat Arga berpindah lagi, Galih menarik napasnya, "Arga, aku minta maaf karena menciummu sembarangan kemarin," ungkapnya yang membuat Arga jadi mengurungkan niatnya untuk mendekat, "aku mencium dan menggrepemu. Itu bener-bener kesalahan yang bodoh banget. Aku udah kepedean duluan dan berakhir membuatmu trauma. Aku mengerti perasaanmu," terang Galih sambil tersenyum pahit.

Arga mengernyit, berpikir kemana arah percakapan Galih, "Tapi aku bukan mau bahas it-"

"Aku bahkan ga peduli perasaanmu setelah mengalami itu dan terus berusaha menghampirimu," potong Galih cepat, "Aku yakin kau pasti jijik sekali. Wajar, itu wajar. Jika aku di posisimu pun aku akan merasa dilecehkan. Apalagi hal begituan ga normal antara temen dan sama-sama laki-laki juga, 'kan?" Galih terkekeh ringan.

"Gal?" panggil Arga cemas.

Galih menggaruk pelipisnya yang sudah mengeluarkan keringat sebutiran jagung, "Tapi, aku janji ga akan muncul lagi di hadapanmu. Eh tapi sulit sih, kita satu kelas soalnya," Galih menggeleng, "mungkin kita bakal jumpa, tapi aku bakal keep a safe distance dan seriusan aku juga udah menyelesaikan perasaan ini, jadi ya clear!"

"Maksudnya?" Jantung Arga berdebar setiap kepalanya mencerna perlahan perkataan Galih.

"Aku udah buang perasaanku padamu. So, totally clear! Kau ga perlu takut aku menyukaimu atau ada 'gay' yang menciummu sembarangan. Aku janji!" Jelasnya sambil mengangkat tangan tanda janji di hadapan Arga.

Arga melongo. Ia terpaku dengan pernyataan Galih yang tidak pernah ia duga.

"Jadi, kau mau ngomong apa denganku?" tanya Galih, melontarkan senyum tipisnya.

"Aku..." Kepalanya blank. Semua pikirannya terfokus mutlak pada pernyataan 'Aku udah buang semua perasaanku padamu'-nya Galih. Ia menatap Galih dan mengangguk sangat perlahan, "memaafkanmu. Aku memaafkanmu."

Galih menghela nafasnya lega. Ia tersenyum lebar, "Thanks," sorot matanya menyendu, "and sorry, Arga."

It's over. My first love is over, though it never had the chance to start, batin Galih pahit.

Arga ngomong plis NGOMONG MALAH BENGONG! BILANG KAU SUKAAA ARGHH (ノ`Д´)ノ彡┻━┻
Maaf, sdikit emosi karna gemes :')
Anw, dont forget leave a trace yaa! xoxo

I LIKE YOU? 2 [ BL ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang