SY; Thirty Seven

681 34 11
                                        

SAVE YOU

Genre : Dark Romance, Adult.

Rating : 18+

⚠️Saya tidak akan lelah mengingatkan kalian untuk vote dan komen karena itu memberi semangat pada Author.
Typo? Tandai⚠️

⚠️Terdapat kata-kata kasar, sensual, and kiss scene. Bijaklah dalam memilih bacaan⚠️

⚠️Disarankan untuk membaca secara perlahan dan tidak dibaca di siang hari, agar tidak mengganggu puasa kalian⚠️

Happy reading!!

~♤~

Hari demi hari berjalan cukup cepat, seolah ada insan yang memutar waktu dengan tak sabaran. Pun dengan musim yang ikut berganti. Kini kota München sudah terbalut oleh salju putih yang sangat mendinginkan bagi para perasa.

Sudah tiga minggu lalu dari kejadian Lavender keguguran dan hari-hari dirinya jalani dengan normal. Namun di sisi lain juga ia merasakan kehampaan. Entah apa itu. Perasaannya selalu campur aduk yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata

"Kau sudah siap, Sayang?"

Lavender yang berdiri di depan meja rias hanya mengangguk gugup. Ia tak menyangka bahwa hari ini mereka akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dan Lavender sangat gembira meski tertutup oleh kegugupan. Ditambah, melihat Valerio lewat kaca yang tengah mendekatinya, semakin membuat jantung gadis itu berdegup kencang.

"Kau selalu cantik, oh my God. Entah sudah berapa kali aku jatuh dalam pesonamu." Valerio memuji sembari melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lavender. Tatapan mereka sempat bertemu di dalam pantulan kaca, sebelum Lavender menundukkan kepalanya karena malu.

"Bisakah jangan bicara berlebihan?"

"Berlebihan? Kau bilang berlebihan? Aku bicara fakta, Sayang, kau harus tahu itu. Sejak dulu kecantikanmu tak pernah berubah dan itulah salah satu hal yang menarik dari dirimu. Kau cantik tanpa riasan yang membuatmu terlihat polos."

Lavender hanya diam karena tidak tahu harus meresponnya seperti apa. Ia tidak tahu apakah Valerio sungguh berkata fakta atau hanya membual. Meski begitu, tak dapat dipungkiri bahwa Lavender selalu merasa tersipu oleh kata-kata manisnya.

Beberapa saat, mereka hanya saling diam dan menikmati momen kebersamaan mereka. Sebenarnya Lavender masih merasa tidak nyaman jika pria itu memeluknya seperti ini karena ia belum terbiasa. Tapi untuk menghindar pun, Lavender selalu tidak bisa, seolah tubuhnya dipaku oleh pikirannya yang mengatakan bahwa Lavender tidak boleh melakukan itu.

Omong-omong, hubungan mereka perlahan sudah mulai menemukan cahaya, meski terkadang Lavender masih dihantui oleh bayangan-bayangan kematian keluarganya, bahkan dalam mimpi sekali pun. Tapi Lavender sadar bahwa ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan atau trauma itu sehingga Lavender mencoba melampiaskannya dengan melakukan banyak hal seperti belajar, membaca buku mau pun hanya berkeliling rumah—agar pikirannya buyar.

Alasan Lavender tidak melakukan balas dendam terhadap Valerio adalah karena ia sadar bahwa itu tidak akan merubah apa pun, bahkan untuk mengembalikan keluarganya. Lavender juga merasa bahwa dirinya tidak punya kuasa atau kekuatan untuk melakukan itu sehingga ia pasrah saja. Bisa saja Lavender meminta bantuan orang lain—seperti kepada Stella—tapi Lavender terlalu naif untuk melakukan semua ini. Pikiran dan hati Lavender selalu berperang sehingga dirinya selalu ragu dalam hal apa pun.

SAVE YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang