SY ; Thirty Two

837 37 5
                                        

SAVE YOU

Genre : Dark Romance, Adult.

Rating : 18+

⚠️Blood scene, gore and harsh words⚠️

⚠️Saya tidak akan lelah mengingatkan kalian untuk vote dan komen karena itu memberi semangat pada Author.
Typo? Tandai⚠️

⚠️Terdapat kata-kata kasar dan adegan berdarah. Bijaklah dalam memilih bacaan⚠️

Happy reading!!

~♤~

Kini sudah dua hari berlalu semenjak Lavender kabur ke rumah Stella dan ia merasa lega karena selama itu pula tidak ada orang yang mengejarnya, terutama Valerio. Tapi bayangan-bayangan malam itu sama sekali tak mudah untuk pergi sehingga wajah Valerio tetap terbayang-bayang dibenaknya yang membuatnya muak. Haruskan Lavender menjedorkan kepalanya ke tembok dengan keras sehingga ia bisa hilang ingatan? Sungguh, setiap detiknya Lavender merasa tidak tenang karena terus dihantui kejadian mengerikan itu.

Selama tinggal di rumah Stella, Lavender juga tidak banyak menceritakan apa yang membuatnya tidak pulang dan ia harus berbohong pada temannya itu karena Lavender merasa bahwa ia hanya akan semakin membebani Stella. Jadi sebagai penguat alasan, Lavender berbohong bahwa dirinya sedang marahan dengan Valerio karena pria itu pergi berkencan dengan wanita lain yang membuatnya cemburu.

Konyol, bukan? Tapi untungnya, Stella dapat mengerti dirinya.

Omong-omong soal kehamilannya, Lavender sudah punya tekad kuat akan menggugurkan kandungannya dengan alasan dirinya belum siap dan tidak menginginkan anak ini. Lavender tahu bahwa tindakannya salah, tapi bolehkah dirinya egois kali ini saja? Ini pun untuk kebaikan anak itu agar terhindar dari kekejaman dunia. Lavender tidak ingin anak ini merasakan rasa sakit yang sama dengan dirinya atau lebih darinya.

"Lavender, aku sudah punya solusinya."

Lavender juga meminta bantuan pada Stella bagaimana cara menggugurkan kandungannya dan gadis itu sempat menolak karena Stella tidak tahu apa-apa. Ditambah, Stella menyayangkan kandungannya karena ia sangat menyukai anak-anak. Tapi dengan bujukan Lavender akhirnya Stella mau membantunya.

"Ibuku pernah melakukannya dan kau hanya perlu memakan nanas muda," jelas Stella. "Atau kau bisa meminum pil KB darurat."

"Terima kasih, Stella, aku akan mencobanya."

Stella duduk di samping Lavender yang tengah duduk di sofa, dengan televisi menyala menayangkan berita-berita terbaru.

"Lavender, kau sungguh yakin akan melakukannya? Bagaimana dengan Valerio?"

"Aku yakin," tegas Lavender. Ia sudah lelah sebenarnya membahas tentang ini dan semakin membuatnya kalang kabut.

"Aku tahu hubunganmu dengannya sedang buruk, tapi dia masihlah suamimu dan kau perlu persetujuannya. Dan makhluk kecil ini anaknya juga." Stella berkata sambil mengelus perut rata temannya.

Lavender diam dengan jantungnya yang berdetak kencang. Stella benar, janin ini juga anak Valerio dan ia perlu meminta persetujuan dari pria itu untuk menggugurkannya. Haruskah Lavender melakukan itu? Tapi siapa peduli? Toh Valerio saja mengambil keperawanannya tanpa persetujuannya.

"Kita akan menjadi keluarga bahagia."

Perkataan Valerio kala itu terus berputar dibenaknya. Hah, tidak akan ada yang bahagia jika semuanya sudah hancur seperti ini. Berharap apa dari pernikahan bisnis gila ini, terutama dari pria gila nan keparat itu.

SAVE YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang