Chapter 2 Kebahagiaan

6 0 0
                                        

Entah bagaimana bisa, Dartania yang dikelilingi oleh gurun pasir yang jarang menerima hujan dalam beberapa periode tiba-tiba saja kedatangan hujan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Entah bagaimana bisa, Dartania yang dikelilingi oleh gurun pasir yang jarang menerima hujan dalam beberapa periode tiba-tiba saja kedatangan hujan. Meski begitu, tak ada satupun dari para peziarah bergerak untuk berteduh. Makam para korban tambang, musuh dan bahkan Assassin Dartania termasuk Elijah. Mereka semua datang untuk mendoakan mereka, Dartania dikenal dengan para penduduknya yang masih sangat religius.

Para Assassin Dartania seluruhnya mengenakan pakaian serba putih termasuk Sultan Umar. Seorang Syekh tertua dari Dartania mengucapkan beberapa kata yang diselingi dengan doa. Lantas hujan berperan sebagai alibi dari air mata mereka yang jatuh seolah-olah menutupi betapa rapuhnya seluruh Dartania saat ini. Dibalik kesedihan akan kehilangan, ada sepercik kebahagiaan yang datang pada mereka yaitu kebebasan.

Merasa waktunya sudah cukup, Ken pergi meninggalkan pemakaman diam-diam tanpa ada yang mengetahui. Ken berjalan melewati beberapa rumah warga yang mulai dalam tahap renovasi namun terhambat karena mereka harus menghadiri pemakaman. Langkahnya terhenti di depan gerbang Rashoumon, seketika dia teringat dengan bocah cerdas itu, Aziz.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kematian adalah misteri terbesar yang pernah Tuhan buat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kematian adalah misteri terbesar yang pernah Tuhan buat. Kata orang itu adalah takdir Tuhan, lantas bagaimana bisa manusia dengan kejamnya membunuh manusia lain. Apa itu takdir yang Tuhan buat juga?" Ken berjalan menuju reruntuhan tempat Aziz dan dirinya berbicara.

"Tetapi, aku rasa kehidupan juga tak jauh berbeda dengan kematian. Seperti apa kehidupan yang sebenarnya itu? Apa mereka yang punya banyak uang? Apa mereka yang memiliki keluarga? Apa mereka yang memiliki kekasih? Atau mereka yang berkuasa?" Seluruh pertanyaan itu terngiang dipikiran Ken sampai dia berjalan kembali menuju dinding runtuhan yang berisi coretan anak-anak Dartania.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Distopia [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang