SY ; Eight

1.3K 80 2
                                        

Saya tidak akan lelah mengingatkan kalian yang mampir ke cerita saya untuk memberikan vote serta komen di setiap paragraf!

Btw, jika berkenan silakan kasih saya kritik dan saran agar saya bisa mengoreksi kesalahan dalam cerita saya.

⚠️Terdapat kata-kata vulgar dan tindakan tidak senonoh⚠️

Happy reading!

~•~

Flash back on.

5 bulan lalu, Manhattan.

Mobil mewah berwarna hitam melaju meninggalkan basement sebuah perusahaan terkenal sekaligus terbesar di kota tersebut dan juga perusahaan yang memiliki cabang di beberapa negara. Tulisan 'Konan Corp' terpampang jelas tepat di atas perusahaan berlantai 5 itu.

Di dalam mobil, Valerio duduk di kursi kemudi sebelah Thomas yang sedang menyetir. Setelah hari yang melelahkan dan membuatnya penat karena meeting yang ia temui tadi, akhirnya ia bisa menghela napas lega sekarang. Meski perusahaan di Manhattan miliknya ini bukan perusahaan pusat, tapi tetap saja jika ada meeting penting ia tetap harus mendatanginya. Untung saja ia tidak mempunyai jadwal di Jerman.

Menjadi pebisnis di usianya yang masih 25 tahun, ini sedikit menyulitkan dirinya, apalagi ia harus memimpin beberapa perusahaan sekaligus karena Ayah dan Kakeknya sudah menyerahkan perusahaan mereka padanya dan tidak ingin terlibat lagi dalam dunia bisnis. Mereka lebih memilih menghabiskan sisa tuanya dengan istri dan anak-anaknya atau cucunya. Sehingga Valerio-lah yang sekarang di susahkan. Sebenarnya ada 2 perusahaan yang di pimpin oleh kerabatnya yang berada di Swiss dan Skotlandia. Tapi tetap saja, Valerio-lah yang memegang kendali penuh.

"Apalagi jadwalku hari ini, Thomas?" tanya Valerio memecahkan keheningan saat mobil terus melaju. Ia berniat akan langsung pulang jadi ke Jerman karema urusannya di Manhattan sudah selesai.

"Tidak ada, Sir, tapi besok anda harus menghadiri acara pernikahan anak dari seorang investor di Berlin," jawab Thomas sopan yang fokus mengemudi.

"Siapa?"

"Tuan Albert Paulus."

Valerio hanya menganggukkan kepalanya mengerti lalu suasana kembali hening. Tapi beberapa saat kemudian Thomas kembali bersuara.

"Sir, seseorang sempat mengirim email tadi, yang berisi tentang pengajakan bekerja sama dengan Konan Corp."

Valerio mengerutkan dahinya.

"Email itu terkirim dari sebuah perusahaan bernama JF Company dan nama yang tertera di sana adalah Johny Ferderico."

"Perusahaan apa itu?"

"Perusahaan yang bergerak di bidang maskapai juga, tapi perusahaan tersebut masih merintis dan baru berdiri sejak 4 tahun lalu. Itu informasi yang dia tulis dalam email."

Valerio mengangguk lagi. "Aku akan memikirkannya terlebih dahulu."

Mobil terus melaju membelah jalanan kota Manhattan yang cukup macet di sore hari, sehingga membuat Valerio menghela napasnya gusar karena ia sudah ingin pulang kemudian istirahat. Jika macet seperti ini, itu akan memakan waktu lama untuk sampai di Jerman.

"Thomas, aku ingin mampir terlebih dahulu ke toko roti yang ada di sana. Kemacetan ini membuatku muak," kata Valerio sambil menatap toko roti di pinggir jalan.

"Baik, Sir."

Valerio keluar dari mobil sambil memakai kaca mata hitamnya kemudian berjalan menyelinap di kemacetan padatnya kendaraan-kendaran. Ia masuk ke dalam toko roti yang cukup ramai kemudian memgantri dengan sabar. Untung saja hanya ada dua orang yang mengantri di depannya sehingga ia tidak perlu memesan dengan waktu lama.

SAVE YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang