20

467 21 0
                                        

Kevin sudah genah dengan tingkah laku Arga. Sejak tadi pagi, Arga mengabaikannya, kalau dikacangin soal gim maka Kevin tidak terlalu peduli. Tapi, menolak pesona Mama Amanda Zahra adalah hal yang tabu.

"Arga! Kau kenapa? Sakit? Demam? Amnesia? Ambeien?" tanyanya penuh dengan keluh.

Arga yang ditanya hanya menggeleng ringan. Wajahnya tidak terlihat berseri seperti biasanya. Ia baru saja mengalami tragedi na'as di dalam hidupnya.

Setelah tragedi Galih mengakui sudah membuang perasaannya tadi pagi, tragedi lainnya terjadi.

Bel istirahat berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu, bersamaan dengan itu hampir seluruh murid bangkit dari kursinya untuk pergi makan siang, termasuk Galih.

Lelaki dengan ikal hitam itu berjalan melaluinya sambil tertawa jenaka dengan Yuzo. Arga memperhatikan wajah Galih, namun netra Galih bahkan tidak menangkap bayangan Arga.

Arga menoleh ke belakang, dan Galih bahkan tidak memperhatikannya diam-diam. Ia hanya sibuk memasukkan sesuatu ke loker dan kemudian berjalan keluar kelas bersama Yuzo.

Galih yang biasanya memandang Arga sambil tersenyum tipis, sudah hilang.

Galih yang biasa nawarin dia beli jajan, juga hilang.

Arga pusing setengah mampus. Perasaannya sudah diujung lidahnya dan tinggal diungkapin, namun dia memilih untuk berkata, 'aku memaafkanmu'.

"Jangan bilang kau berubah jadi gay?" Tuduh Kevin.

Arga mendengar tuduhan itu langsung menggebrak mejanya, "Mana mungkin aku gay! Najis!" pekiknya.

Seluruh kelas yang tadinya dipenuhi suara para murid yang sedang istirahat, menjadi hening. Arga terdiam, ia tersadar dan memperhatikan sekelilingnya.

Ah...

Matanya jatuh pada Galih yang berdiri di pintu masuk kelas dengan beberapa roti di tangan. Sorot mata mereka bertemu, namun Galih memutus kontak mata mereka dan langsung berjalan masuk.

Arga mengutuk mulutnya yang asal bicara dan mengutuk semesta, kenapa semua terjadi di waktu yang bersamaan?!

"O-okey santai! Akhirnya kau bersuara!" ucap Kevin penuh syukur, "kau sih, bisa-bisanya nolak pesona Mama Manda! Sehomo apapun manusia, Mama Zahra ga mungkin ga buat ngaceng."

Demi apapun, Arga ingin sekali memasukkan kepalan tangannya ke rongga mulut Kevin dan menarik anak lidahnya agar ia tidak asal ngomong. Namun Arga hanya memilih untuk menatap Kevin tajam, "Ish, berisik!"

Ada hal lain yang perlu ia selesaikan. Arga berjalan menghampiri Galih, "Gal, aku mau bicara!" nada suaranya naik, terdenger seperti perintah.

Galih dan Yuzo yang sudah duduk di bangkunya langsung menoleh. Yuzo menatap keduanya bergantian dengan wajah cengo.

"Kalian berantem?"

Galih menggeleng, "Engga, berantem soal apa coba?" jawabnya pada Yuzo. Ia kembali menatap Arga, "bicara apa?"

"Jangan disini, tapi bicara diluar." Arga terdengar tidak tenang dari cara bicaranya.

Pintu kelas terbuka lebar dan disana berdiri ketua kelas dan wakilnya, "Ya! Duduk semua duduk! Kita bagi baju untuk pertandingan olahraga besok!"

Galih tersenyum tipis, "Nanti. Lagi mau bagi baju."

Kalimat Galih yang sangat singkat itu membuat Arga mengernyitkan kening dalam. Ia tersadar lagi dengan fakta, bahwa Galih benar-benar sudah membuang perasaannya. Arga memalingkan wajahnya dan kembali duduk di samping Kevin.

I LIKE YOU? 2 [ BL ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang