SY ; Twenty Six

745 33 5
                                        

SAVE YOU

Genre : Dark Romance, Adult.

Rating : 18+

⚠️Blood scene, gore and harsh words⚠️

⚠️Saya tidak akan lelah mengingatkan kalian untuk vote dan komen karena itu memberi semangat pada Author.
Typo? Tandai⚠️

⚠️Terdapat kata-kata kasar dan adegan berdarah. Bijaklah dalam memilih bacaan⚠️

Happy reading!!!

~♤~

"DI MANA JALANG ITU?!"

Teriak seorang wanita mampu mengalihkan atensi mereka ke arah pintu. Di sana Nala berdiri dengan amarah yang menggebu-gebu. Di belakangnya, Syam berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi. Seperti itulah pria itu menunjukkan rasa amarahnya.

Semua mata tertuju pada dua orang yang baru saja masuk itu. Tak ada yang bergeming karena semuanya terkejut atas kehadiran mereka.

Nala membawa langkahnya mendekati kedua wanita itu yang terikat di kursi. Berlianna masih memejamkan matanya. Entah kapan ia akan sadarkan diri atau mungkin wanita itu sudah kehilangan nyawanya? Tapi tidak, Berlianna masih bernapas meski sedikit.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Jasmine sampai wajah wanita itu tertoreh ke samping.

"Kau harus membayar kematian anakku!" teriak Nala tepat di depan wajah Jasmine, seolah ia mencoba meluapkan amarah yang selama ini dirinya pendam.

Jasmine melirik wanita itu dengan sinis. Giginya menggertak tanda bahwa ia tidak terima dengan perlakuan Nala padanya.

"Kau harus mati! Kau tak pantas hidup di atas kematian anakku!"

"Mungkin kau yang harus mati ..." Jasmine berkata dengan suaranya yang lemah.

Plak!

Satu tampar kembali mendarat, sehingga Jasmine terbatuk-batuk.

"Beraninya kau berkata seperti itu padaku!"

Lavender yang melihat itu sudah tak tahan lagi sehingga ia berniat mendekati Jasmine. Namun lengannya dicekal oleh Valerio.

"Diamlah, aku tidak ingin kau terkena amarah Mom."

Lavender menatap pria itu dengan permusuhan lalu menghempaskan cekalan di tangannya.

"Kau menyuruhku diam saja saat mereka tak berdaya? Aku bukan monster sepertimu."

Valerio sangat marah saat gadisnya memanggil dirinya seperti itu. Tapi Valerio tidak ingin menyakiti Lavender sehingga ia mencoba menahan amarahnya.

"Kau masih tak mengerti? Kami hanya membalaskan kematian keluarga kami."

"Dengan hal keji seperti ini? Di mana hati kalian? Kalian bukan hanya tak punya pikiran, tapi juga tak punya perasaan!"

"Kau tidak mengerti bagaimana kehilangan orang berharga dalam hidup."

Lavender terkekeh masam. "Kau berkata seperti itu seolah aku tidak pernah merasakannya. Seolah hidupku sempurna, paling bahagia di dunia. Padahal nasib kita tidak jauh berbeda."

Valerio sadar bahwa apa yang dirinya katakan tidak seharusnya ia keluarkan karena setiap orang punya nasib malangnya masing-masing.

"Tolong katakan pada Mom untuk berhenti. Aku tidak sanggup lagi melihat mereka seperti ini." Lavender menatap suaminya dengan tatapan memelas. "Jika kesalahan mereka sangat berat, maka lepaskanlah mereka. Biar aku yang menggantikannya."

SAVE YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang